Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unand Raih Juara III Lomba Esai Satgas PPK UNAND Lewat Gagasan Inovatif "Rangers Dengar"

Gambar 1. Muhammad Ridwan, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2023 raih Juara III Cabang Lomba Esai pada Lomba Satgas PPK Unand Tahun 2026

Prestasi kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Muhammad Ridwan, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2023, berhasil meraih Juara III Cabang Lomba Esai pada Lomba Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Universitas Andalas Tahun 2026. Keberhasilan tersebut diumumkan secara resmi pada 16 Juli 2026, setelah melalui proses penilaian terhadap karya peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Kompetisi yang diselenggarakan Satgas PPK Universitas Andalas mengusung tema "Berani Peduli, Bersama Wujudkan Kampus Aman Tanpa Kekerasan" sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian sivitas akademika terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Lomba berlangsung sejak 13 Mei hingga 5 Juni 2026 untuk tahap pendaftaran dan pengumpulan karya, dengan empat cabang perlombaan, yaitu video kreatif, desain poster, esai, dan cerpen. Seluruh mahasiswa di Indonesia berkesempatan mengikuti kompetisi tersebut sebagai wadah menyampaikan gagasan kreatif dalam membangun kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

Muhammad Ridwan, mahasiswa dengan NIM 2310717001, berhasil menarik perhatian dewan juri melalui esai berjudul "Rangers Dengar: Platform Digital Terintegrasi Gerakan Peer Support Berbasis Gamifikasi untuk Mengeliminasi Victim Blaming Guna Mewujudkan Lingkungan Kampus Aman Tanpa Kekerasan." Dalam tulisannya, Ridwan menawarkan sebuah inovasi berupa ekosistem digital yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pelatihan empati berbasis gamifikasi, serta jaringan relawan mahasiswa sebagai pendamping awal korban kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.

Esai tersebut berangkat dari persoalan masih tingginya budaya victim blaming yang membuat korban kekerasan enggan melapor dan memperoleh pendampingan. Menurut Ridwan, penyelesaian persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui mekanisme pelaporan formal, tetapi juga membutuhkan perubahan budaya melalui penguatan empati mahasiswa sebagai lingkungan terdekat korban.

Melalui konsep Rangers Dengar, ia merancang sebuah aplikasi yang dilengkapi fitur AI Empathy Checker, Safe Chat, Emergency Button, pelatihan skenario berbasis gamifikasi, hingga sertifikasi relawan mahasiswa yang bertugas sebagai peer supporter. Sistem tersebut dirancang agar korban memperoleh ruang aman untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi sebelum diarahkan kepada mekanisme penanganan resmi melalui Satgas PPK.

Tidak hanya menawarkan inovasi teknologi, Ridwan juga menyusun strategi implementasi yang melibatkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan melalui model pentahelix. Model tersebut menghubungkan perguruan tinggi, Satgas PPK, psikolog, organisasi kemahasiswaan, media, pemerintah, hingga mitra teknologi agar program dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Muhammad Ridwan. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Universitas Andalas tidak hanya mampu berkompetisi secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan yang memberikan solusi terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. "Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Universitas Andalas mampu menghadirkan karya ilmiah yang tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga menawarkan solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap capaian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan berkontribusi melalui pemikiran-pemikiran yang berdampak," ujar Prof. Ike Revita.

Sementara itu, Muhammad Ridwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Baginya, esai yang disusun bukan sekadar untuk mengikuti kompetisi, tetapi merupakan bentuk kepedulian terhadap pentingnya membangun budaya saling mendukung di lingkungan kampus. "Saya percaya bahwa kampus yang aman tidak hanya dibangun melalui aturan, tetapi juga melalui empati setiap warganya. Semoga gagasan Rangers Dengar dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan lingkungan akademik yang lebih inklusif, humanis, dan berpihak kepada korban," ungkap Ridwan.

Keberhasilan ini semakin menegaskan komitmen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dalam mendorong mahasiswanya untuk aktif berprestasi sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemasyarakatan melalui karya ilmiah yang inovatif. Prestasi Muhammad Ridwan diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa FIB Universitas Andalas untuk terus mengembangkan kreativitas, kepedulian sosial, serta kemampuan akademik dalam berbagai ajang kompetisi, baik di tingkat universitas maupun nasional.

