Mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand Raih Terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026

Gambar 1. Dwito Devid Riandoni, Mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand raih terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Dwito Devid Riandoni, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris angkatan 2023, berhasil meraih predikat Terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026 dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Barat yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatra Barat.

Pemilihan Duta Bahasa Sumatra Barat merupakan ajang yang bertujuan melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing. Para peserta dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan yang mampu menyampaikan pesan kebahasaan dan kebudayaan kepada masyarakat secara luas.

Proses seleksi berlangsung ketat. Seluruh finalis mengikuti karantina selama enam hari, mulai 10 hingga 15 Mei 2026. Dalam periode tersebut, peserta menjalani berbagai tahapan pembinaan dan penilaian, seperti psikotes, pelatihan kebahasaan, penulisan artikel, presentasi program krida, wawancara, wicara publik, malam talenta, hingga penilaian kemampuan bahasa asing.

Dwito Devid Riandoni mengaku bahwa pengalaman selama karantina memberinya banyak pelajaran baru, terutama tentang pentingnya komunikasi, kerja sama, dan kemampuan menyampaikan gagasan kepada masyarakat. “Yang paling berkesan bukan hanya kompetisinya, tetapi kesempatan untuk bertemu banyak anak muda yang memiliki kepedulian yang sama terhadap bahasa dan budaya,” ujarnya.

Dalam kompetisi tersebut, Dwito mengusung program krida berjudul “Forum Kreta Tanggap Aksara”. Program ini dirancang sebagai ruang edukasi dan penguatan literasi yang mendorong masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda, untuk lebih peduli terhadap kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi secara kritis.

Menurut Dwito, kemampuan literasi menjadi salah satu kebutuhan penting di era digital. Arus informasi yang sangat cepat harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menyaring informasi secara bijak. “Literasi bukan hanya soal membaca buku. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan menggunakan bahasa secara tepat dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, Dwito melihat bahwa penguasaan bahasa asing harus berjalan beriringan dengan kecintaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Baginya, ketiga unsur tersebut bukanlah sesuatu yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi.

Prestasi yang diraih Dwito menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menunjukkan kompetensi yang unggul dalam bidang kebahasaan sekaligus memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Ia berharap program yang telah dirancang dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat setelah ajang Duta Bahasa berakhir. “Prestasi ini bukan hanya tentang saya. Ini tentang bagaimana kita bersama-sama menjaga bahasa, meningkatkan literasi, dan memastikan generasi muda tetap memiliki ruang untuk belajar dan berkembang,” tuturnya. Keberhasilan Dwito Devid Riandoni meraih predikat Terbaik II Duta Bahasa Sumatra Barat 2026 menambah daftar prestasi mahasiswa FIB Unand di tingkat provinsi sekaligus memperkuat posisi FIB Unand sebagai pusat pengembangan bahasa, sastra, dan budaya di Sumatra Barat.

“Keberhasilan Dwito Devid Riandoni menjadi bukti bahwa kemampuan berbahasa, literasi, dan kepedulian terhadap budaya merupakan kompetensi penting yang perlu terus dikembangkan oleh generasi muda. FIB Unand akan selalu mendukung mahasiswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang unggul, kreatif, dan berdaya saing,” Ujar  Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. 

Gambar 2. Dwito Devid Riandoni, Mahasiswa Sastra Inggris FIB Unand dalam acara malam penganugerahan Duta Bahasa Sumatera Barat 2026

Dekan FIB Unand Hadiri Seminar 100 Tahun Jam Gadang dalam Perspektif pada IMLF 2026

Gambar 1. Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP bersama Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas sekaligus Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, S.E., M.Si.,

Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP menghadiri Seminar 100 Tahun Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif yang diselenggarakan dalam rangkaian International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 Tahun 2026 di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi pada Kamis, 4 Juni 2026. Kehadiran Dekan FIB Unand didampingi oleh Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. sebagai bentuk dukungan FIB Unand terhadap upaya pelestarian sejarah, budaya, dan literasi Minangkabau di tingkat nasional maupun internasional.

Seminar tersebut merupakan salah satu agenda utama peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang diinisiasi Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan Yayasan Satu Pena Sumatera Barat melalui penyelenggaraan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4. Berdasarkan undangan resmi Pemerintah Kota Bukittinggi, seminar mengangkat tema “Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif” dan menghadirkan berbagai akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, serta pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Minangkabau.

