Workshop Penulisan Naskah Randai Digelar, Dukung Pelestarian Sastra dan Budaya Minangkabau

Gambar 1. Moderator Wokrshop, Bapak Bahren, S.S., M.A. bersama Narasumber, Musra Dahrizal atau yang dikenal sebagai Mak Katik
Workshop Penulisan Naskah Randai digelar sebagai salah satu rangkaian kegiatan pembukaan Festival Kebudayaan Minangkabau 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam menulis naskah randai sekaligus mendukung pelestarian randai sebagai warisan budaya Minangkabau yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Workshop tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai institusi, di antaranya Universitas Andalas (Unand), UIN Imam Bonjol, Universitas Negeri Padang (UNP), sanggar-sanggar seni, serta perguruan pencak silat. Kegiatan ini turut dihadiri dan dibuka langsung oleh Dekan, Wakil Dekan I, Wakil Dekan II, dan Manajer Bidang 1
Ketua pelaksana, Dr. Eka Meigalia, S.Hum., M.Hum., menyampaikan bahwa workshop ini tidak hanya berfokus pada pengenalan prinsip-prinsip penulisan naskah randai, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan mengembangkan kerangka cerita dan menyusun draf awal naskah yang dapat disempurnakan lebih lanjut. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menciptakan cerita randai yang lebih menarik sehingga dapat meningkatkan perhatian dan ketertarikan penonton terhadap pertunjukan randai.
Ketua Program Studi Sastra Minangkabau, Yerri Satria Putera, S.S., M.A., menjelaskan bahwa pelatihan penulisan naskah randai merupakan bagian dari rangkaian Festival Kebudayaan Minangkabau 2026 yang direncanakan berlangsung pada akhir November mendatang.
Menurutnya, randai merupakan salah satu genre sastra yang perlu mendapatkan perhatian. Penyampaian cerita melalui bahasa Minangkabau yang khas dan tuturan yang menarik menjadi unsur penting dalam mempertahankan daya tarik randai di tengah masyarakat.
Sementara itu, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. yang turut hadir memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan, menekankan pentingnya penulisan naskah randai dalam menjaga, menumbuhkan, dan mengembangkan kebudayaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini tanpa kehilangan jati dirinya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari proses pewarisan budaya sekaligus membuka ruang pertemuan antara praktisi budaya dan pemain pertunjukan. Selain itu, workshop ini diharapkan mampu melahirkan penulis-penulis baru yang berkontribusi terhadap perkembangan sastra pertunjukan Minangkabau.
Workshop dimoderatori oleh bapak Bahren, S.S., M.A., dengan menghadirkan Musra Dahrizal atau yang dikenal sebagai Mak Katik sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Mak Katik menjelaskan karakteristik bahasa randai serta pentingnya memahami struktur dan penggunaan bahasa Minangkabau dalam penulisan naskah.
Ia menguraikan bahwa bahasa dalam randai memiliki karakteristik tersendiri yang berkaitan dengan penyampaian pesan dan dakwah kepada masyarakat. Ia juga membagikan pengalamannya mempelajari penulisan naskah sejak tahun 1963, termasuk penggunaan kata guantiang yang dapat ditempatkan pada bagian awal, tengah, maupun akhir tuturan, bergantung pada konteksnya.
Salah satu contoh ungkapan yang disampaikan adalah “usah mangguntiang di lipatan”, yang menunjukkan pentingnya memahami makna ungkapan dalam bahasa Minangkabau. Mak Katik juga menekankan pentingnya penguasaan suku kata dalam bahasa Minangkabau sebagai bagian dari keterampilan mengolah bahasa untuk kebutuhan pertunjukan randai.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai teknik penulisan naskah, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang dapat dikembangkan menjadi pertunjukan randai. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pewarisan budaya Minangkabau sekaligus menjaga keberadaan randai agar terus berkembang dan mendapat tempat di tengah masyarakat.
Salah satu peserta, Nazila Zeri, mahasiswa Sastra Minangkabau angkatan 2025 yang berasal dari Perguruan Pencak Silat Indonesia Kuranji Sejati, menilai workshop tersebut menarik karena memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami proses kreatif di balik pertunjukan randai. “Menurut saya, kegiatan ini sangat menarik. Banyak orang mungkin sudah pernah menonton randai, tetapi belum tentu mengetahui bagaimana proses pembuatan cerita dan penulisan naskahnya. Melalui pelatihan ini, kami bisa belajar bagaimana cara menyusun cerita randai,” ujarnya.
Nazila mengungkapkan bahwa ketertarikannya mengikuti kegiatan tersebut juga dipengaruhi oleh kedekatannya dengan dunia pencak silat sejak kecil. Ia tumbuh di lingkungan perguruan pencak silat yang dikelola oleh ayahnya sehingga memiliki kedekatan dengan tradisi tersebut. Menurutnya, kesempatan mengikuti workshop menjadi wadah yang sayang untuk dilewatkan, terutama ketika tersedia ruang untuk mempelajari dan mengembangkan kebudayaan Minangkabau.
Setelah mengikuti kegiatan ini, Nazila berharap dapat mulai menghasilkan naskah randai sendiri, meskipun masih perlu mempelajari lebih banyak teknik penulisannya. Ia juga berharap generasi muda, khususnya yang berasal dari Minangkabau, semakin tertarik untuk mempelajari randai dan terlibat dalam upaya pelestariannya. “Kalau dilihat dari peminatnya, banyak orang yang mau menonton randai, tetapi belum tentu mau belajar bagaimana proses pembuatannya. Harapan saya, generasi muda mau ikut belajar, meskipun belum menjadi ahli. Setidaknya, kita mengenal dan memahami randai agar tradisi ini tetap berlanjut. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan meneruskannya?” tuturnya.

Gambar 2. Foto bersama seluruh peserta Workshop Naskah Randai di FIB Unand
Penulis: Azizah Andriani (Tim Humas FIB)