FIB Unand Meriahkan Satu Abad INS Kayu Tanam dengan Pameran, Diskusi, dan Kerja Sama Kebudayaan

Gambar 1. Penandatanganan kerja sama dan implementation agreement antara FIB Unand dengan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) turut mengambil bagian dalam peringatan satu abad Institut Nasional Sjafei (INS) Kayu Tanam yang berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Mengusung tema “Satu Abad INS Kayu Tanam: Mohammad Sjafei dalam Ingatan”, kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan pendidikan yang dirintis Mohammad Sjafei sekaligus mempertemukan berbagai generasi dalam percakapan mengenai pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.
Kehadiran FIB Unand dalam peringatan tersebut dipimpin oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. Dalam rangkaian kegiatan, Prof. Ike menjadi narasumber pada sesi bertajuk “Dari Kata ke Karya: Merawat Memori, Membangun Masa Depan”. Sesi ini mempertemukan empat generasi, yaitu siswa sekolah menengah atas, mahasiswa, guru, dan alumni INS, untuk membicarakan relevansi pemikiran pendidikan Mohammad Sjafei dalam kehidupan masa kini.
Mengawali pemaparannya, Prof. Ike mengajukan pertanyaan reflektif, “Apakah orang yang tahu pasti bisa memecahkan masalah?” Menurutnya, pengetahuan perlu melalui proses yang lebih mendalam agar dapat menghasilkan tindakan dan karya. Ada tiga tahapan yang perlu dilalui, yaitu tahu, paham, dan berkarya.
Prof. Ike juga menekankan hubungan erat antara bahasa dan pendidikan. Bahasa berperan dalam membentuk cara manusia berpikir, memahami, dan mengomunikasikan ilmu pengetahuan. Melalui bahasa, pengetahuan dapat dibagikan dan dikembangkan untuk membangun kehidupan masa depan. Bahkan, interaksi di media sosial pun tidak terlepas dari penggunaan bahasa.
Dalam konteks tersebut, Prof. Ike mendorong generasi muda untuk menguasai sekurang-kurangnya tiga bahasa, yakni bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Penguasaan bahasa asing, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan pemeliharaan identitas dan akar budaya. “Ketika kita menguasai bahasa asing, jangan sampai melupakan akar,” pesannya.
Ia kemudian menghubungkan konsep pendidikan modern yang mengenal ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif dengan pemikiran Mohammad Sjafei yang menanamkan nilai hati, otak, dan tangan. Keduanya menunjukkan bahwa pendidikan perlu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter secara seimbang. “Jika ingin sukses, jangan pernah melupakan sejarah. Berbicara masa lalu bukan berarti kita tinggal di masa lalu,” ujar Prof. Ike. Ia juga mengajak generasi muda untuk berpikir kreatif dan menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Pemaparan tersebut dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang. Riskha Anggraini menyampaikan pandangannya bahwa pendidikan yang baik tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Sementara itu, Dhia Aurelia dari SMA Negeri 1 Bukittinggi menyoroti pentingnya lingkungan pendidikan yang mendukung kepercayaan diri, tanggung jawab, dan kreativitas siswa, termasuk melalui pengalaman praktik di lapangan.
Persoalan bahasa dan identitas budaya juga menjadi perhatian peserta. Naufal Ramadhan dari Universitas Negeri Padang (UNP) mengangkat pertanyaan mengenai upaya mempertahankan bahasa Minangkabau sebagai identitas budaya tanpa mengabaikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik, baik di lingkungan pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan lainnya disampaikan Hendra Gunawan dari Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial UNP, yang menyoroti penggunaan bahasa di media sosial, khususnya maraknya konten dengan bahasa yang tidak pantas. Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan falsafah Minangkabau, “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, serta tanggung jawab pengguna media sosial terhadap konten yang dapat diakses oleh berbagai kelompok usia.
Sementara itu, Amrika Wahyu Chania dari SMA Negeri 1 Ampek Angkek mempertanyakan kesenjangan antara pengetahuan akademik, pembentukan karakter, dan keterampilan peserta didik dalam sistem pendidikan Indonesia. Ia juga mengangkat pertanyaan mengenai aspek pemikiran Mohammad Sjafei yang perlu terus diperkuat, baik dari sisi konsep, penerapan, maupun komitmen dalam penyelenggaraan pendidikan.
Menanggapi berbagai pandangan tersebut, Prof. Ike kembali menegaskan bahwa bahasa memiliki pengaruh terhadap pola pikir dan pendidikan. “Sebaik-baik bahasa adalah bahasa daerah,” katanya. Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak berhenti belajar dan terus mengembangkan diri sepanjang hayat. “Ilmu tanpa agama bagaikan pohon tanpa daun,” ujarnya.
Selain berkontribusi melalui sesi pemaparan dan diskusi, FIB Unand turut menghadirkan stan pameran yang menampilkan beragam produk akademik dan kebudayaan. Stan tersebut menyajikan pameran buku, karya lukisan, pengenalan budaya Yukata, dan leaflet informasi seluruh program studi FIB Unand pada jenjang sarjana, magister, dan doktor. Melalui stan ini, pengunjung memperoleh informasi mengenai bidang keilmuan, aktivitas akademik, dan program pendidikan yang dikembangkan FIB Unand.
Partisipasi FIB Unand dalam kegiatan ini melibatkan pimpinan, jajaran manajer, tenaga kependidikan, Humas Muda FIB Unand, mahasiswa, dan perwakilan organisasi kemahasiswaan. Manajer I, Ria Febrina, S.S., M.Hum., turut hadir bersama unsur civitas academica lainnya, termasuk Sitiawati Serafina. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan dukungan bersama dalam memperkenalkan kiprah FIB Unand sekaligus memperkuat hubungan dengan masyarakat dan lembaga pendidikan.

