Perkuat Budaya Pelayanan Profesional, FIB Unand Bekali Tenaga Kependidikan dengan Komunikasi dan Pelayanan Prima

Gambar 1. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama narasumber Robi Jaya Putra, M.Ikom.

Kemampuan berkomunikasi dengan baik menjadi salah satu kunci dalam menghadirkan pelayanan yang profesional, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna layanan. Berangkat dari pentingnya hal tersebut, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) menggelar kegiatan capacity building bertema “Komunikasi dan Pelayanan Prima” di Ruang Sidang Dekanat FIB Unand, Kamis, 22 Oktober 2026.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., dan dihadiri oleh Wakil Dekan I, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II, Alex Darmawan, S.S., M.A., jajaran manajer bidang, serta seluruh tenaga kependidikan di lingkungan FIB Unand. Hadir sebagai narasumber, Robi Jaya Putra, M.Ikom., dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas yang memiliki keahlian di bidang komunikasi korporat, branding, dan public speaking.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Unand menekankan pentingnya komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pelayanan di lingkungan fakultas. Tenaga kependidikan memiliki peran strategis dalam mendukung kelancaran layanan akademik dan administratif sehingga kompetensi komunikasi, sikap profesional, dan kepedulian terhadap kebutuhan pengguna layanan perlu terus diperkuat. “Peningkatan kualitas pelayanan perlu menjadi komitmen bersama. Tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan layanan di lingkungan fakultas. Karena itu, kemampuan berkomunikasi, sikap profesional, dan kepedulian terhadap kebutuhan pengguna layanan perlu terus diperkuat,” ungkap Prof. Ike Revita.

Dalam pemaparan materinya, Bapak Robi Jaya Putra, M.Ikom. mengajak peserta memahami bahwa pelayanan prima (service excellence) tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga dengan cara membangun komunikasi, memahami kebutuhan, dan memberikan respons yang tepat kepada pengguna layanan. Pelayanan yang berkualitas dapat menumbuhkan kepercayaan, menciptakan kepuasan, membuat pengguna layanan merasa dihargai, dan membangun hubungan yang positif dengan institusi. “Pelayanan prima tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga oleh cara kita berkomunikasi, memahami kebutuhan, dan merespons pengguna layanan. Sikap ramah, perhatian, serta tanggung jawab perlu hadir dalam setiap interaksi,” ujar Bapak Robi Jaya Putra.

Materi yang disampaikan juga menguraikan enam konsep utama pelayanan prima atau 6A, yakni ability (kemampuan), attitude (sikap), appearance (penampilan), attention (perhatian), action (tindakan), dan accountability (tanggung jawab). Keenam aspek tersebut menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak ditentukan oleh keterampilan teknis semata, tetapi juga oleh sikap, kepedulian, tindakan nyata, dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas layanan yang diberikan.

Kemampuan berkomunikasi secara efektif dan pemahaman terhadap bidang kerja menjadi fondasi penting dalam pelayanan. Sikap ramah, penampilan profesional, kepekaan dalam memahami kebutuhan, dan ketanggapan dalam memberikan bantuan turut membentuk pengalaman pengguna layanan. Pelayanan yang baik juga membutuhkan ketelitian dalam memahami permintaan, melakukan konfirmasi, melaksanakan layanan secara tepat, dan menyampaikan respons dengan santun.

Lebih jauh, komunikasi yang efektif berperan dalam membangun kepercayaan sekaligus mengurangi potensi kesalahpahaman. Setiap kebutuhan perlu didengarkan dengan saksama, dipahami secara tepat, dan ditindaklanjuti dengan penuh tanggung jawab. Prinsip ini menjadi bagian penting dalam membangun pelayanan yang tidak hanya efisien, tetapi juga memberikan rasa nyaman dan dihargai kepada setiap pengguna layanan.

Pemaparan materi berlangsung dalam suasana diskusi yang interaktif. Para peserta berkesempatan bertukar pandangan dan membahas pentingnya komunikasi dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Diskusi tersebut menjadi ruang untuk memperluas perspektif sekaligus memperkuat pemahaman bahwa kualitas pelayanan merupakan tanggung jawab bersama.

Bagi tenaga kependidikan, prinsip pelayanan prima dapat diterapkan dalam berbagai situasi, mulai dari memberikan informasi akademik dan administratif, menanggapi pertanyaan, membantu menyelesaikan kendala, hingga berkoordinasi dengan rekan kerja. Setiap interaksi merupakan bagian dari pengalaman pengguna layanan sekaligus mencerminkan kualitas tata kelola institusi.

Melalui kegiatan capacity building ini, FIB Unand mendorong agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten dalam pelaksanaan tugas. Penguatan kompetensi komunikasi dan pelayanan diharapkan mendukung terciptanya lingkungan kerja yang lebih kolaboratif, profesional, dan peka terhadap kebutuhan pengguna layanan.

Pada akhirnya, pelayanan prima bertumpu pada komitmen setiap individu untuk menjalankan tugas dengan kemampuan, kepedulian, dan tanggung jawab. Dengan membangun kebiasaan berkomunikasi secara efektif dan memberikan pelayanan yang berkualitas, tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan mutu layanan dan penguatan institusi FIB Unand.

Gambar 2. Foto bersama peserta Capacity Building FIB Unand