Implementasi PKS, FIB Unand Terima Mahasiswa Magang UIN Imam Bonjol Padang di Perpustakaan Fakultas

Gambar 1. Penerimaan magang mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas memperkuat kolaborasi akademik melalui implementasi Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Implementation Agreement (IA) yang telah terjalin dengan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Sebagai tindak lanjut dari kerja sama tersebut, FIB Universitas Andalas menerima dua mahasiswa Program Studi D-3 Ilmu Perpustakaan untuk melaksanakan program magang di Perpustakaan FIB Universitas Andalas.

Kegiatan penerimaan mahasiswa magang berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan dipimpin langsung oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., didampingi Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang Umum dan Keuangan Adrianis, S.S., M.A., beserta jajaran tenaga kependidikan terkait. Dari pihak UIN Imam Bonjol Padang turut hadir perwakilan dosen Fakultas Adab dan Humaniora yang mengantarkan mahasiswa magang sekaligus melakukan koordinasi pelaksanaan program.

Adapun mahasiswa yang mengikuti program magang tersebut adalah Nur Aisyah Azahra (NIM 2401030011) dan Sri Mutia Nandika (NIM 2401030015), keduanya merupakan mahasiswa Program Studi D-3 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang.

Dalam sambutannya, Prof. Ike Revita menyampaikan bahwa pelaksanaan program magang merupakan wujud nyata implementasi kerja sama yang telah disepakati kedua institusi beberapa waktu lalu. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya bertanggung jawab menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi profesional melalui pengalaman langsung di lapangan. "Kerja sama antarlembaga akan memberikan manfaat apabila diikuti dengan program nyata. Kehadiran mahasiswa magang ini merupakan implementasi dari komitmen bersama untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih aplikatif sekaligus memperkuat sinergi akademik antara FIB Universitas Andalas dan UIN Imam Bonjol Padang," ujar Prof. Ike Revita.

Selama menjalani program magang, kedua mahasiswa akan ditempatkan di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Mereka akan terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas pengelolaan perpustakaan, mulai dari inventarisasi koleksi, penataan dan klasifikasi bahan pustaka, penyusunan rekapitulasi data koleksi, pengelolaan administrasi perpustakaan, hingga membantu optimalisasi layanan informasi kepada sivitas akademika. Selain itu, mahasiswa juga akan memperoleh pengalaman mengenai tata kelola perpustakaan perguruan tinggi, pengarsipan dokumen, serta penerapan sistem layanan perpustakaan yang mendukung kebutuhan akademik.

Program ini diharapkan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan sekaligus mengembangkan keterampilan profesional di bidang pengelolaan perpustakaan dan informasi. Di sisi lain, kehadiran mahasiswa magang juga diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan Perpustakaan FIB Universitas Andalas melalui berbagai kegiatan penataan koleksi dan administrasi perpustakaan.

Perwakilan dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang menyampaikan apresiasi atas kesediaan FIB Universitas Andalas menerima mahasiswa magang. Menurutnya, pengalaman belajar di lingkungan kerja yang sesungguhnya akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dunia profesional setelah menyelesaikan studi. "Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar secara langsung dari praktik pengelolaan perpustakaan di perguruan tinggi. Pengalaman tersebut tentu akan melengkapi kompetensi yang telah mereka peroleh selama mengikuti perkuliahan," ujarnya.

Program magang ini merupakan implementasi dari PKS dan IA antara FIB Universitas Andalas dan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang yang ditandatangani pada Mei 2026. Kerja sama tersebut difokuskan pada pengembangan bidang pendidikan, program magang mahasiswa, pengelolaan perpustakaan, penelitian, serta berbagai kegiatan akademik lainnya sebagai upaya memperkuat sinergi kedua institusi.

Melalui implementasi kerja sama ini, FIB Universitas Andalas berharap hubungan kelembagaan yang telah terjalin tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan budaya akademik yang berkelanjutan. 

