FIB Unand dan BNI KCP Unand Jalin Kerja Sama Perkuat Layanan Akademik dan Pengembangan SDM

Gambar 1. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revia, S.S., M.Hum. menandatangani kerja sama dengan Kepala BNI KCP Unand, Andrias Sapto Nugroho

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas terus memperluas jejaring kemitraan dengan berbagai institusi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan BNI Kantor Cabang Pembantu (KCP) Universitas Andalas pada Rabu, 1 Juli 2026.

Perjanjian kerja sama ditandatangani langsung oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, bersama Kepala BNI KCP Universitas Andalas, Andrias Sapto Nugroho. Penandatanganan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi sebagai langkah awal memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan sektor perbankan.

Kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen kedua belah pihak dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia, peningkatan layanan akademik, serta implementasi program-program yang memberikan manfaat nyata bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa FIB Universitas Andalas.

Dalam ruang lingkup kerja sama, BNI KCP Universitas Andalas memberikan fasilitas kredit bagi dosen dan tenaga kependidikan FIB Unand sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kesejahteraan civitas academica. Selain itu, kedua belah pihak juga sepakat membuka kesempatan yang lebih luas bagi mahasiswa FIB Universitas Andalas untuk mengikuti program magang, baik melalui skema Magang Berdampak maupun Magang Mandiri, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja.

Tidak hanya itu, kerja sama ini juga mencakup penyelenggaraan berbagai program edukasi dan literasi keuangan yang bertujuan meningkatkan pemahaman civitas academica mengenai pengelolaan keuangan, layanan perbankan, serta perkembangan industri jasa keuangan. Kedua institusi juga membuka peluang pelaksanaan berbagai bentuk kerja sama lain yang akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan program di masa mendatang.

Salah satu bentuk kolaborasi yang akan dikembangkan adalah pemanfaatan fasilitas coworking space BNI di lantai dua sebagai ruang belajar, berdiskusi, berkolaborasi, dan mengembangkan kreativitas bagi dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan FIB Universitas Andalas.

Selain itu, program magang yang dirancang tidak hanya memberikan pengalaman kerja di sektor perbankan, tetapi juga mengoptimalkan kompetensi mahasiswa sesuai bidang keilmuannya. Sebagai contoh, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris berpeluang memberikan layanan komunikasi kepada nasabah asing menggunakan bahasa Inggris, sehingga kemampuan akademik yang diperoleh di bangku kuliah dapat diterapkan secara langsung dalam lingkungan profesional.

Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan bahwa kemitraan dengan BNI KCP Universitas Andalas merupakan langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual sekaligus memperluas peluang pengembangan kompetensi mahasiswa. "Kami berharap kerja sama ini tidak hanya memberikan manfaat administratif, tetapi juga menjadi ruang belajar yang mempertemukan dunia akademik dengan dunia profesional. Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman nyata agar siap menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin dinamis," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Ia menambahkan bahwa sinergi dengan dunia industri dan sektor jasa merupakan bagian penting dalam mendukung pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yang berdampak. "Melalui kolaborasi seperti ini, kami ingin membangun ekosistem pembelajaran yang tidak berhenti di ruang kelas. Pengalaman magang, literasi keuangan, hingga interaksi profesional akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja," tambahnya.

Sementara itu, Kepala BNI KCP Universitas Andalas, Andrias Sapto Nugroho, menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesiapan profesional. "BNI berkomitmen mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui berbagai program kolaboratif. Kami berharap mahasiswa FIB Universitas Andalas dapat memperoleh pengalaman kerja yang relevan sekaligus memperluas wawasan mengenai dunia perbankan dan layanan profesional," ungkapnya.

Gambar 2. Foto bersama antara Tim FIB Unand dengan Tim BNI KCP Unand

Usai penandatanganan PKS, kedua belah pihak melanjutkan diskusi mengenai implementasi berbagai program kerja sama yang akan direalisasikan dalam waktu dekat, termasuk pelaksanaan program magang mahasiswa, pemanfaatan coworking space, penyelenggaraan edukasi keuangan, hingga pengembangan program kolaboratif lainnya.

