Dekan FIB Unand Hadiri Seminar 100 Tahun Jam Gadang dalam Perspektif pada IMLF 2026

Gambar 1. Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP bersama Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas sekaligus Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, S.E., M.Si.,

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP menghadiri Seminar 100 Tahun Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif yang diselenggarakan dalam rangkaian International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 Tahun 2026 di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi pada Kamis, 4 Juni 2026. Kehadiran Dekan FIB Unand didampingi oleh Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. sebagai bentuk dukungan FIB Unand terhadap upaya pelestarian sejarah, budaya, dan literasi Minangkabau di tingkat nasional maupun internasional.

Seminar tersebut merupakan salah satu agenda utama peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang diinisiasi Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan Yayasan Satu Pena Sumatera Barat melalui penyelenggaraan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4. Berdasarkan undangan resmi Pemerintah Kota Bukittinggi, seminar mengangkat tema “Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif” dan menghadirkan berbagai akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Minangkabau.

Kegiatan ini menjadi semakin istimewa karena dilaksanakan bertepatan dengan momentum satu abad Jam Gadang sebagai ikon sejarah, identitas budaya, sekaligus landmark Kota Bukittinggi. Seminar juga menjadi bagian dari rangkaian IMLF ke-4 yang berlangsung pada 3–7 Juni 2026 dengan mengusung semangat literasi, kebudayaan, dan pembelajaran lintas bangsa. IMLF tahun ini melibatkan ratusan delegasi dari berbagai negara dan menjadi salah satu forum internasional terbesar yang pernah diselenggarakan di Bukittinggi. Menurut panitia, delegasi yang hadir berasal dari puluhan negara dan mewakili kalangan akademisi, penulis, peneliti, sastrawan, seniman, mahasiswa, hingga pegiat literasi dunia.

Selain Dekan dan Manajer I FIB Unand, seminar turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas sekaligus Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, S.E., M.Si., Ketua DPRD Kota Bukittinggi, H. Syaiful Efendi, Lc., M.A.,  unsur pemerintah daerah, akademisi, budayawan, serta delegasi internasional yang mengikuti rangkaian IMLF 2026 seperti Summer Xia, ia merupakan delegasi dari Inggris yang menjabat sebagai Direktur British Council Indonesia dan South East Asia.

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP dan Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. bersama Ketua DPRD Kota Bukittinggi, H. Syaiful Efendi, Lc., M.A.

Dalam seminar tersebut, para narasumber membahas Jam Gadang dari berbagai sudut pandang, mulai dari sejarah pembangunan, identitas kota, arsitektur, kebudayaan, literasi, pariwisata, hingga perannya sebagai simbol kolektif masyarakat Bukittinggi dan Minangkabau. Diskusi juga menyoroti bagaimana sebuah bangunan bersejarah tidak hanya dipahami sebagai warisan fisik, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, pembelajaran, dan refleksi sosial lintas generasi.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menilai bahwa peringatan 100 tahun Jam Gadang merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan warisan budaya yang dimiliki. "Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu bagi Kota Bukittinggi. Ia adalah penanda perjalanan sejarah, identitas budaya, dan memori kolektif masyarakat Minangkabau. Ketika kita memperingati satu abad Jam Gadang, yang sesungguhnya kita rawat adalah kesadaran akan akar sejarah dan nilai-nilai budaya yang membentuk jati diri kita hari ini," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghubungkan warisan masa lalu dengan tantangan masa kini melalui kajian ilmiah, pendidikan, dan literasi budaya. "Budaya tidak akan bertahan hanya karena diwariskan, tetapi karena dipahami, dipelajari, dan dimaknai kembali oleh generasi penerusnya. Karena itu, forum-forum seperti ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya di tengah perubahan zaman," tambahnya.

Sementara itu, Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., menekankan pentingnya literasi budaya sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. "Literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berarti kemampuan memahami sejarah, budaya, dan lingkungan sosial tempat kita hidup. Melalui kegiatan seperti IMLF, masyarakat diajak untuk melihat kembali nilai-nilai budaya sebagai sumber pembelajaran yang relevan bagi masa depan," ujar Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum.

Tema besar IMLF 2026, yakni “Dari Literasi ke Lestari: Membangun Kesejahteraan, Perdamaian, dan Pembelajaran Tanpa Henti”, sejalan dengan komitmen FIB Unand dalam menjadikan bahasa, sejarah, dan budaya sebagai sarana pembelajaran yang berkelanjutan. Bagi FIB Unand, warisan budaya seperti Jam Gadang tidak hanya penting untuk dilestarikan, tetapi juga perlu terus dimaknai sebagai sumber pengetahuan yang memperkuat identitas bangsa sekaligus membuka ruang dialog dengan masyarakat dunia.

Melalui keikutsertaan dalam seminar tersebut, FIB Unand kembali menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pelestarian sejarah, pengembangan literasi, dan penguatan kebudayaan sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kehadiran FIB Unand dalam forum internasional seperti IMLF juga menjadi wujud nyata peran akademisi dalam menjaga relevansi warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.