Kegiatan ini menjadi semakin istimewa karena dilaksanakan bertepatan dengan momentum satu abad Jam Gadang sebagai ikon sejarah, identitas budaya, sekaligus landmark Kota Bukittinggi. Seminar juga menjadi bagian dari rangkaian IMLF ke-4 yang berlangsung pada 3–7 Juni 2026 dengan mengusung semangat literasi, kebudayaan, dan pembelajaran lintas bangsa. IMLF tahun ini melibatkan ratusan delegasi dari berbagai negara dan menjadi salah satu forum internasional terbesar yang pernah diselenggarakan di Bukittinggi. Menurut panitia, delegasi yang hadir berasal dari puluhan negara dan mewakili kalangan akademisi, penulis, peneliti, sastrawan, seniman, mahasiswa, hingga pegiat literasi dunia.

Selain Dekan dan Manajer I FIB Unand, seminar turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Andalas sekaligus Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Denny Abdi, S.E., M.Si., Ketua DPRD Kota Bukittinggi, H. Syaiful Efendi, Lc., M.A.,  unsur pemerintah daerah, akademisi, budayawan, serta delegasi internasional yang mengikuti rangkaian IMLF 2026 seperti Summer Xia, ia merupakan delegasi dari Inggris yang menjabat sebagai Direktur British Council Indonesia dan South East Asia.

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP dan Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. bersama Ketua DPRD Kota Bukittinggi, H. Syaiful Efendi, Lc., M.A.

Dalam seminar tersebut, para narasumber membahas Jam Gadang dari berbagai sudut pandang, mulai dari sejarah pembangunan, identitas kota, arsitektur, kebudayaan, literasi, pariwisata, hingga perannya sebagai simbol kolektif masyarakat Bukittinggi dan Minangkabau. Diskusi juga menyoroti bagaimana sebuah bangunan bersejarah tidak hanya dipahami sebagai warisan fisik, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, pembelajaran, dan refleksi sosial lintas generasi.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menilai bahwa peringatan 100 tahun Jam Gadang merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan warisan budaya yang dimiliki. "Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu bagi Kota Bukittinggi. Ia adalah penanda perjalanan sejarah, identitas budaya, dan memori kolektif masyarakat Minangkabau. Ketika kita memperingati satu abad Jam Gadang, yang sesungguhnya kita rawat adalah kesadaran akan akar sejarah dan nilai-nilai budaya yang membentuk jati diri kita hari ini," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghubungkan warisan masa lalu dengan tantangan masa kini melalui kajian ilmiah, pendidikan, dan literasi budaya. "Budaya tidak akan bertahan hanya karena diwariskan, tetapi karena dipahami, dipelajari, dan dimaknai kembali oleh generasi penerusnya. Karena itu, forum-forum seperti ini sangat penting untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya di tengah perubahan zaman," tambahnya.

Sementara itu, Manajer I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., menekankan pentingnya literasi budaya sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. "Literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berarti kemampuan memahami sejarah, budaya, dan lingkungan sosial tempat kita hidup. Melalui kegiatan seperti IMLF, masyarakat diajak untuk melihat kembali nilai-nilai budaya sebagai sumber pembelajaran yang relevan bagi masa depan," ujar Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum.

Tema besar IMLF 2026, yakni “Dari Literasi ke Lestari: Membangun Kesejahteraan, Perdamaian, dan Pembelajaran Tanpa Henti”, sejalan dengan komitmen FIB Unand dalam menjadikan bahasa, sejarah, dan budaya sebagai sarana pembelajaran yang berkelanjutan. Bagi FIB Unand, warisan budaya seperti Jam Gadang tidak hanya penting untuk dilestarikan, tetapi juga perlu terus dimaknai sebagai sumber pengetahuan yang memperkuat identitas bangsa sekaligus membuka ruang dialog dengan masyarakat dunia.

Melalui keikutsertaan dalam seminar tersebut, FIB Unand kembali menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pelestarian sejarah, pengembangan literasi, dan penguatan kebudayaan sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kehadiran FIB Unand dalam forum internasional seperti IMLF juga menjadi wujud nyata peran akademisi dalam menjaga relevansi warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.