Gambar 2. Foto bersama mahasiswa magang dari UIN IB Padang dengan Pimpinan Fakultas Ilmu Budaya Unand

Kunjungan IIUM ke FIB Unand Bahas Keterkaitan Arsitektur, Budaya, dan Warisan Dunia

Gambar 1. Seminar kunjungan IIUM ke FIB Unand dalam rangka mengkaji arsitektur dan budaya di Minangkabau

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menerima kunjungan akademik dari delegasi Program Studi Arsitektur International Islamic University Malaysia (IIUM) pada Senin 13 Juli 2026 di Ruang Seminar FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini Mengusung tema "Menjembatani Peradaban melalui Arsitektur dan Budaya", kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi Indonesia dan Malaysia mengenai keterkaitan arsitektur, sejarah, budaya, arkeologi, serta kearifan lokal dalam membentuk identitas suatu peradaban.

Kegiatan dibuka oleh Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., yang menyampaikan bahwa kolaborasi lintas negara menjadi bagian penting dalam memperluas wawasan akademik sekaligus memperkuat jejaring internasional antarinstitusi. Menurutnya, budaya merupakan titik temu berbagai disiplin ilmu yang mampu melahirkan perspektif baru dalam pengembangan keilmuan. "Kami menyambut baik kunjungan akademik ini sebagai ruang untuk saling belajar dan berbagi pengetahuan. Budaya merupakan jembatan yang mampu mempertemukan berbagai disiplin ilmu, termasuk arsitektur. Melalui forum seperti ini, kita tidak hanya memperkuat kerja sama antarinstitusi, tetapi juga memperkaya perspektif dalam memahami peradaban melalui pendekatan humaniora," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Perwakilan delegasi IIUM turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan FIB Universitas Andalas. Menurutnya, kunjungan ini menjadi kesempatan berharga untuk memperluas pemahaman mengenai kekayaan warisan budaya Indonesia sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik yang berkelanjutan antara kedua perguruan tinggi.

Memasuki sesi akademik, para peserta diajak melihat bahwa arsitektur tidak hanya dipahami sebagai ilmu yang mempelajari bangunan dan ruang, tetapi juga sebagai representasi sejarah, budaya, identitas, dan pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perspektif inilah yang menjadi titik temu antara disiplin arsitektur dan humaniora, karena keduanya sama-sama memandang ruang sebagai hasil interaksi manusia dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam.

Presentasi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Herwandi, M.Hum. melalui materi bertajuk Rumah Gadang Minangkabau: Dari Aspek Arsitektur Tahan Gempa sampai Revitalisasi Ukiran untuk Motif Batik. Ia menjelaskan bahwa Rumah Gadang merupakan wujud kecerdasan lokal masyarakat Minangkabau yang lahir dari proses adaptasi terhadap kondisi geografis Sumatra Barat yang rawan gempa. Selain memiliki konstruksi yang kokoh, Rumah Gadang juga merepresentasikan sistem sosial masyarakat melalui tata ruang, bentuk bangunan, hingga ragam ukiran yang mengandung nilai-nilai filosofis.

Menurut Prof. Herwandi, arsitektur tradisional tidak hanya layak dipandang sebagai warisan fisik, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan budaya yang terus hidup dan relevan dengan perkembangan zaman. "Arsitektur tradisional tidak sekadar warisan fisik, tetapi juga menyimpan pengetahuan, filosofi, dan identitas budaya yang harus terus dipelajari serta dikembangkan sesuai konteks zaman," jelas Prof. Herwandi.

Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Eka Meigalia melalui paparan bertajuk Tradisi Lisan, Pengetahuan Seputar Tumbuhan, dan Kuliner Minangkabau. Ia menjelaskan bahwa tradisi lisan tidak hanya berfungsi sebagai media pewarisan cerita, tetapi juga menjadi sarana transmisi pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan, pengolahan pangan, hingga nilai-nilai kehidupan yang membentuk identitas budaya Minangkabau. Dengan demikian, lanskap budaya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan alam yang menjadi sumber pengetahuan masyarakat.

Sementara itu, Wahyu Septio Affima mengangkat tema Melawan Sakit: Pengetahuan Lokal Minangkabau tentang Tubuh, Tumbuhan, dan Penyembuhan. Materi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau membangun sistem pengetahuan mengenai kesehatan melalui pengalaman empiris, pemanfaatan tumbuhan obat, serta praktik penyembuhan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan lokal tersebut menjadi bagian penting dari khazanah budaya yang masih relevan untuk dikaji dalam perspektif humaniora.

