Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Unand Raih Juara III Lomba Esai Satgas PPK UNAND Lewat Gagasan Inovatif "Rangers Dengar"

Gambar 1. Muhammad Ridwan, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2023 raih Juara III Cabang Lomba Esai pada Lomba Satgas PPK Unand Tahun 2026
Prestasi kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Muhammad Ridwan, mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2023, berhasil meraih Juara III Cabang Lomba Esai pada Lomba Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Universitas Andalas Tahun 2026. Keberhasilan tersebut diumumkan secara resmi pada 16 Juli 2026, setelah melalui proses penilaian terhadap karya peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kompetisi yang diselenggarakan Satgas PPK Universitas Andalas mengusung tema "Berani Peduli, Bersama Wujudkan Kampus Aman Tanpa Kekerasan" sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepedulian sivitas akademika terhadap pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi. Lomba berlangsung sejak 13 Mei hingga 5 Juni 2026 untuk tahap pendaftaran dan pengumpulan karya, dengan empat cabang perlombaan, yaitu video kreatif, desain poster, esai, dan cerpen. Seluruh mahasiswa di Indonesia berkesempatan mengikuti kompetisi tersebut sebagai wadah menyampaikan gagasan kreatif dalam membangun kampus yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.
Muhammad Ridwan, mahasiswa dengan NIM 2310717001, berhasil menarik perhatian dewan juri melalui esai berjudul "Rangers Dengar: Platform Digital Terintegrasi Gerakan Peer Support Berbasis Gamifikasi untuk Mengeliminasi Victim Blaming Guna Mewujudkan Lingkungan Kampus Aman Tanpa Kekerasan." Dalam tulisannya, Ridwan menawarkan sebuah inovasi berupa ekosistem digital yang mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pelatihan empati berbasis gamifikasi, serta jaringan relawan mahasiswa sebagai pendamping awal korban kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.
Esai tersebut berangkat dari persoalan masih tingginya budaya victim blaming yang membuat korban kekerasan enggan melapor dan memperoleh pendampingan. Menurut Ridwan, penyelesaian persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui mekanisme pelaporan formal, tetapi juga membutuhkan perubahan budaya melalui penguatan empati mahasiswa sebagai lingkungan terdekat korban.
Melalui konsep Rangers Dengar, ia merancang sebuah aplikasi yang dilengkapi fitur AI Empathy Checker, Safe Chat, Emergency Button, pelatihan skenario berbasis gamifikasi, hingga sertifikasi relawan mahasiswa yang bertugas sebagai peer supporter. Sistem tersebut dirancang agar korban memperoleh ruang aman untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi sebelum diarahkan kepada mekanisme penanganan resmi melalui Satgas PPK.
Tidak hanya menawarkan inovasi teknologi, Ridwan juga menyusun strategi implementasi yang melibatkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan melalui model pentahelix. Model tersebut menghubungkan perguruan tinggi, Satgas PPK, psikolog, organisasi kemahasiswaan, media, pemerintah, hingga mitra teknologi agar program dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Muhammad Ridwan. Menurutnya, prestasi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Universitas Andalas tidak hanya mampu berkompetisi secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan yang memberikan solusi terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. "Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Universitas Andalas mampu menghadirkan karya ilmiah yang tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga menawarkan solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap capaian ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkarya dan berkontribusi melalui pemikiran-pemikiran yang berdampak," ujar Prof. Ike Revita.
Sementara itu, Muhammad Ridwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Baginya, esai yang disusun bukan sekadar untuk mengikuti kompetisi, tetapi merupakan bentuk kepedulian terhadap pentingnya membangun budaya saling mendukung di lingkungan kampus. "Saya percaya bahwa kampus yang aman tidak hanya dibangun melalui aturan, tetapi juga melalui empati setiap warganya. Semoga gagasan Rangers Dengar dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan lingkungan akademik yang lebih inklusif, humanis, dan berpihak kepada korban," ungkap Ridwan.
Keberhasilan ini semakin menegaskan komitmen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dalam mendorong mahasiswanya untuk aktif berprestasi sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemasyarakatan melalui karya ilmiah yang inovatif. Prestasi Muhammad Ridwan diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa FIB Universitas Andalas untuk terus mengembangkan kreativitas, kepedulian sosial, serta kemampuan akademik dalam berbagai ajang kompetisi, baik di tingkat universitas maupun nasional.