Melalui kemitraan ini, FIB Universitas Andalas menegaskan komitmennya untuk terus memperluas kolaborasi dengan berbagai mitra strategis dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, serta menghasilkan lulusan yang adaptif, profesional, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unand Raih Terbaik I Duta Bahasa Sumatra Barat 2026

Gambar  1.  Muhammad Berlian, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah FIB  Unand angkatan 2023 berhasil meraih terbaik I Duta Bahasa Sumatra Barat 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Muhammad Berlian, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2023, berhasil meraih predikat Terbaik I Duta Bahasa Sumatra Barat 2026 pada ajang Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Barat yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat.

Ajang Duta Bahasa Sumatra Barat merupakan program tahunan yang berada di bawah naungan Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kegiatan ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk berperan aktif dalam mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, serta menguasai bahasa asing sebagai bagian dari upaya pembangunan karakter dan kebudayaan bangsa.

Sebelum mencapai tahap pemilihan akhir, seluruh finalis mengikuti proses karantina yang berlangsung pada 10–15 Mei 2026. Selama masa karantina, peserta menjalani berbagai tahapan seleksi dan pembinaan, mulai dari psikotes, pelatihan kebahasaan, penulisan artikel, wawancara, presentasi laporan krida, wicara publik, penilaian bahasa asing, latihan koreografi, hingga malam talenta.

Muhammad Berlian mengaku bahwa seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga karena tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga melatih kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan kepemimpinan. “Selama karantina kami benar-benar ditantang untuk berkembang. Tidak hanya soal kemampuan berbahasa, tetapi juga bagaimana menyampaikan gagasan, bekerja sama, dan menunjukkan kepedulian terhadap isu kebahasaan di masyarakat,” ujarnya.

Dalam ajang tersebut, Muhammad Berlian mengusung program krida bertajuk “Pintar Padang”. Program ini dirancang sebagai ruang edukasi kebahasaan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa mengabaikan keberadaan bahasa daerah sebagai identitas budaya.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial menghadirkan tantangan tersendiri bagi penggunaan bahasa. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda agar bahasa Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. “Bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa adalah identitas, cara berpikir, sekaligus cermin budaya suatu masyarakat. Saya ingin generasi muda melihat bahasa sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” jelasnya.

Keberhasilan meraih predikat Terbaik I menjadi pencapaian yang membanggakan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Program Studi Ilmu Sejarah dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa humaniora memiliki kapasitas yang kuat dalam bidang kebahasaan, komunikasi, dan kepemimpinan publik.

Muhammad Berlian berharap gelar yang diraihnya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berprestasi dan berkontribusi dalam pelestarian bahasa dan budaya Indonesia. “Gelar ini bukan akhir dari perjalanan. Justru ini menjadi awal untuk bekerja lebih banyak lagi. Saya berharap semakin banyak anak muda yang mau terlibat dalam gerakan pelestarian bahasa dan budaya karena masa depan keduanya ada di tangan generasi kita,” ungkapnya.

Keberhasilan Muhammad Berlian menjadi Terbaik I Duta Bahasa Sumatra Barat 2026 semakin mempertegas komitmen mahasiswa FIB Unand dalam mengembangkan nilai-nilai kebahasaan, kebudayaan, dan literasi di tengah masyarakat.

“Prestasi yang diraih Muhammad Berlian menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga mampu menjadi duta yang membawa nilai-nilai kebahasaan dan kebudayaan ke tengah masyarakat. Kami berharap capaian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berprestasi,” ujar Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand Raih Terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026

Gambar 1. Dwito Devid Riandoni, Mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand raih terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Dwito Devid Riandoni, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris angkatan 2023, berhasil meraih predikat Terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026 dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Barat yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat.

Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Barat merupakan ajang yang bertujuan melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Para peserta dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan yang mampu menyampaikan pesan kebahasaan dan kebudayaan kepada masyarakat secara luas.