Gambar 2. Foto bersama seluruh peserta wokrshop dalam rangka satu abad INS Kayutanam
Dalam rangkaian peringatan satu abad tersebut, FIB Unand juga menjalin kerja sama dengan Museum Mohammad Sjafei. Penandatanganan kerja sama dilakukan bersama perwakilan pihak museum, Elvira Chairil, yang merupakan ahli waris Mohammad Sjafei. Kerja sama tersebut turut diperkuat melalui penandatanganan Implementation Agreement (IA) sebagai bagian dari pengembangan hubungan kelembagaan dan kolaborasi dalam bidang pendidikan serta kebudayaan.
Museum Mohammad Sjafei menjadi salah satu ruang penting untuk mengenal perjalanan hidup, pemikiran, dan warisan tokoh pendidikan yang mendirikan INS Kayu Tanam pada 31 Oktober 1926. Museum ini diresmikan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, pada 23 Januari 2026. Kehadirannya memberikan ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenali sejarah pendidikan dan gagasan Mohammad Sjafei.
Rangkaian perayaan satu abad INS Kayu Tanam kemudian mencapai puncaknya pada malam hari melalui pertunjukan seni dan budaya, termasuk penampilan tari. Acara tersebut turut dihadiri perwakilan Gubernur Sumatera Barat dan Bupati Padang Pariaman, serta keluarga dan ahli waris Mohammad Sjafei. Berbagai penampilan seni menjadi bagian dari perayaan yang mempertemukan unsur pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga pendiri, alumni, dan masyarakat.
Melalui keterlibatan dalam kegiatan ini, FIB Unand menegaskan peran perguruan tinggi dalam merawat ingatan sejarah, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan memperkuat hubungan antara pendidikan dan kebudayaan. Pertemuan gagasan lintas generasi, pengenalan karya akademik, serta kerja sama dengan Museum Mohammad Sjafei menjadi bagian dari kontribusi FIB Unand dalam menjaga warisan pemikiran pendidikan agar tetap relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

Gambar 3. Malam puncak peringatan satu abad INS Kayutanam