Tidak hanya dari pihak FIB Universitas Andalas, delegasi mahasiswa Program Studi Arsitektur IIUM juga mempresentasikan kajian mengenai Lenggong Valley, salah satu UNESCO World Heritage Site di Malaysia. Kawasan tersebut dikenal sebagai situs arkeologi penting yang merekam jejak kehidupan manusia purba di Asia Tenggara. Melalui presentasi tersebut, peserta diajak memahami bahwa perencanaan kawasan, pelestarian lanskap, hingga pengembangan pariwisata budaya perlu mempertimbangkan nilai sejarah, arkeologi, dan identitas masyarakat yang melekat pada suatu kawasan.

Diskusi berlangsung dinamis dengan antusiasme peserta dari kedua institusi yang saling bertukar pandangan mengenai pelestarian warisan budaya, adaptasi arsitektur tradisional terhadap perkembangan zaman, serta pentingnya pendekatan multidisiplin dalam memahami hubungan antara manusia, ruang, dan budaya. Forum ini memperlihatkan bahwa kajian arsitektur tidak dapat dipisahkan dari sejarah, arkeologi, antropologi, linguistik, dan berbagai cabang ilmu humaniora lainnya.

Kegiatan diakhiri dengan serah terima Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan International Islamic University Malaysia (IIUM) sebagai wujud komitmen kedua institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik, pengembangan tridarma perguruan tinggi, serta pertukaran pengetahuan di bidang arsitektur, budaya, dan humaniora. 

Gambar 2. Serah terima Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dengan International Islamic University Malaysia (IIUM)

Melalui kunjungan akademik ini, FIB Universitas Andalas dan International Islamic University Malaysia tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam merawat serta mengembangkan warisan budaya sebagai fondasi peradaban. Pertemuan ini diharapkan menjadi awal bagi lahirnya berbagai bentuk kerja sama akademik yang memberikan kontribusi 

FIB Unand Bekali Civitas Academica Strategi Menembus Jurnal Bereputasi Scopus

Gambar 1. Dr. Arina Isti'anah dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebagai narasumber utama dalam kegiatan Pelatihan Scopus di FIB Unand

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas terus berkomitmen meningkatkan kualitas publikasi ilmiah melalui penyelenggaraan Pelatihan Penulisan Artikel Bereputasi Internasional (Scopus) yang digelar pada Selasa, 14 Juli 29026 di Ruang Sidang Dekanat Lantai 2 FIB Universitas Andalas. Mengusung tema "Menulis Berkualitas, Publikasi Mendunia", kegiatan ini menghadirkan Dr. Arina Isti'anah dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebagai narasumber utama.

Pelatihan diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa Program Magister (S-2), dan mahasiswa Program Doktor (S-3) di lingkungan FIB Universitas Andalas. Sebelum mengikuti pelatihan, seluruh peserta diwajibkan membawa sekaligus mengunggah draf artikel ilmiah sebagai bahan pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, menyampaikan bahwa publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi internasional merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatkan mutu akademik sekaligus memperluas kontribusi hasil penelitian ke tingkat global. "Publikasi bereputasi internasional tidak hanya menjadi ukuran capaian akademik, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarluaskan hasil penelitian sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, FIB Universitas Andalas terus menghadirkan berbagai program yang mendukung peningkatan kompetensi civitas academica dalam publikasi ilmiah," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Pada sesi utama, Dr. Arina Isti'anah membagikan pengalaman akademiknya selama menempuh studi doktor hingga berhasil menerbitkan belasan artikel pada jurnal bereputasi internasional yang terindeks Scopus. Berbekal pengalaman tersebut, ia mengajak peserta memahami bahwa publikasi internasional merupakan proses yang dapat dipelajari melalui strategi yang tepat dan latihan yang berkelanjutan.

Dr. Arina juga meluruskan anggapan bahwa seluruh jurnal Scopus selalu mengenakan biaya publikasi. Menurutnya, banyak jurnal bereputasi yang dapat diakses tanpa article processing charge (APC), di samping jurnal yang memang menerapkan biaya sesuai dengan kebijakan penerbit. "Publikasi Scopus tidak selalu identik dengan biaya yang mahal. Banyak jurnal bereputasi yang dapat diakses secara gratis. Yang paling menentukan adalah kualitas artikel, kebaruan penelitian, ketepatan memilih jurnal, dan kemampuan penulis memahami proses publikasi ilmiah," jelas Dr. Arina.

Selama pelatihan, peserta memperoleh pembahasan secara komprehensif mengenai publikasi ilmiah internasional. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan indeksasi Scopus dan karakteristik jurnal bereputasi, strategi menentukan jurnal yang sesuai dengan topik penelitian, teknik menyusun artikel berdasarkan standar internasional, penyusunan judul, abstrak, dan kata kunci yang efektif, serta kiat meningkatkan peluang artikel diterima oleh editor jurnal.

Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai etika publikasi ilmiah, pengelolaan sitasi menggunakan aplikasi manajemen referensi, strategi menghindari predatory journal, hingga cara merespons komentar editor dan reviewer secara profesional.

Kegiatan tidak hanya berlangsung dalam bentuk penyampaian materi, tetapi juga diisi dengan sesi konsultasi dan telaah terhadap draf artikel yang telah disiapkan peserta. Pada sesi ini, peserta memperoleh masukan secara langsung mengenai substansi penelitian, struktur penulisan, penggunaan bahasa akademik, serta kesesuaian artikel dengan jurnal yang dituju.

Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan interaktif. Berbagai pertanyaan muncul dari peserta terkait pengalaman publikasi, teknik meningkatkan kualitas artikel, hingga strategi menghadapi proses peer review yang sering menjadi tantangan bagi penulis.

Melalui kegiatan ini, FIB Universitas Andalas berharap semakin banyak dosen dan mahasiswa yang mampu menghasilkan publikasi ilmiah pada jurnal bereputasi internasional. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan rekam jejak akademik civitas academica, melainkan juga memperkuat kontribusi FIB Universitas Andalas dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional. 

Gambar 2. Dr. Arina Isti'anah bersama Dekan FIB Unand serta seluruh peserta Pelatihan Scopus yang diadakan di ruang sidang FIB Unand

Semiloka Kajian Budaya FIB Unand Angkat Peran Perempuan dalam Lanskap Intelektual Sumatera Barat

Gambar 1. Moderator dan narasumber kegiatan Semiloka S-2 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Program Studi Magister (S-2) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menyelenggarakan Semiloka Kajian Budaya bertajuk "Lanskap Intelektual dan Peran Perempuan Sumatera Barat dalam Dunia Penerbitan" pada Rabu 8 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri untuk mendiskusikan perkembangan lanskap intelektual Sumatera Barat, sejarah gerakan perempuan Minangkabau, serta kontribusi perempuan dalam dunia penerbitan dan pembangunan bangsa.

Semiloka ini merupakan inisiatif Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Unand sebagai ruang dialektika akademik yang mempertemukan mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemerhati kajian budaya dalam membahas dinamika media, sejarah intelektual, serta peran perempuan melalui perspektif budaya yang lebih inklusif. Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melahirkan gagasan baru sekaligus memperkuat metodologi penelitian di bidang kajian budaya.

Ketua Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas, Sudarmoko, Ph.D., menyampaikan bahwa tema semiloka dipilih karena dunia penerbitan di Sumatera Barat memiliki posisi penting dalam perkembangan pemikiran, pendidikan, hingga pembentukan ruang publik intelektual sejak awal abad ke-20. "Sumatera Barat memiliki tradisi intelektual yang kuat. Melalui semiloka ini kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membaca sejarah melalui teks, tetapi juga memahami bagaimana perempuan berkontribusi dalam membangun tradisi intelektual, pendidikan, dan ruang publik di Minangkabau," ujarnya.

Semiloka menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Prof. Pramono, Ph.D. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas membuka diskusi melalui paparan bertajuk "Lanskap Intelektual Sumatera Barat: Penerbitan, Institusi Pendidikan, dan Penyebaran Pengetahuan." Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perubahan besar di Minangkabau pada awal abad ke-20 tidak hanya ditandai oleh pembaruan pendidikan Islam, tetapi juga oleh berkembangnya budaya penerbitan yang melahirkan ruang publik baru bagi penyebaran ilmu pengetahuan dan gagasan.

Menurut Prof. Pramono, sosok Inyiak Rasul menjadi figur penting dalam transformasi tersebut. Ia tidak hanya membangun sistem pendidikan modern, tetapi juga memperluas penyebaran ilmu melalui penerbitan buku, risalah, surat kabar, dan majalah sehingga gagasan keagamaan dan intelektual dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pergeseran dari tradisi surau menuju madrasah serta dari otoritas guru menuju otoritas teks menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah intelektual Sumatera Barat. "Transformasi intelektual bukan sekadar perubahan lembaga pendidikan, melainkan perubahan cara masyarakat memproduksi, menyebarkan, dan memperdebatkan pengetahuan. Budaya penerbitan telah melahirkan ruang publik yang memperkaya perkembangan pemikiran di Sumatera Barat," jelas Prof. Pramono.

Perspektif internasional disampaikan oleh Annechien Selimi-ten Brinke dari SOAS University of London melalui presentasinya mengenai agensi politik perempuan Minangkabau, perubahan sosial, dan pembangunan bangsa pada masa kolonial akhir hingga Revolusi Nasional. Penelitiannya menunjukkan bahwa pengalaman perempuan Minangkabau memberikan perspektif baru dalam memahami sejarah perjuangan anti-kolonial, perkembangan feminisme, serta lahirnya jaringan perempuan yang berperan dalam perubahan sosial di Indonesia.

Annechien menjelaskan bahwa organisasi perempuan, media cetak, dan jaringan intelektual yang dibangun perempuan Minangkabau telah menjadi bagian penting dalam proses pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Kajian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan aktor utama yang turut membentuk arah perubahan masyarakat.

Sementara itu, narasumber ketiga, Devy Kurnia Alamsyah dari Universitas Negeri Padang dan ISI Padangpanjang mengangkat tema "Sjarifah Nawawi dan Gerakan Perempuan: Dari Historiografi ke Historiophoty." Melalui kajian tersebut, Devy mengajak peserta melihat kembali kontribusi tokoh perempuan Minangkabau yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam historiografi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa Sjarifah Nawawi merupakan salah satu tokoh penting gerakan perempuan Sumatera Barat yang berperan dalam modernisasi organisasi perempuan, penguatan advokasi pendidikan, penyusunan gagasan organisasi perempuan, serta membangun jaringan gerakan perempuan antara Sumatera dan Jawa. Kajian ini juga memperkenalkan pendekatan historiophoty, yaitu penyajian sejarah melalui media visual seperti gambar dan film, sebagai pelengkap historiografi yang selama ini lebih banyak mengandalkan sumber tertulis. "Sejarah perempuan tidak boleh berhenti pada narasi yang ditulis. Melalui historiophoty, kita dapat menghadirkan kembali tokoh-tokoh perempuan seperti Sjarifah Nawawi agar lebih dekat dengan masyarakat dan generasi muda," ungkap Devy.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa, dosen, dan peserta yang hadir. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari dinamika penerbitan perempuan pada awal abad ke-20, hubungan antara adat dan modernitas, hingga peluang pemanfaatan media visual sebagai metode baru dalam penelitian sejarah dan kajian budaya.

Melalui penyelenggaraan Semiloka Kajian Budaya ini, Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang akademik yang kritis, inklusif, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat jejaring akademik, mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru, serta memperkaya khazanah kajian budaya, sejarah intelektual, dan studi perempuan, khususnya di Sumatera Barat.

 

FIB Unand Perkuat Kolaborasi Nasional pada Konsorsium P4H 2026, Bahas LAMHUM hingga Internasionalisasi Humaniora

Gambar 1. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama Wakil Dekan I, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D. menghadiri Konsorsium P4H di Semarang

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat mutu pendidikan tinggi humaniora melalui keikutsertaannya pada Pertemuan Tahunan Perkumpulan Penyelenggara Pendidikan dan Pengajaran Humaniora (P4H) Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 8–11 Juli 2026 di Hotel Aruss, Semarang. Pertemuan yang tahun ini dipanitiai oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) tersebut menjadi forum strategis yang mempertemukan 19 Fakultas Ilmu Budaya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yang diwakili oleh para dekan dan wakil dekan bidang akademik.

Sejumlah fakultas yang hadir dalam konsorsium ini di antaranya berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Brawijaya, Universitas Halu Oleo, Universitas Andalas (Unand), Universitas Jambi (Unja), serta berbagai perguruan tinggi lainnya yang tergabung dalam P4H.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta mengikuti serangkaian agenda yang mencakup rapat organisasi P4H, pembahasan kebijakan strategis pendidikan humaniora, penguatan kerja sama antaranggota, hingga penyusunan berbagai program kolaboratif di tingkat nasional. Dalam pelaksanaannya, forum dibagi menjadi dua kelompok diskusi, yakni forum dekan dan forum wakil dekan bidang akademik, sehingga pembahasan dapat berlangsung lebih fokus sesuai bidang tugas masing-masing.

Salah satu isu yang menjadi perhatian utama dalam konsorsium tahun ini adalah perkembangan Lembaga Akreditasi Mandiri Humaniora (LAMHUM). Dalam forum tersebut dibahas berbagai perkembangan mengenai lembaga yang telah lama dibentuk tersebut, namun hingga kini belum mulai menjalankan proses akreditasi. Seluruh program studi pada Fakultas Ilmu Budaya di Indonesia direncanakan akan menjalani proses akreditasi melalui LAMHUM sebagai lembaga akreditasi mandiri yang secara khusus menangani bidang humaniora.

Selain membahas akreditasi, konsorsium juga menyepakati berbagai langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi akademik antaranggota P4H. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pengembangan Credit Earning (CE), yaitu skema pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah di perguruan tinggi mitra dan memperoleh pengakuan kredit akademik.

Dalam pembahasan tersebut, FIB Universitas Andalas memperoleh apresiasi karena menjadi salah satu fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak yang mengikuti program Credit Earning ke berbagai perguruan tinggi mitra, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan Universitas Andalas melalui Bidang Akademik Rektorat yang memberikan pendanaan bagi mahasiswa untuk mengikuti program tersebut.

Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., mengatakan bahwa keikutsertaan FIB Unand dalam konsorsium ini merupakan bagian dari komitmen fakultas untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperluas jejaring kerja sama nasional. "Forum P4H menjadi ruang strategis bagi Fakultas Ilmu Budaya untuk menyatukan visi dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan tinggi humaniora. Melalui forum ini kami bersama-sama merumuskan langkah penguatan mutu akademik, mempersiapkan implementasi LAMHUM, serta memperluas berbagai program kolaboratif seperti Credit Earning dan Team Teaching. FIB Universitas Andalas akan terus mengambil peran aktif dalam setiap kebijakan yang mendorong kemajuan pendidikan humaniora di Indonesia," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Program lain yang turut menjadi pembahasan ialah Team Teaching, yakni skema pembelajaran yang memungkinkan dosen mengajar mata kuliah di Fakultas Ilmu Budaya perguruan tinggi lain sebagai dosen tamu. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas pertukaran keilmuan antarperguruan tinggi, sekaligus mempererat jejaring akademik di lingkungan P4H.

Tidak hanya itu, seluruh anggota konsorsium juga menyepakati penguatan kerja sama melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) secara bersama-sama. Kesepakatan tersebut menjadi landasan pelaksanaan berbagai program kolaboratif, mulai dari mobilitas mahasiswa, pertukaran dosen, penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik lainnya.

Dalam sesi pembahasan policy brief, peserta juga merumuskan sejumlah agenda strategis P4H ke depan. Di antaranya adalah penguatan Pekan Eksibisi Mahasiswa Humaniora (PEMHUM) sebagai wadah prestasi mahasiswa bidang humaniora yang diharapkan memperoleh rekognisi nasional, pembentukan International Conference of Humanity Scholars (ICoHS) sebagai konferensi internasional tahunan P4H, serta penerbitan International Journal on Humanity Sciences (IJoHS) sebagai media publikasi ilmiah bereputasi internasional bagi civitas academica bidang humaniora.

Wakil Dekan Bidang Akademik FIB Universitas Andalas yang turut mengikuti forum tersebut menambahkan bahwa berbagai program yang dirancang dalam konsorsium akan memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun dosen. "Kolaborasi antar-Fakultas Ilmu Budaya tidak lagi sebatas penandatanganan kerja sama, tetapi sudah mengarah pada implementasi nyata melalui Credit Earning, Team Teaching, penelitian bersama, hingga internasionalisasi. Ini merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas lulusan dan daya saing institusi," ungkapnya.

Melalui partisipasi aktif dalam Konsorsium P4H Tahun 2026, FIB Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari penguatan pendidikan tinggi humaniora di Indonesia. Berbagai kesepakatan yang dihasilkan dalam forum ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan mutu akademik, memperluas jejaring kolaborasi nasional dan internasional, serta mempersiapkan Fakultas Ilmu Budaya menghadapi berbagai tantangan pengembangan pendidikan tinggi pada masa mendatang.

Gambar 2. Foto bersama dalam rangka Konsorsium P4H di Semarang.

FIB Unand Melepas Tiga Insan Civitas Terbaik ke Masa Purnabakti 

Gambar 1. Perpisahan dan purnabakti Drs. Rumbardi, M.Sc., Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dan Bapak Basyaruddin

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menggelar acara Purnabakti sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian tiga civitas academica yang telah menuntaskan masa tugasnya, yakni Drs. Rumbardi, M.Sc., dosen Program Studi Sastra Inggris, Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dosen Program Studi Sejarah, serta Basyaruddin, Tenaga Kependidikan Pengadministrasi Akademik. Kegiatan bertajuk "Merayakan Pengabdian, Menghormati Keteladanan" tersebut berlangsung di Ruang Sidang FIB Universitas Andalas pada Rabu, 15 Juli 2026.

Acara dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., didampingi Wakil Dekan I, Manajer Bidang II, para Ketua Departemen, Ketua Program Studi, Kepala Kantor, Dharma Wanita, Unit Sosial, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh civitas academica FIB Universitas Andalas. Kehadiran berbagai unsur keluarga besar fakultas tersebut menjadi wujud penghormatan atas perjalanan panjang pengabdian ketiga insan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan FIB Unand.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FIB Unand, dilanjutkan sambutan dari Dharma Wanita, Unit Sosial, Ketua Program Studi Sastra Inggris, Ketua Program Studi Sejarah, serta Kepala Kantor FIB Universitas Andalas. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video perjalanan pengabdian masing-masing purnabakti yang menggambarkan kiprah, dedikasi, dan jejak pengabdian mereka selama bertahun-tahun di lingkungan FIB Unand. Momen tersebut diikuti dengan penyampaian pesan dan kesan dari Drs. Rumbardi, M.Sc., Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dan Basyaruddin yang berlangsung penuh haru. Sebagai bentuk apresiasi, fakultas menyerahkan cenderamata kepada ketiga purnabakti, sebelum seluruh peserta menutup kegiatan dengan foto bersama dan ramah tamah.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan bahwa purnabakti bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan penanda lahirnya warisan keteladanan yang akan terus hidup di lingkungan fakultas. "Hari ini kita tidak hanya melepas masa tugas, tetapi juga memberikan penghormatan kepada keteladanan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Dedikasi Bapak-Bapak akan selalu menjadi bagian dari sejarah dan inspirasi bagi generasi penerus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas."

Mewakili para purnabakti, Drs. Rumbardi, M.Sc. mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilaluinya bersama keluarga besar FIB Universitas Andalas. "FIB bukan sekadar tempat bekerja, melainkan telah menjadi rumah yang menghadirkan begitu banyak kenangan, persahabatan, dan pembelajaran hidup. Terima kasih atas kebersamaan yang selama ini terjalin. Semoga FIB terus berkembang dan melahirkan generasi terbaik."

Sementara itu, Kepala Kantor FIB Universitas Andalas, Dafruddin, S.Pt., M.M., menyampaikan bahwa dedikasi para purnabakti telah meninggalkan teladan yang akan terus dikenang oleh seluruh sivitas akademika. "Pengabdian yang tulus tidak pernah benar-benar berakhir. Nilai-nilai kerja keras, integritas, dan loyalitas yang telah diwariskan akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi kami semua dalam melanjutkan perjalanan FIB Universitas Andalas."

Acara purnabakti ini menjadi momentum refleksi bahwa kemajuan sebuah institusi tidak hanya dibangun melalui berbagai capaian akademik, tetapi juga melalui dedikasi, loyalitas, serta keteladanan para insan yang telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk pendidikan. FIB Universitas Andalas berharap nilai-nilai tersebut terus diwariskan kepada generasi penerus sehingga semangat pengabdian akan selalu menjadi bagian dari budaya akademik fakultas.

Gambar 2. Foto bersama dalam rangka perpisahan dan purnabakti Drs. Rumbardi, M.Sc., Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dan Bapak Basyaruddin