Proses seleksi berlangsung ketat. Seluruh finalis mengikuti karantina selama enam hari, mulai 10 hingga 15 Mei 2026. Dalam periode tersebut, peserta menjalani berbagai tahapan pembinaan dan penilaian, seperti psikotes, pelatihan kebahasaan, penulisan artikel, presentasi program krida, wawancara, wicara publik, malam talenta, hingga penilaian kemampuan bahasa asing.

Dwito Devid Riandoni mengaku bahwa pengalaman selama karantina memberinya banyak pelajaran baru, terutama tentang pentingnya komunikasi, kerja sama, dan kemampuan menyampaikan gagasan kepada masyarakat. “Yang paling berkesan bukan hanya kompetisinya, tetapi kesempatan untuk bertemu banyak anak muda yang memiliki kepedulian yang sama terhadap bahasa dan budaya,” ujarnya.

Dalam kompetisi tersebut, Dwito mengusung program krida berjudul “Forum Kreta Tanggap Aksara”. Program ini dirancang sebagai ruang edukasi dan penguatan literasi yang mendorong masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda, untuk lebih peduli terhadap kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi secara kritis.

Menurut Dwito, kemampuan literasi menjadi salah satu kebutuhan penting di era digital. Arus informasi yang sangat cepat harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menyaring informasi secara bijak. “Literasi bukan hanya soal membaca buku. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakan bahasa secara tepat dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, Dwito melihat bahwa penguasaan bahasa asing harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Baginya, ketiga unsur tersebut bukanlah sesuatu yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi.

Prestasi yang diraih Dwito menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menunjukkan kompetensi yang unggul dalam bidang kebahasaan sekaligus memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Ia berharap program yang telah dirancang dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat setelah ajang Duta Bahasa berakhir. “Prestasi ini bukan hanya tentang saya. Ini tentang bagaimana kita bersama-sama menjaga bahasa, meningkatkan literasi, dan memastikan generasi muda tetap memiliki ruang untuk belajar dan berkembang,” tuturnya. Keberhasilan Dwito Devid Riandoni meraih predikat Terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026 menambah daftar prestasi mahasiswa FIB Unand di tingkat provinsi sekaligus memperkuat posisi FIB Unand sebagai pusat pengembangan bahasa, sastra, dan budaya di Sumatra Barat.

“Keberhasilan Dwito Devid Riandoni menjadi bukti bahwa kemampuan berbahasa, literasi, dan kepedulian terhadap budaya merupakan kompetensi penting yang perlu terus dikembangkan oleh generasi muda. FIB Unand akan selalu mendukung mahasiswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang unggul, kreatif, dan berdaya saing,” Ujar  Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. 

Gambar 2. Dwito Devid Riandoni, Mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand dalam acara malam penganugerahan Duta Bahasa Sumatera Barat 2026

Dekan FIB Unand Hadiri Seminar 100 Tahun Jam Gadang dalam Perspektif pada IMLF 2026

Gambar 1. Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP bersama Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas sekaligus Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, S.E., M.Si.,

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP menghadiri Seminar 100 Tahun Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif yang diselenggarakan dalam rangkaian International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 Tahun 2026 di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi pada Kamis, 4 Juni 2026. Kehadiran Dekan FIB Unand didampingi oleh Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. sebagai bentuk dukungan FIB Unand terhadap upaya pelestarian sejarah, budaya, dan literasi Minangkabau di tingkat nasional maupun internasional.

Seminar tersebut merupakan salah satu agenda utama peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang diinisiasi Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan Yayasan Satu Pena Sumatera Barat melalui penyelenggaraan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4. Berdasarkan undangan resmi Pemerintah Kota Bukittinggi, seminar mengangkat tema “Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif” dan menghadirkan berbagai akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Minangkabau.