FIB Unand Kukuhkan DLM dan Presiden Mahasiswa Terpilih Periode 2026

Gambar 1. Pelantikan DLM oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas melaksanakan pelantikan Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) serta serah terima jabatan (Sertijab) Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Unand periode 2026 pada Kamis, 11 Juni 2026 di Ruang Seminar FIB Unand. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam proses regenerasi kepemimpinan organisasi kemahasiswaan sekaligus penguatan tata kelola demokrasi mahasiswa di lingkungan FIB Unand.

Acara dihadiri oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Manajer I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., panitia Pemilihan Raya (Pemira) FIB Unand 2026, pengurus BEM periode sebelumnya, pengurus baru, serta mahasiswa dari berbagai program studi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta laporan dari panitia Pemira FIB Unand 2026. Suasana berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan sebagai simbol berjalannya proses demokrasi mahasiswa yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Pada kesempatan tersebut, Dekan FIB Unand secara resmi melantik dan mengambil sumpah anggota Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) periode 2026. Adapun susunan kepengurusan DLM yang dilantik terdiri atas Busron Habib sebagai Ketua, Rasmulianda sebagai Wakil Ketua, Rizky Aulia Maharani sebagai Sekretaris, dan Amanda Restia sebagai Bendahara.

Dalam struktur organisasi kemahasiswaan FIB Unand, DLM memiliki fungsi strategis sebagai lembaga legislatif mahasiswa yang bertugas melakukan pengawasan, memberikan pertimbangan, serta menjadi mitra kritis bagi Badan Eksekutif Mahasiswa. Selain itu, DLM juga memiliki kewenangan dalam melantik Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa terpilih.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP. menegaskan bahwa organisasi mahasiswa merupakan ruang belajar kepemimpinan yang penting bagi pengembangan karakter dan kapasitas mahasiswa. “Organisasi kemahasiswaan bukan sekadar tempat menjalankan program kerja, melainkan ruang belajar untuk bertanggung jawab, berkolaborasi, dan membangun kepemimpinan yang berintegritas. Saya berharap DLM dan BEM dapat menjadi mitra strategis fakultas dalam menciptakan lingkungan akademik yang dinamis dan produktif,” ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Setelah pelantikan DLM, kegiatan dilanjutkan dengan pelantikan dan serah terima jabatan Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa BEM FIB Unand periode 2026. Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua DLM yang baru dilantik.

Pada kesempatan tersebut, Wahyu Rafael Lingga dari Program Studi Ilmu Sejarah angkatan 2024 resmi dilantik sebagai Presiden Mahasiswa FIB Unand periode 2026, didampingi Anwar Ikhsan Maulana dari Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024 sebagai Wakil Presiden Mahasiswa. 

Gambar 2. serah terima jabatan (Sertijab) Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Unand periode 2026

Prosesi serah terima jabatan berlangsung penuh makna sebagai simbol keberlanjutan kepemimpinan mahasiswa dari pengurus sebelumnya kepada pengurus yang baru. Penandatanganan berita acara, penyerahan dokumen organisasi, dan penyampaian pesan dari pengurus sebelumnya menjadi bagian penting dalam rangkaian acara tersebut.

Ketua DLM, Busron Habib, menyampaikan bahwa DLM akan menjalankan fungsi pengawasan secara konstruktif serta mendukung program-program yang berdampak positif bagi mahasiswa. “Kami berkomitmen menjalankan amanah ini secara profesional dan objektif. DLM hadir untuk memastikan organisasi kemahasiswaan berjalan sesuai fungsi dan tujuan, sekaligus menjadi ruang aspirasi bagi seluruh mahasiswa FIB Unand,” ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa terpilih, Wahyu Rafael Lingga, menyampaikan komitmennya untuk menghadirkan organisasi mahasiswa yang lebih inklusif dan kolaboratif. “Kepercayaan ini adalah amanah besar. Kami ingin membangun BEM yang terbuka, responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi pengembangan akademik maupun nonakademik mahasiswa FIB Unand,” ujarnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi yang menambah suasana reflektif dan apresiatif terhadap proses regenerasi kepemimpinan mahasiswa. Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara pimpinan fakultas, pengurus DLM, pengurus BEM periode lama dan baru, panitia Pemira, serta seluruh peserta yang hadir.

