LPK FIB Unand dan PBHI Sumbar Gelar Diskusi Publik: Membaca Kerusakan Alam Melalui Perspektif Ekokritik Sastra

Gambar 1. Dekan FIb Unand dengan para narasumber Diskusi Publik
PADANG, HUMAS FIB UNAND — Kamis, 3 September 2026
Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas bekerja sama dengan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) wilayah Sumatera Barat dalam menyelenggarakan kegiatan Diskusi Publik bertajuk "Membaca Kerusakan Alam Melalui Sastra: Perspektif Ekokritik dalam Merespons Krisis Lingkungan". Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB bertempat di Ruang Seminar FIB Universitas Andalas dan dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, jurnalis, serta aktivis lingkungan.
Diskusi publik ini digagas sebagai wujud keprihatinan bersama terhadap ancaman krisis ekologis yang kian masif, khususnya di wilayah Sumatera Barat. Pembukaan acara diawali secara formal oleh MC Putri Effendi dan Adeka Gusnanda, Dalam sambutannya Ketua PBHI Sumatera Barat menyampaikan “jika saat ini hukum dan HAM tidak mampu menjawab pertanyaan tentang kerusakan alam, maka sastra yang akan berbicara, “ucapnya. Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan FIB Universitas Andalas Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. CRP.
Memasuki sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Maryatul Kuptiah, diskusi mempertemukan empat pemateri dengan latar belakang beragam untuk membedah bagaimana krisis lingkungan tidak hanya menjadi persoalan sains dan kebijakan semata, melainkan juga dapat dibaca, direkam, dan dikritik melalui medium karya sastra.
Sesi pemaparan diawali oleh narasumber dari LPK FIB Unand, Mayang Puti Ifanny (Mahasiswi Sastra Indonesia FIB Unand). Mayang menyoroti bagaimana karya sastra bertindak sebagai arsip ekologis dan ingatan kolektif masyarakat. Ia mencermati puisi-puisi Indonesia kontemporer, seperti karya Taufiq Ismail dan Zawawi Imron, yang merekam keindahan alam sekaligus meratapi kepunahannya. Menurutnya, “ketika ekologi terancam, sastrawan memiliki tanggung jawab moril untuk menyuarakan kerusakan alam melalui bahasa estetis yang menyentuh kesadaran pembaca,”tuturnya tegas.
Selanjutnya, Dr. Syafril, M.Si., dosen Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas, memperdalam kajian ekokritik dari kacamata akademis. Beliau menjelaskan bagaimana kerusakan ekologis yang terjadi merupakan hal yang normal dan wajar. Dalam proses terjadinya kerusakan tersebut ada turut campur tangan manusia didalamnya, yang mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Dalam hal ini, kerusakan ekologi dihadapkan dengan relasi dan praktik hegemoni.
Aidil Ichlas, S.S., memberikan perspektif lapangan mengenai bagaimana realitas kerusakan lingkungan. Kondisi saat ini terlihat jelas bahwa sikap pemerintah yang masif terhadap kerusakan lingkungan, berbanding terbalik dengan sikap sastrawan yang mulai melek dengan kerusakan ekologi yang terjadi melalui penciptaan karya sastranya, selaras sudut pandang saudara Iffany dan Aidil. Disambung dengan sudut pandang hukum dan hak asasi manusia, Ridho Alsyukri, S.Hum., “ketika data statistik menyebutkan 'ribuan hektar hutan rusak', ekokritiik lah yang mempertanyakan berapa banyak korban kerusakan alam tersebut, ucapnya. Di sinilah sastra dan jurnalistik naratif masuk untuk memberi 'roh' pada data menampilkan penderitaan manusia, hilangnya tempat tinggal, serta kehancuran ekosistem secara personal dan menyentuh jiwa.
Suasana diskusi berlangsung sangat dinamis saat memasuki sesi tanya jawab. Para peserta dari berbagai latar belakang mengajukan pertanyaan kritis mengenai batas-batas daya ubah sastra terhadap kebijakan publik. Diskusi menghangatkan kesadaran bahwa sastra tidak boleh berhenti pada romantisisme keindahan alam semata, melainkan harus berani menjadi instrumen gugatan sosial yang membongkar praktik-praktik eksploitasi lingkungan.
Kegiatan diskusi publik ini ditutup secara resmi pada pukul 11.50 WIB oleh moderator dan MC. Melalui terselenggaranya acara ini, LPK FIB Unand dan PBHI Sumbar berharap dapat terus memantik daya kritis mahasiswa dan masyarakat luas dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta menumbuhkan karya-karya sastra bernuansa ekologis yang berani bersuara di tengah krisis iklim global.

Gambar 2. Foto bersama pimpinan FIB Unand, narasumber dengan peserta Diskusi Publik