Kegiatan ini menjadi semakin istimewa karena dilaksanakan bertepatan dengan momentum satu abad Jam Gadang sebagai ikon sejarah, identitas budaya, sekaligus landmark Kota Bukittinggi. Seminar juga menjadi bagian dari rangkaian IMLF ke-4 yang berlangsung pada 3–7 Juni 2026 dengan mengusung semangat literasi, kebudayaan, dan pembelajaran lintas bangsa. IMLF tahun ini melibatkan ratusan delegasi dari berbagai negara dan menjadi salah satu forum internasional terbesar yang pernah diselenggarakan di Bukittinggi. Menurut panitia, delegasi yang hadir berasal dari puluhan negara dan mewakili kalangan akademisi, penulis, peneliti, sastrawan, seniman, mahasiswa, hingga pegiat literasi dunia.

Selain Dekan dan Manajer I FIB Unand, seminar turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas sekaligus Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, S.E., M.Si., Ketua DPRD Kota Bukittinggi, H. Syaiful Efendi, Lc., M.A.,  unsur pemerintah daerah, akademisi, budayawan, serta delegasi internasional yang mengikuti rangkaian IMLF 2026 seperti Summer Xia, ia merupakan delegasi dari Inggris yang menjabat sebagai Direktur British Council Indonesia dan South East Asia.

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP dan Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. bersama Ketua DPRD Kota Bukittinggi, H. Syaiful Efendi, Lc., M.A.

Dalam seminar tersebut, para narasumber membahas Jam Gadang dari berbagai sudut pandang, mulai dari sejarah pembangunan, identitas kota, arsitektur, kebudayaan, literasi, pariwisata, hingga perannya sebagai simbol kolektif masyarakat Bukittinggi dan Minangkabau. Diskusi juga menyoroti bagaimana sebuah bangunan bersejarah tidak hanya dipahami sebagai warisan fisik, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, pembelajaran, dan refleksi sosial lintas generasi.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menilai bahwa peringatan 100 tahun Jam Gadang merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan warisan budaya yang dimiliki. "Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu bagi Kota Bukittinggi. Ia adalah penanda perjalanan sejarah, identitas budaya, dan memori kolektif masyarakat Minangkabau. Ketika kita memperingati satu abad Jam Gadang, yang sesungguhnya kita rawat adalah kesadaran akan akar sejarah dan nilai-nilai budaya yang membentuk jati diri kita hari ini," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghubungkan warisan masa lalu dengan tantangan masa kini melalui kajian ilmiah, pendidikan, dan literasi budaya. "Budaya tidak akan bertahan hanya karena diwariskan, tetapi karena dipahami, dipelajari, dan dimaknai kembali oleh generasi penerusnya. Karena itu, forum-forum seperti ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya di tengah perubahan zaman," tambahnya.

Sementara itu, Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., menekankan pentingnya literasi budaya sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. "Literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berarti kemampuan memahami sejarah, budaya, dan lingkungan sosial tempat kita hidup. Melalui kegiatan seperti IMLF, masyarakat diajak untuk melihat kembali nilai-nilai budaya sebagai sumber pembelajaran yang relevan bagi masa depan," ujar Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum.

Tema besar IMLF 2026, yakni “Dari Literasi ke Lestari: Membangun Kesejahteraan, Perdamaian, dan Pembelajaran Tanpa Henti”, sejalan dengan komitmen FIB Unand dalam menjadikan bahasa, sejarah, dan budaya sebagai sarana pembelajaran yang berkelanjutan. Bagi FIB Unand, warisan budaya seperti Jam Gadang tidak hanya penting untuk dilestarikan, tetapi juga perlu terus dimaknai sebagai sumber pengetahuan yang memperkuat identitas bangsa sekaligus membuka ruang dialog dengan masyarakat dunia.

Melalui keikutsertaan dalam seminar tersebut, FIB Unand kembali menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pelestarian sejarah, pengembangan literasi, dan penguatan kebudayaan sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kehadiran FIB Unand dalam forum internasional seperti IMLF juga menjadi wujud nyata peran akademisi dalam menjaga relevansi warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.

FIB Unand Kukuhkan DLM dan Presiden Mahasiswa Terpilih Periode 2026

Gambar 1. Pelantikan DLM oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melaksanakan pelantikan Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) serta serah terima jabatan (Sertijab) Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Unand periode 2026 pada Kamis, 11 Juni 2026 di Ruang Seminar FIB Unand. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam proses regenerasi kepemimpinan organisasi kemahasiswaan sekaligus penguatan tata kelola demokrasi mahasiswa di lingkungan FIB Unand.