Melalui pelantikan dan serah terima jabatan ini, FIB Unand kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kepemimpinan mahasiswa, budaya demokrasi kampus, serta terciptanya organisasi kemahasiswaan yang aktif, kritis, dan berkontribusi positif bagi kemajuan fakultas maupun masyarakat.

Gambar 3. Foto bersama pimpinan FIB Unand dengan Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) serta serah terima jabatan (Sertijab) Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB Unand periode 2026 

Tim Nihongo Gakkou FIB Unand Raih Silver Medal dan Best Idea pada Ajang Catalyst Future Competition Nasional 2026 

Gambar 1. Tim Nihongo Gakkou berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas di tingkat nasional. Tim Nihongo Gakkou yang diketuai oleh Arya Alghifari berhasil meraih Silver Medal (Juara II) sekaligus penghargaan Best Idea pada subtema Seni dan Budaya dalam ajang Catalyst Future Competition: National Essay & Business Plan x Asia Chapter Padang 2026 yang diselenggarakan pada 23 Mei 2026.

Kompetisi tingkat nasional tersebut diikuti oleh peserta dari sekitar 48 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pada kesempatan itu, Arya Alghifari selaku ketua tim juga menjadi perwakilan utama yang mempresentasikan gagasan tim di hadapan dewan juri.

Tim Nihongo Gakkou terdiri atas Arya Alghifari sebagai ketua tim, bersama Ikka Aprillia, Leica Zahra Asanda, Nadjwa Putri Rinalita, dan Tyo Muhammad Rizki. Dalam kompetisi tersebut, mereka dibimbing oleh Imelda Indah Lestari, M.Hum.

Tim ini mengusung esai berjudul “Dari Tradisi ke Transformasi Digital: Model Inovasi Kolaboratif Mahasiswa, Influencer, dan Pengrajin dalam Membangun Ekosistem Ekonomi Berkelanjutan Songket Pandai Sikek dan Silungkang Menuju Pasar Global.”

Gagasan Inovatif untuk Pelestarian Songket Dalam esai tersebut, tim mengangkat persoalan menurunnya minat generasi muda terhadap songket Pandai Sikek dan Silungkang di tengah perkembangan teknologi dan arus budaya global. Tim menawarkan sebuah model kolaboratif yang mempertemukan mahasiswa, influencer digital, dan pengrajin songket dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Mahasiswa diposisikan sebagai agen inovasi yang mengembangkan desain fashion modern berbasis motif songket. Di sisi lain, influencer berperan memperluas promosi melalui media digital, sedangkan pengrajin menjaga autentisitas nilai budaya dan kualitas produk songket. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas pasar songket hingga tingkat internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengrajin lokal.

Selain itu, tim juga merancang peta implementasi program yang mencakup proses rekrutmen mahasiswa, pengembangan desain, produksi kolaboratif, hingga promosi digital berbasis media sosial dan platform e-commerce. Gagasan tersebut dinilai memiliki nilai inovasi yang kuat karena mengintegrasikan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi kreatif berbasis teknologi.

Keberhasilan meraih dua penghargaan sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand tidak hanya mampu menghasilkan gagasan akademik yang berkualitas, tetapi juga menawarkan solusi nyata terhadap persoalan budaya dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Ketua tim, Arya Alghifari, mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih bersama timnya. “Kami ingin menunjukkan bahwa budaya tidak harus bertahan sebagai kenangan masa lalu. Dengan inovasi dan kolaborasi yang tepat, warisan budaya seperti songket dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang relevan bagi generasi muda dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Arya.

Arya menambahkan bahwa penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi dirinya dan tim untuk terus mengembangkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat. “Prestasi ini bukan hanya tentang memenangkan lomba, melainkan tentang bagaimana ide yang kami susun dapat menjadi inspirasi dalam menjaga budaya lokal melalui pendekatan yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, dosen pembimbing, Imelda Indah Lestari, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas kerja keras dan kesungguhan tim selama proses penyusunan karya. “Keberhasilan ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Mereka tidak hanya memahami budaya sebagai warisan, tetapi juga mampu merancang strategi agar budaya tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” tuturnya.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, turut mengapresiasi capaian tersebut. “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menghadirkan gagasan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pelestarian budaya melalui inovasi dan transformasi digital merupakan langkah penting dalam menjaga identitas bangsa sekaligus membuka peluang ekonomi di masa depan,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.  