Empat Belas Mahasiswa Lolos Program Fast Track FIB Unand, Siap Tempuh S-1 dan S-2 dalam Lima Tahun

Gambar 1. Mahasiswa FIB Unand mengikuti seleksi wawancara penerimaan mahasiswa S-2 FIB Unand program fast track

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas secara resmi mengumumkan hasil seleksi Program Fast Track Tahun Akademik 2026/2027 pada Senin, 27 Juli 2026. Sebanyak 14 mahasiswa dinyatakan lulus mengikuti program percepatan yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan pendidikan Sarjana (S-1) dan Magister (S-2) dalam waktu sekitar lima tahun. Program ini merupakan salah satu upaya FIB Universitas Andalas dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui percepatan jenjang pendidikan sekaligus memperkuat budaya akademik di lingkungan fakultas.

Sebelum pengumuman hasil seleksi, proses wawancara dilaksanakan pada Senin, 20 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Seleksi dilakukan secara langsung oleh masing-masing ketua program studi tujuan, didampingi Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., Wakil Dekan I FIB Universitas Andalas, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Ria Febrina, S.S., M.Hum., serta sejumlah dosen dari program studi terkait. Wawancara difokuskan pada kesiapan akademik, motivasi, komitmen, serta rencana studi mahasiswa dalam mengikuti program percepatan.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan bahwa Program Fast Track merupakan salah satu bentuk inovasi akademik yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan magister lebih awal tanpa harus menunggu kelulusan program sarjana. "Program Fast Track memberikan ruang bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik baik untuk mempercepat studi hingga jenjang magister. Kami berharap program ini dapat melahirkan lulusan yang unggul, produktif, dan siap berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun dunia profesional," ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Program Fast Track memungkinkan mahasiswa semester akhir program sarjana mengambil sejumlah mata kuliah magister yang nantinya dapat diakui sebagai bagian dari kurikulum S-2. Dengan skema tersebut, mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 dalam waktu sekitar lima tahun. Selain mempercepat masa studi, program ini juga mendorong mahasiswa untuk lebih awal terlibat dalam kegiatan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengembangan kompetensi akademik.

Selama proses wawancara, tim seleksi menggali kesiapan peserta dalam menghadapi beban akademik yang lebih tinggi, kemampuan berpikir kritis, minat penelitian, serta kesesuaian bidang keilmuan yang akan ditempuh pada jenjang magister. Aspek komitmen dan konsistensi belajar juga menjadi perhatian penting mengingat Program Fast Track menuntut kemampuan manajemen waktu dan prestasi akademik yang baik.

Wakil Dekan I FIB Universitas Andalas, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa seleksi tidak hanya mempertimbangkan nilai akademik, tetapi juga kesiapan mahasiswa menjalani proses pembelajaran yang lebih intensif. "Program ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki motivasi kuat, kemampuan akademik yang baik, dan kesiapan untuk belajar lebih intensif. Harapannya, mereka dapat menjadi generasi akademisi muda yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," ungkapnya.

Berdasarkan hasil seleksi, sebanyak 14 mahasiswa dinyatakan lolos mengikuti Program Fast Track. Tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, yaitu Sitti Ba'itsati Dzakiyah, Nisa Safitri, dan Hazari Nabila Putri, melanjutkan studi ke Program Magister Kajian Sejarah. Sementara itu, tiga mahasiswa lainnya, yakni Faathir Tora Ugraha dan Nada Aprila Kurnia dari Program Studi Sastra Indonesia, serta Husna Nisah Khairani dari Program Studi Sastra Inggris, diterima pada Program Magister Linguistik. Mahasiswa Muhamad Arif Al Musri dari Program Studi Sastra Minangkabau juga melanjutkan studi ke Program Magister Linguistik.

Adapun mahasiswa yang diterima pada Program Magister Susastra terdiri atas Sitiina Hidayah, Wira Santika, dan Sasmita Zulianti dari Program Studi Sastra Minangkabau; Ghina Rufa'uda, Khairiyanni Shagita dari Program Studi Sastra Indonesia; serta Nasyiwa Siti Nashira dan Muhammad Rasyid Ridha dari Program Studi Sastra Inggris.

Melalui Program Fast Track, FIB Universitas Andalas berharap semakin banyak mahasiswa berprestasi yang dapat mempercepat jenjang pendidikannya, menghasilkan penelitian berkualitas, serta memperkuat daya saing lulusan di tingkat nasional maupun internasional. Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen FIB Universitas Andalas dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan pendidikan tinggi.

 

FIB Unand Hadirkan Dosen dari China dan Malaysia, Kuliah Umum Bahas Peluang Beasiswa dan Karier Internasional

Gambar 1. Dosen dari China memaparkan peluang beasiswa, studi lanjut, dan karier di luar negeri

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali memperkuat atmosfer internasionalisasi kampus melalui penyelenggaraan Kuliah Umum bersama dosen luar negeri yang menghadirkan akademisi dari China dan Malaysia pada Jumat, 31 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai peluang beasiswa, studi lanjut, karier internasional, serta profesi pengajar bahasa bagi penutur asing di berbagai negara.

Kuliah umum dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A., jajaran pimpinan fakultas, dosen, organisasi kemahasiswaan, serta mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FIB Universitas Andalas.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. menegaskan bahwa internasionalisasi tidak hanya diwujudkan melalui kerja sama antarlembaga, tetapi juga melalui ruang-ruang akademik yang mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman dan perspektif global. "Kuliah umum ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi langsung dari para akademisi internasional mengenai peluang studi, beasiswa, dan pengembangan karier di tingkat global. Kami berharap kegiatan seperti ini semakin membuka wawasan serta mendorong mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin kompetitif," ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Kuliah umum menghadirkan empat narasumber dari berbagai perguruan tinggi luar negeri, yaitu Zaiton binti Zakarya dari Guangdong University of Foreign Studies, Guangzhou, China; Khairul Izzat bin Amiruddin dari Universiti Sains Malaysia (USM); Dr. Nurul Afifah Adila binti Mohd Salleh dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia; serta Ranofla Dianti binti Irwan dari Hainan College of Foreign Studies, China.

Masing-masing narasumber memaparkan berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, mulai dari informasi mengenai program beasiswa di China dan Malaysia, pengalaman studi internasional, hingga prospek berkarier sebagai pengajar bahasa bagi penutur asing. Para narasumber juga menjelaskan kompetensi yang perlu dipersiapkan mahasiswa agar mampu bersaing dalam memperoleh beasiswa maupun memasuki dunia kerja internasional, seperti penguasaan bahasa asing, kemampuan komunikasi lintas budaya, serta pengalaman organisasi dan akademik.

Selain membahas studi lanjut, para narasumber turut memperkenalkan peluang karier sebagai pengajar bahasa Indonesia maupun bahasa Melayu bagi penutur asing yang memiliki prospek semakin luas di berbagai institusi pendidikan internasional. Melalui pemaparan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kebutuhan tenaga pengajar bahasa di luar negeri sekaligus peluang membangun karier di bidang pendidikan internasional.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Mahasiswa dan dosen memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog secara langsung mengenai persyaratan memperoleh beasiswa, pengalaman hidup dan belajar di luar negeri, tantangan adaptasi budaya, hingga peluang kerja setelah menyelesaikan studi.

Salah seorang narasumber, Zaiton binti Zakarya, menekankan pentingnya keberanian mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan belajar di tingkat internasional. "Kesempatan belajar di luar negeri terbuka bagi siapa saja yang mempersiapkan diri dengan baik. Penguasaan bahasa, prestasi akademik, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal utama untuk meraih peluang tersebut," ungkapnya.

Sementara itu, Dr. Nurul Afifah Adila binti Mohd Salleh menyampaikan bahwa pengalaman internasional tidak hanya memperkaya kompetensi akademik, tetapi juga membentuk kemampuan beradaptasi dan berkolaborasi di lingkungan multikultural. "Belajar di lingkungan internasional bukan sekadar memperoleh ilmu, tetapi juga membangun jejaring global, memahami keberagaman budaya, serta mengembangkan cara berpikir yang lebih terbuka," jelasnya.

Melalui penyelenggaraan kuliah umum ini, FIB Universitas Andalas terus memperkuat komitmennya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan tinggi sekaligus membuka akses informasi bagi mahasiswa mengenai berbagai peluang akademik dan profesional di tingkat global.

Gambar 2. Foto bersama mahasiswa FIB Unand dengan pimpinan serta dosen dari China dan Malaysia

FIB Unand Sambut Mahasiswi UKM Malaysia, Perkuat Implementasi Program Magang Internasional

Gambar 1. Penyambutan Mahasiswi Magang dari UKM di Ruang Sidang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas secara resmi menyambut sepuluh mahasiswi dari Program Persuratan Melayu, Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan (FSSK), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang akan mengikuti program magang internasional selama hampir dua bulan di Sumatera Barat. Program yang berlangsung pada 27 Juli hingga 18 September 2026 ini merupakan implementasi nyata kerja sama internasional antara FIB Universitas Andalas dan Universiti Kebangsaan Malaysia melalui pelaksanaan program pertukaran pelajar internasional. Selama menjalani magang, para mahasiswa ditempatkan di tiga mitra strategis FIB Universitas Andalas, yakni Museum Adityawarman Provinsi Sumatera Barat, Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, dan Classy Media.

Penyambutan resmi dilaksanakan pada Senin, 27 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Kegiatan dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, serta dihadiri Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A., para ketua program studi, tenaga kependidikan, mahasiswa pendamping, perwakilan organisasi kemahasiswaan, serta Dhiant Asri, S.S., M.Hum. selaku Ketua MBKM FIB Universitas Andalas.

Dalam sambutannya, Prof. Ike Revita menyampaikan bahwa program magang internasional tidak hanya menjadi implementasi dari kerja sama antarinstitusi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran lintas budaya yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. "Kerja sama internasional akan memiliki makna apabila diwujudkan melalui program-program nyata. Kehadiran mahasiswa UKM di FIB Universitas Andalas merupakan kesempatan untuk saling belajar, berbagi pengalaman akademik, serta memperkuat jejaring antara perguruan tinggi dan mitra profesional di bidang budaya, media, dan pelestarian warisan," ujar Prof. Ike Revita. 

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama mahasiswi magang dari UKM

Program magang ini diikuti oleh sepuluh mahasiswi FSSK UKM yang dibagi ke dalam tiga lokasi magang sesuai bidang pembelajaran. Tiga mahasiswi ditempatkan di Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, yaitu Athirah Nur Nabihah binti Mohd Helmi (A201956), Anis Irdina binti Muhammad Fadzli (A201688), dan Nurul Aida Qistina binti Abu Bakar (A201760). Empat mahasiswi melaksanakan magang di Museum Adityawarman Provinsi Sumatera Barat, yakni Nur Zetty binti Mat Hazer (A201814), Alyssa Michelle Anak Killy (A200784), Nur Tharina binti Razali (A205408), serta Aida Sorfina binti Shahrum (A200475). Sementara itu, tiga mahasiswi lainnya ditempatkan di Classy Media, yaitu Nur Ain Husna binti Abd Hadi (A201107), Insyirah Afnan binti Ariffin (A201438), dan Nurul Irdina binti Mohamad Afizan (A201439).

Sebelum diterjunkan ke lokasi magang, FIB Universitas Andalas menyelenggarakan rangkaian pembekalan selama satu pekan. Kegiatan diawali dengan penyambutan resmi dan pengenalan Fakultas Ilmu Budaya, dilanjutkan dengan pembekalan dari narasumber Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, Museum Adityawarman, dan Classy Media mengenai profil institusi, ruang lingkup pekerjaan, budaya kerja, serta kompetensi yang diharapkan selama menjalani magang.

Selain pembekalan dari mitra magang, para mahasiswa juga diperkenalkan dengan lingkungan akademik FIB Universitas Andalas melalui sesi pengenalan Program Studi Sastra Minangkabau, Sastra Inggris, Ilmu Sejarah, Arkeologi, Sastra Jepang, dan Sastra Indonesia yang melibatkan dosen, himpunan mahasiswa, serta mahasiswa pendamping. Mereka juga mengikuti campus tour ke berbagai fasilitas kampus, seperti perpustakaan, auditorium, rektorat, dan Pusat Kegiatan Mahasiswa, sebagai bagian dari proses adaptasi terhadap lingkungan akademik Universitas Andalas.

Ketua MBKM FIB Universitas Andalas, Dhiant Asri, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa pembekalan tersebut dirancang agar mahasiswa memperoleh pemahaman yang utuh mengenai budaya kerja di masing-masing mitra sekaligus memahami karakter masyarakat dan lingkungan akademik tempat mereka akan menjalankan program magang. "Kami ingin mahasiswa tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja, memahami budaya lokal, serta membangun komunikasi yang baik selama mengikuti program magang di Sumatera Barat," ujar Ibu Dhiant Asri.

Pada akhir pekan pembekalan, mahasiswa diantarkan secara resmi ke masing-masing lokasi magang oleh pimpinan fakultas bersama dosen pendamping. Pengantaran ke Museum Adityawarman dipimpin oleh Wakil Dekan I, sedangkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat dipimpin oleh Wakil Dekan II. Sementara itu, pengantaran ke Classy Media dipimpin langsung oleh Dekan FIB Universitas Andalas.

Program magang internasional ini menjadi salah satu bentuk implementasi kerja sama FIB Universitas Andalas dengan Universiti Kebangsaan Malaysia yang melibatkan pula tiga institusi mitra FIB Universitas Andalas. Selain memberikan pengalaman belajar langsung di dunia profesional, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi internasional, memperluas wawasan lintas budaya, serta meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang kebudayaan, pelestarian warisan, dan industri media.

FIB Unand Perkuat Implementasi Program EQUITY dan Jejaring Kemitraan melalui Employer Meeting di Pekanbaru

Gambar 1. Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D. bersama Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. serta pimpinan fakultas di Universias Andalas

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas turut berpartisipasi dalam kegiatan Konsinyering EQUITY dan Employer Meeting Universitas Andalas yang diselenggarakan di Hotel Pangeran Pekanbaru pada 23–25 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis Universitas Andalas dalam mengevaluasi pelaksanaan Program EQUITY sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, institusi pendidikan, sektor kesehatan, asosiasi profesi, alumni, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi serta reputasi internasional universitas.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas diwakili oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan bersama para dekan fakultas dan pimpinan universitas. Forum ini menjadi wadah koordinasi internal sekaligus ruang diskusi bersama mitra eksternal dalam menyusun langkah strategis pengembangan Universitas Andalas ke depan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, Ph.D. menegaskan bahwa Program EQUITY merupakan salah satu instrumen penting dalam memperkuat transformasi perguruan tinggi melalui peningkatan kualitas tata kelola, pengembangan kerja sama internasional, penguatan reputasi akademik, serta perluasan jejaring kemitraan dengan berbagai sektor.

Selama sesi konsinyering, peserta melakukan evaluasi terhadap capaian Program EQUITY, mengidentifikasi berbagai tantangan dalam implementasi program, serta merumuskan strategi penguatan untuk periode selanjutnya. Setiap fakultas diberikan kesempatan memaparkan perkembangan program unggulan, kebutuhan dukungan, serta kontribusinya terhadap target Universitas Andalas dalam meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai bagian dari proses penyusunan rencana kerja, forum juga membahas penetapan program prioritas, indikator kinerja, target luaran, penanggung jawab kegiatan (person in charge), hingga penyusunan timeline implementasi. Pembahasan tersebut diharapkan mampu menghasilkan langkah yang lebih terarah dalam mendukung peningkatan reputasi global Universitas Andalas melalui penguatan tridarma perguruan tinggi, mobilitas akademik, publikasi ilmiah bereputasi, serta pengembangan kemitraan strategis.

Pada sesi Employer Meeting, Universitas Andalas mempertemukan unsur pimpinan universitas dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, rumah sakit, sekolah, asosiasi profesi, dan alumni dalam sebuah forum diskusi yang membahas kebutuhan dunia kerja terhadap lulusan perguruan tinggi. Berbagai masukan disampaikan terkait kompetensi lulusan, penguatan kurikulum berbasis kebutuhan industri, peluang kolaborasi penelitian, pengembangan program magang, serta peningkatan kerja sama yang mampu memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan.

Diskusi juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan mitra eksternal. Melalui sinergi tersebut, diharapkan Universitas Andalas mampu menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan dunia kerja, meningkatkan inovasi berbasis riset, serta memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan daerah dan nasional.

Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyambut baik penyelenggaraan forum tersebut. Menurutnya, Program EQUITY tidak hanya berorientasi pada peningkatan indikator kinerja universitas, tetapi juga mendorong setiap fakultas untuk menghadirkan inovasi, memperluas jejaring kerja sama, serta menghasilkan program-program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. "Forum ini menjadi ruang yang sangat strategis bagi setiap fakultas untuk menyelaraskan program kerja dengan arah pengembangan Universitas Andalas. Melalui EQUITY, kami didorong untuk terus memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas layanan akademik, memperluas jejaring internasional, dan menghadirkan berbagai inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Prof. Ike Revita.

Ia menambahkan bahwa FIB Universitas Andalas terus berkomitmen mendukung implementasi Program EQUITY melalui penguatan internasionalisasi, peningkatan kualitas publikasi ilmiah, pengembangan kerja sama dengan berbagai mitra, serta penguatan peran humaniora dalam menjawab tantangan global.

Kegiatan ditutup dengan penyusunan tindak lanjut program yang akan menjadi dasar implementasi berbagai agenda strategis Universitas Andalas pada tahun-tahun mendatang. Melalui partisipasi aktif dalam Konsinyering EQUITY dan Employer Meeting, FIB Universitas Andalas menegaskan komitmennya untuk terus mendukung transformasi Universitas Andalas sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional yang unggul, kolaboratif, dan berdampak. 

Gambar 2. Peserta Konsinyering EQUITY dan Employer Meeting Universitas Andalas

Seminar Nasional FIB Unand Luruskan Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang Berbasis Riset

Gambar 1. Peserta seminar 100 tahun jam gadang di ruang sidang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas melalui Departemen Ilmu Sejarah menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Mengulik Narasi Sejarah 100 Tahun Jam Gadang pada Kamis, 23 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Seminar yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Universitas Andalas ke-70 ini menghadirkan akademisi, peneliti, jurnalis, mahasiswa, pemerintah daerah, serta masyarakat umum untuk mengkaji kembali sejarah Jam Gadang berdasarkan sumber-sumber primer dan metode ilmiah.

Kegiatan ini menghadirkan rombongan Pemerintah Kota Bukittinggi yang dipimpin oleh Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP. Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para pegiat kebudayaan dari berbagai daerah di Sumatera Barat. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FIB Universitas Andalas, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., yang mewakili Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seminar tersebut tidak hanya membahas Jam Gadang sebagai sebuah bangunan ikonik, tetapi juga sebagai objek kajian sejarah, humaniora, arsitektur, dan pariwisata yang saling berkaitan. Menurutnya, forum akademik seperti ini menjadi ruang penting untuk menghadirkan pemahaman sejarah yang lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Seminar menghadirkan empat narasumber, yakni Khairul Jasmi (jurnalis senior dan penulis), Dr. Suryadi (Leiden University, Belanda), Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan (Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Andalas), serta Dr. Zulqaiyim, M.Hum. (Ketua Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas). Diskusi dipandu oleh Dr. Israr Iskandar, S.S., M.Si. dan berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta secara luring maupun daring.

Ketua pelaksana dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini diselenggarakan untuk mengkaji berbagai pandangan yang selama ini dianggap sebagai kebenaran mutlak mengenai Jam Gadang. Hasil-hasil kajian tersebut diharapkan dapat menjadi masukan ilmiah bagi Pemerintah Kota Bukittinggi dalam menyusun narasi sejarah yang lebih akurat mengenai ikon kota tersebut.

Sejarah Harus Dibangun di Atas Bukti

Materi pertama disampaikan oleh Khairul Jasmi melalui makalah berjudul Meluruskan Empat Mitos Jam Gadang. Ia menguraikan bahwa selama puluhan tahun terdapat sejumlah narasi populer mengenai Jam Gadang yang terus direproduksi tanpa melalui proses verifikasi ilmiah. Empat narasi yang paling sering beredar ialah anggapan bahwa mesin Jam Gadang hanya ada dua di dunia bersama Big Ben, Jam Gadang merupakan hadiah Ratu Wilhelmina, angka Romawi IIII merupakan kesalahan penulisan, serta bangunan tersebut didirikan tanpa semen dan besi, melainkan menggunakan putih telur. Seluruh klaim tersebut diuji menggunakan arsip kolonial, dokumen resmi, laporan teknik sipil, serta bukti material bangunan.

Ia menunjukkan bahwa mesin Jam Gadang diproduksi oleh perusahaan B. Vortmann di Jerman, sedangkan Big Ben menggunakan mesin dari E. Dent & Co. di Inggris. Demikian pula, dokumen resmi pemerintah kolonial menunjukkan bahwa pembangunan Jam Gadang dibiayai melalui Pasarfonds serta dukungan masyarakat Fort de Kock, bukan sebagai hadiah dari Ratu Belanda. Sementara itu, hasil penelitian struktur bangunan membuktikan bahwa Jam Gadang merupakan konstruksi beton bertulang yang menggunakan semen dan baja sebagaimana lazimnya teknologi bangunan pada awal abad ke-20.

"Narasi sejarah harus dibangun di atas sumber yang dapat diverifikasi. Setelah seratus tahun, sudah saatnya kita memisahkan antara fakta sejarah dan cerita yang selama ini hanya diwariskan dari mulut ke mulut," ujar Khairul Jasmi.

Menyusun Ulang Kronologi Jam Gadang

Narasumber kedua, Dr. Suryadi, memaparkan hasil penelusuran arsip surat kabar Hindia Belanda yang berhasil merekonstruksi kronologi pembangunan Jam Gadang sejak pembentukan panitia, penggalangan dana, peletakan batu pertama pada 27 Mei 1926, hingga peresmian resmi pada 25 Juli 1927. Ia juga mengungkap adanya kontribusi masyarakat, kegiatan pakan malam, hingga sumbangan lonceng dari seorang warga bernama J. Child yang selama ini jarang diketahui publik.

Menurutnya, Jam Gadang bukan semata-mata proyek pemerintah kolonial, melainkan hasil kolaborasi berbagai unsur masyarakat Fort de Kock yang ingin mempercantik kota sekaligus memperkuat identitas perkotaan pada masa itu. "Jam Gadang bukan hanya penanda waktu, melainkan juga penanda perubahan sosial masyarakat. Melalui arsip-arsip sezaman kita dapat memahami bagaimana sebuah ikon kota lahir dari dinamika masyarakatnya sendiri," ujar Dr. Suryadi.

Reinterpretasi Sejarah Berbasis Kritik Sumber

Sementara itu, Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan menyoroti pentingnya reinterpretasi historiografi Jam Gadang. Menurutnya, popularitas Jam Gadang justru diiringi dengan berkembangnya berbagai narasi populer yang belum melalui kritik sumber sebagaimana kaidah ilmu sejarah.

Ia menjelaskan bahwa penelitian-penelitian baru yang muncul sejak pascagempa 2009 hingga momentum peringatan 100 tahun Jam Gadang menunjukkan semakin kuatnya kesadaran akademik untuk menulis ulang sejarah berdasarkan arsip, surat kabar sezaman, dan dokumen resmi. Dengan demikian, sejarah Jam Gadang tidak lagi hanya bertumpu pada cerita lisan, tetapi pada hasil penelitian yang dapat diuji secara ilmiah. "Jam Gadang adalah artefak sejarah yang mencerminkan perubahan politik, sosial, budaya, dan identitas masyarakat Sumatera Barat. Karena itu, narasi sejarahnya harus dibangun melalui riset, bukan sekadar mengulang cerita yang telah lama dipercaya," kata Prof. Gusti Asnan.

Ia juga mengajak generasi muda, akademisi, peneliti, hingga kreator konten untuk menghadirkan sejarah publik yang tetap berpijak pada kaidah penelitian sehingga informasi yang diterima masyarakat memiliki landasan akademik yang kuat.

Forum Akademik yang Menghubungkan Sejarah, Arsitektur, dan Pariwisata

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan mengenai bentuk arsitektur Jam Gadang, perubahan mahkota bangunan pada masa pendudukan Jepang, makna angka Romawi IIII, sumber pembiayaan pembangunan, hubungan Jam Gadang dengan perkembangan pariwisata Bukittinggi, hingga strategi meluruskan narasi sejarah yang telah telanjur populer di masyarakat. Peserta juga menyoroti pentingnya menghubungkan kajian sejarah dengan arsitektur, konservasi, dan pengembangan destinasi wisata berbasis warisan budaya.

Salah satu rekomendasi yang mengemuka dalam forum ialah perlunya menyusun buku ilmiah mengenai sejarah Jam Gadang sebagai rujukan resmi bagi pemerintah, akademisi, media, dan masyarakat. Selain itu, hasil seminar diharapkan menjadi pijakan dalam membangun narasi sejarah publik yang lebih akurat sehingga pelestarian Jam Gadang tidak hanya berfokus pada bangunan fisiknya, tetapi juga pada keutuhan sejarah yang menyertainya.

Menutup seminar, para narasumber sepakat bahwa usia satu abad Jam Gadang merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai sebuah penelitian sejarah. Sebuah ikon budaya tidak hanya dirawat melalui konservasi fisik, tetapi juga melalui narasi yang dibangun berdasarkan bukti, kritik sumber, dan tanggung jawab akademik. Dengan demikian, Jam Gadang akan terus hadir bukan sekadar sebagai landmark Kota Bukittinggi, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan sejarah yang diwariskan secara benar kepada generasi mendatang.

Gambar 2. Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, S.TP. bersama pimpinan dan narasumber di FIB Unand