Acara dihadiri oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Manajer I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., panitia Pemilihan Raya (Pemira) FIB Unand 2026, pengurus BEM periode sebelumnya, pengurus baru, serta mahasiswa dari berbagai program studi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta laporan dari panitia Pemira FIB Unand 2026. Suasana berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan sebagai simbol berjalannya proses demokrasi mahasiswa yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Pada kesempatan tersebut, Dekan FIB Unand secara resmi melantik dan mengambil sumpah anggota Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) periode 2026. Adapun susunan kepengurusan DLM yang dilantik terdiri atas Busron Habib sebagai Ketua, Rasmulianda sebagai Wakil Ketua, Rizky Aulia Maharani sebagai Sekretaris, dan Amanda Restia sebagai Bendahara.

Dalam struktur organisasi kemahasiswaan FIB Unand, DLM memiliki fungsi strategis sebagai lembaga legislatif mahasiswa yang bertugas melakukan pengawasan, memberikan pertimbangan, serta menjadi mitra kritis bagi Badan Eksekutif Mahasiswa. Selain itu, DLM juga memiliki kewenangan dalam melantik Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa terpilih.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. menegaskan bahwa organisasi mahasiswa merupakan ruang belajar kepemimpinan yang penting bagi pengembangan karakter dan kapasitas mahasiswa. “Organisasi kemahasiswaan bukan sekadar tempat menjalankan program kerja, melainkan ruang belajar untuk bertanggung jawab, berkolaborasi, dan membangun kepemimpinan yang berintegritas. Saya berharap DLM dan BEM dapat menjadi mitra strategis fakultas dalam menciptakan lingkungan akademik yang dinamis dan produktif,” ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Setelah pelantikan DLM, kegiatan dilanjutkan dengan pelantikan dan serah terima jabatan Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa BEM FIB Unand periode 2026. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua DLM yang baru dilantik.

Pada kesempatan tersebut, Wahyu Rafael Lingga dari Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2024 resmi dilantik sebagai Presiden Mahasiswa FIB Unand periode 2026, didampingi Anwar Ikhsan Maulana dari Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024 sebagai Wakil Presiden Mahasiswa. 

Gambar 2. serah terima jabatan (Sertijab) Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Unand periode 2026

Prosesi serah terima jabatan berlangsung penuh makna sebagai simbol keberlanjutan kepemimpinan mahasiswa dari pengurus sebelumnya kepada pengurus yang baru. Penandatanganan berita acara, penyerahan dokumen organisasi, dan penyampaian pesan dari pengurus sebelumnya menjadi bagian penting dalam rangkaian acara tersebut.

Ketua DLM, Busron Habib, menyampaikan bahwa DLM akan menjalankan fungsi pengawasan secara konstruktif serta mendukung program-program yang berdampak positif bagi mahasiswa. “Kami berkomitmen menjalankan amanah ini secara profesional dan objektif. DLM hadir untuk memastikan organisasi kemahasiswaan berjalan sesuai fungsi dan tujuan, sekaligus menjadi ruang aspirasi bagi seluruh mahasiswa FIB Unand,” ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa terpilih, Wahyu Rafael Lingga, menyampaikan komitmennya untuk menghadirkan organisasi mahasiswa yang lebih inklusif dan kolaboratif. “Kepercayaan ini adalah amanah besar. Kami ingin membangun BEM yang terbuka, responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi pengembangan akademik maupun nonakademik mahasiswa FIB Unand,” ujarnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi yang menambah suasana reflektif dan apresiatif terhadap proses regenerasi kepemimpinan mahasiswa. Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara pimpinan fakultas, pengurus DLM, pengurus BEM periode lama dan baru, panitia Pemira, serta seluruh peserta yang hadir.

Melalui pelantikan dan serah terima jabatan ini, FIB Unand kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kepemimpinan mahasiswa, budaya demokrasi kampus, serta terciptanya organisasi kemahasiswaan yang aktif, kritis, dan berkontribusi positif bagi kemajuan fakultas maupun masyarakat.

Gambar 3. Foto bersama pimpinan FIB Unand dengan Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) serta serah terima jabatan (Sertijab) Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Unand periode 2026 

Tim Nihongo Gakkou FIB Unand Raih Silver Medal dan Best Idea pada Ajang Catalyst Future Competition Nasional 2026 

Gambar 1. Tim Nihongo Gakkou berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas di tingkat nasional. Tim Nihongo Gakkou yang diketuai oleh Arya Alghifari berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea pada subtema Seni dan Budaya dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026 yang diselenggarakan pada 23 Mei 2026.

Kompetisi tingkat nasional tersebut diikuti oleh peserta dari sekitar 48 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pada kesempatan itu, Arya Alghifari selaku ketua tim juga menjadi perwakilan utama yang mempresentasikan gagasan tim di hadapan dewan juri.

Tim Nihongo Gakkou terdiri atas Arya Alghifari sebagai ketua tim, bersama Ikka Aprillia, Leica Zahra Asanda, Nadjwa Putri Rinalita, dan Tyo Muhammad Rizki. Dalam kompetisi tersebut, mereka dibimbing oleh Imelda Indah Lestari, M.Hum.

Tim ini mengusung esai berjudul “Dari Tradisi ke Transformasi Digital: Model Inovasi Kolaboratif Mahasiswa, Influencer, dan Pengrajin dalam Membangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan Songket Pandai Sikek dan Silungkang Menuju Pasar Global.”

Gagasan Inovatif untuk Pelestarian Songket Dalam esai tersebut, tim mengangkat persoalan menurunnya minat generasi muda terhadap songket Pandai Sikek dan Silungkang di tengah perkembangan teknologi dan arus budaya global. Tim menawarkan sebuah model kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa, influencer digital, dan pengrajin songket dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Mahasiswa diposisikan sebagai agen inovasi yang mengembangkan desain fashion modern berbasis motif songket. Di sisi lain, influencer berperan memperluas promosi melalui media digital, sedangkan pengrajin menjaga autentisitas nilai budaya dan kualitas produk songket. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas pasar songket hingga tingkat internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengrajin lokal.

Selain itu, tim juga merancang peta implementasi program yang mencakup proses rekrutmen mahasiswa, pengembangan desain, produksi kolaboratif, hingga promosi digital berbasis media sosial dan platform e-commerce. Gagasan tersebut dinilai memiliki nilai inovasi yang kuat karena mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi kreatif berbasis teknologi.

Keberhasilan meraih dua penghargaan sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand tidak hanya mampu menghasilkan gagasan akademik yang berkualitas, tetapi juga menawarkan solusi nyata terhadap persoalan budaya dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Ketua tim, Arya Alghifari, mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih bersama timnya. “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya tidak harus bertahan sebagai kenangan masa lalu. Dengan inovasi dan kolaborasi yang tepat, warisan budaya seperti songket dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang relevan bagi generasi muda dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Arya.

Arya menambahkan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi dirinya dan tim untuk terus mengembangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat. “Prestasi ini bukan hanya tentang memenangkan lomba, melainkan tentang bagaimana ide yang kami susun dapat menjadi inspirasi dalam menjaga budaya lokal melalui pendekatan yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, dosen pembimbing, Imelda Indah Lestari, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kesungguhan tim selama proses penyusunan karya. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Mereka tidak hanya memahami budaya sebagai warisan, tetapi juga mampu merancang strategi agar budaya tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, turut mengapresiasi capaian tersebut. “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menghadirkan gagasan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pelestarian budaya melalui inovasi dan transformasi digital merupakan langkah penting dalam menjaga identitas bangsa sekaligus membuka peluang ekonomi di masa depan,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.  

Prestasi yang diraih Tim Nihongo Gakkou diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nilai-nilai budaya Indonesia ke panggung yang lebih luas melalui penelitian, kreativitas, dan kolaborasi lintas bidang.