Prestasi yang diraih Tim Nihongo Gakkou diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan membawa nilai-nilai budaya Indonesia ke panggung yang lebih luas melalui penelitian, kreativitas, dan kolaborasi lintas bidang. 

Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Juara III Lomba Esai Nasional Bertema Etika AI

Gambar 1. Arya Alghifari, Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand Raih Juara III Lomba Esai Nasional

Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas di tingkat nasional. Arya Alghifari, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024, berhasil meraih Juara III dalam Kompetisi Esai Nasional Public In Frame 2026 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.

Kompetisi tingkat nasional tersebut mengangkat tema “Generasi Cerdas di Era Kecerdasan Buatan untuk Mewujudkan Indonesia Maju” dengan berbagai subtema yang relevan dengan perkembangan teknologi dan tantangan generasi muda saat ini. Arya berhasil meraih penghargaan pada subtema “Batasan Moral dalam Penggunaan Teknologi AI” di bawah bimbingan dosen FIB Unand, Imelda Indah Lestari, M.Hum.

Dalam kompetisi tersebut, Arya mengangkat esai berjudul “Inovasi Sistem Pembatasan Peran AI sebagai Alat Teknis, Bukan Sumber Gagasan, dalam Penulisan Karya Sastra Mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.” Esai tersebut menawarkan sebuah model penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang tetap mendukung proses pembelajaran tanpa menghilangkan kreativitas dan keaslian gagasan mahasiswa.

Melalui gagasannya, Arya menyoroti fenomena meningkatnya penggunaan AI dalam dunia akademik, khususnya dalam penulisan karya sastra mahasiswa. Menurutnya, teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu teknis untuk memperbaiki tata bahasa, struktur kalimat, maupun pilihan diksi, tetapi tidak boleh mengambil alih proses berpikir dan penciptaan ide yang menjadi inti dari karya sastra.

Dalam esainya, Arya menawarkan sistem pembatasan yang menempatkan AI sebagai pendukung proses penulisan, bukan sebagai sumber utama gagasan. Sistem tersebut mencakup penyusunan ide secara mandiri, penulisan draf tanpa bantuan AI, penggunaan AI hanya untuk penyuntingan teknis, dokumentasi penggunaan AI, refleksi kritis mahasiswa, hingga evaluasi berbasis proses oleh dosen. Pendekatan tersebut bertujuan menjaga integritas akademik sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi secara bijak.

Arya Alghifari mengaku tertarik mengangkat isu tersebut karena melihat perkembangan teknologi AI yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. “AI adalah teknologi yang tidak bisa kita hindari. Namun, saya percaya bahwa teknologi seharusnya membantu manusia berpikir lebih baik, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri. Melalui esai ini saya ingin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan integritas akademik dapat berjalan beriringan,” ujar Arya.

Ia juga berharap gagasan yang ditawarkannya dapat menjadi bahan diskusi dalam pengembangan kebijakan akademik di masa depan. “Karya sastra lahir dari pengalaman, perasaan, dan refleksi manusia. AI dapat membantu merapikan kata-kata, tetapi makna dan jiwa sebuah karya tetap harus lahir dari manusianya,” tambahnya.

Dosen pembimbing, Imelda Indah Lestari, M.Hum., mengapresiasi keberhasilan Arya yang mampu mengangkat isu yang sangat relevan dengan dunia pendidikan saat ini. “Topik yang diangkat Arya menunjukkan kepekaan terhadap perkembangan zaman sekaligus kepedulian terhadap integritas akademik. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB Unand mampu menghadirkan gagasan kritis yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan aspek etika dan kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., turut menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa FIB Unand tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga mampu memberikan perspektif kritis terhadap penggunaannya. Di era kecerdasan buatan, kemampuan berpikir, beretika, dan menjaga orisinalitas gagasan menjadi nilai yang semakin penting,” ungkap Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Keberhasilan Arya Alghifari menambah daftar prestasi mahasiswa FIB Unand di tingkat nasional sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa humaniora memiliki kontribusi penting dalam membahas berbagai isu strategis, termasuk perkembangan kecerdasan buatan dan dampaknya terhadap dunia pendidikan serta kebudayaan.

Melalui capaian ini, FIB Unand terus menegaskan komitmennya dalam mendorong mahasiswa untuk menghasilkan gagasan-gagasan inovatif, kritis, dan relevan dengan tantangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai akademik dan kemanusiaan yang menjadi fondasi utama pendidikan tinggi.

Angkat Potensi Lokal Sumbar, Arya Alghifari Sabet Juara I Poster Nasional dan Juara Favorit 

Gambar 1. Arya Alghifari, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024, berhasil meraih Juara I sekaligus Juara Favorit pada ajang Economy Creative Competition (ECOC) 2026 tingkat nasional

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas. Arya Alghifari, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang angkatan 2024, berhasil meraih Juara I sekaligus Juara Favorit pada ajang Economy Creative Competition (ECOC) 2026 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Departemen Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Padang periode 2025/2026.

Kompetisi yang berlangsung pada 7 Mei - 6 Juni 2026 tersebut mengangkat tema “Digitalisasi Cerdas Hari Ini, Masa Depan Gemilang Esok Hari”. Arya memilih subtema Optimalisasi Potensi Lokal sebagai Sumber Inovasi Ekonomi Kreatif dan berhasil memikat dewan juri melalui karya poster berjudul “Digitalisasi Rantai Pasok: Sinergi Cerdas Mina Padi dan UMKM Pecel Lele Menuju Sumbar Mandiri.”

Keberhasilan tersebut menambah daftar prestasi nasional yang diraih mahasiswa FIB Unand dalam bidang inovasi, kreativitas, dan pengembangan potensi lokal berbasis teknologi. Poster karya Arya mengangkat konsep sinergi antara sistem mina padi dan pelaku UMKM pecel lele sebagai model ekonomi kreatif berkelanjutan di Sumatera Barat. Mina padi merupakan sistem pertanian yang menggabungkan budidaya padi dan ikan air tawar dalam satu lahan sawah sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi petani.

Melalui poster tersebut, Arya menggambarkan bagaimana digitalisasi dapat membantu membangun rantai pasok yang lebih terarah antara petani dan pelaku UMKM. Hasil panen ikan tidak lagi dipasarkan secara acak, melainkan disalurkan melalui sistem kerja sama yang terintegrasi dan didukung oleh media digital untuk komunikasi, promosi, serta distribusi produk.

Menurut Arya, gagasan tersebut lahir dari keinginannya untuk melihat potensi lokal Sumatera Barat berkembang melalui kolaborasi yang sederhana namun berdampak nyata bagi masyarakat. “Saya ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Potensi yang sudah ada di sekitar kita dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dengan kolaborasi yang baik dan didukung oleh teknologi digital,” ujar Arya.

Ia menjelaskan bahwa konsep yang ditawarkannya tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Mina padi memberikan keuntungan bagi petani, sementara UMKM mendapatkan pasokan bahan baku yang lebih stabil dan terjangkau. Jika didukung sistem digital yang tepat, hubungan ini dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan,” tambahnya.

Berdasarkan deskripsi poster yang disusun Arya, sistem tersebut diharapkan mampu menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara petani dan UMKM. Petani memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panen ikan, sementara UMKM mendapatkan pasokan ikan segar dengan harga yang lebih stabil sehingga dapat meningkatkan efisiensi usaha.

Dosen FIB Unand, Imelda Indah Lestari, M.Hum., menyampaikan apresiasi atas capaian Arya yang berhasil mengangkat isu ekonomi kreatif dengan pendekatan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Karya Arya menunjukkan bahwa mahasiswa humaniora juga mampu menghadirkan gagasan inovatif yang menyentuh persoalan ekonomi dan pembangunan daerah. Yang menarik, ia mampu menghubungkan potensi lokal dengan pemanfaatan teknologi digital secara sederhana namun aplikatif,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., turut mengapresiasi prestasi tersebut. “Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa FIB Unand memiliki kemampuan untuk membaca potensi lokal dan mengembangkannya menjadi gagasan yang inovatif. Kreativitas yang berpijak pada kebutuhan masyarakat merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah,” ungkap Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan Arya menjadi bukti bahwa mahasiswa FIB tidak hanya unggul dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Keberhasilan meraih dua penghargaan sekaligus pada ajang nasional tersebut menjadi pencapaian yang membanggakan bagi Arya, Program Studi Sastra Jepang, dan FIB Unand. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, serta menghadirkan solusi kreatif yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah.