FIB Unand dan Fakultas Sastra Sanata Dharma Perkuat Kolaborasi Tridarma melalui PKS dan Kuliah Umum

Gambar 1. Penandatanganan Kerja Sama FIB Unand dengan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas memperkuat kerja sama akademik dengan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sekaligus kuliah umum yang disampaikan Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., pada 11 September 2026 di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (Memorandum of Agreement) antara Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma dan FIB Universitas Andalas tentang Program Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi serta Pemberdayaan Sumber Daya Manusia.

Dokumen PKS ditandatangani oleh Dr. Tatang Iskarna, Dekan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, sebagai pihak kesatu, dan Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., Dekan FIB Universitas Andalas, sebagai pihak kedua. Perjanjian tersebut tercatat dengan Nomor 076/Dekan/FS/USD/V/2026 dan Nomor B/85/UN16.07D/HK.10.00/2026.

PKS ini menjadi landasan bagi kedua fakultas untuk mengembangkan kerja sama secara kelembagaan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki masing-masing pihak tanpa mengganggu tugas pokok dan fungsi kelembagaan. Tujuannya adalah saling mendukung sebagai mitra dalam mengembangkan kegiatan dan peran masing-masing berdasarkan prinsip kerja sama yang saling menguntungkan.

Adapun ruang lingkup kerja sama mencakup kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, antara lain seminar, kuliah umum, pelatihan menulis artikel untuk jurnal internasional bereputasi, kolaborasi riset, serta kegiatan lain yang disepakati oleh kedua pihak sesuai kemampuan dan kesanggupan masing-masing.

Kerja sama tersebut melibatkan Program Studi Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Sejarah pada Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Sementara dari FIB Unand, cakupan program studi meliputi Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Minangkabau, Sastra Jepang, Ilmu Sejarah, Arkeologi, S-2 Linguistik, S-2 Susastra, S-2 Kajian Sejarah, S-2 Kajian Budaya, dan S-3 Linguistik.

Dengan cakupan tersebut, kerja sama tidak hanya membuka peluang pada tingkat fakultas, tetapi juga memberikan ruang yang lebih luas bagi program studi untuk mengembangkan kegiatan akademik, penelitian, publikasi, serta kegiatan ilmiah bersama.

Dekan FIB Unand Sampaikan Kuliah Umum di Universitas Sanata Dharma

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., juga menyampaikan kuliah umum di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma dengan tema “It’s Not What You Said. It’s What I Understood: Pragmatics, Miscommunication, and Meaning in the Digital Age.”

Tema tersebut mengangkat persoalan penting dalam komunikasi, khususnya bagaimana sebuah tuturan tidak selalu dipahami sama persis dengan maksud penuturnya. Dalam perspektif pragmatik, makna tidak hanya ditentukan oleh kata-kata yang digunakan, tetapi juga oleh konteks, situasi, pengetahuan bersama, serta bagaimana pendengar atau pembaca menafsirkan pesan.

Gambar 2. Diskusi Interaktif dalam kuliah umum bersama Dekan FIB Unand dengan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan dalam komunikasi digital. Pesan yang disampaikan melalui media sosial, aplikasi percakapan, maupun berbagai platform digital tidak selalu membawa konteks yang lengkap. Akibatnya, sebuah pernyataan dapat dipahami berbeda oleh orang yang berbeda dan berpotensi menimbulkan miskomunikasi.

Melalui kuliah umum tersebut, pembahasan pragmatik ditempatkan dalam konteks komunikasi kontemporer, terutama bagaimana manusia memahami makna di tengah perubahan cara berkomunikasi pada era digital.

“Dalam komunikasi, yang kita maksudkan belum tentu sama dengan yang dipahami orang lain. Karena itu, memahami konteks menjadi penting, terlebih dalam komunikasi digital yang sering kali kehilangan banyak petunjuk nonverbal.”

Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Dr. Tatang Iskarna sebagai Dekan dan Susilawati Endah Peni Adji, M.Hum. sebagai Wakil Dekan. Struktur fakultas juga mencakup program studi Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Sejarah.

Dari FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. hadir bersama Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang I FIB Unand. Kehadiran pimpinan dari kedua fakultas memperlihatkan komitmen untuk menjadikan kerja sama yang telah disepakati sebagai bagian dari penguatan hubungan akademik yang berkelanjutan.

Kerja sama tersebut juga memberikan peluang bagi civitas academica kedua institusi untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring akademik, dan mengembangkan kegiatan bersama yang sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.

Dalam PKS disebutkan bahwa perjanjian tersebut merupakan induk/payung bagi kegiatan kerja sama yang akan dilaksanakan pada setiap bidang dan dapat ditindaklanjuti oleh berbagai unit di lingkungan kedua pihak. Perjanjian berlaku selama lima tahun sejak ditandatangani dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua pihak.

Kesepakatan tersebut juga mengatur mekanisme penyelesaian apabila terjadi perbedaan pendapat, dengan mengutamakan musyawarah dan mufakat. Selain itu, apabila terjadi pergantian pimpinan, PKS tetap berlaku sesuai jangka waktu yang telah disepakati.

Dengan ditandatanganinya PKS tersebut, FIB Unand dan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma memiliki landasan bersama untuk mengembangkan berbagai program akademik dan kelembagaan. Mulai dari seminar dan kuliah umum, pengembangan kemampuan penulisan artikel ilmiah, hingga kolaborasi riset dapat dikembangkan sesuai kebutuhan kedua institusi.

“Kerja sama yang baik bukan hanya tentang menandatangani kesepakatan, melainkan tentang apa yang kemudian kita kerjakan bersama. Kami berharap PKS ini menjadi pintu bagi lebih banyak kegiatan akademik, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia antara FIB Unand dan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma,” ujar Prof. Dr. Ike Revita.

Melalui kerja sama ini, FIB Unand terus memperluas jejaring akademiknya sekaligus membuka ruang bagi pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi yang lebih kolaboratif. Penandatanganan PKS dan kuliah umum ini menjadi langkah awal untuk mempertemukan gagasan, keilmuan, dan pengalaman dua institusi dalam pengembangan pendidikan humaniora di Indonesia.

Gambar 3. Foto bersama pimpinan dan peserta kuliah umum di Universitas Sanata Dharma

FIB Unand Hadirkan Ragam Karya dan Praktik Budaya dalam Festival Literasi Sumbar 2026

Gambar 1. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, S.P. bersama Hj. Harneli Mahyeldi mengunjungi stand FIB Unand

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas turut meramaikan Festival Literasi Sumatera Barat 2026 melalui kehadiran stan fakultas yang menampilkan beragam karya, pameran, praktik budaya, serta informasi akademik dari enam program studi. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat ini berlangsung pada 8–10 September 2026 di Stan 11 Dinas Kearsipan Provinsi Sumatera Barat, pukul 08.00–15.30 WIB.

Kehadiran FIB Unand dalam Festival Literasi Sumbar 2026 menjadi bagian dari upaya fakultas untuk memperkenalkan kekayaan keilmuan humaniora kepada masyarakat secara lebih dekat dan interaktif. Tidak hanya menghadirkan informasi mengenai program studi, stan FIB Unand juga menjadi ruang bagi pengunjung untuk melihat, mencoba, dan berinteraksi langsung dengan berbagai produk pengetahuan dan kebudayaan yang dikembangkan di lingkungan FIB.

Festival Literasi Sumbar 2026 menjadi ruang pertemuan berbagai unsur literasi, kebudayaan, pendidikan, dan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, FIB Unand hadir bersama enam program studi sarjana, yaitu Program Studi Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jepang, Sastra Minangkabau, Ilmu Sejarah, dan Arkeologi. Keenam program studi tersebut secara bergiliran mengisi rangkaian kegiatan stan selama tiga hari.

Beragam kegiatan ditampilkan untuk memperlihatkan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami bahasa, sastra, sejarah, kebudayaan, artefak, serta berbagai bentuk ekspresi budaya.

Dari Sastra hingga Arkeologi, Pengunjung Diajak Berinteraksi

Program Studi Sastra Minangkabau menghadirkan pameran foto Sastra Minangkabau serta praktik menulis Arab Melayu. Kegiatan tersebut memperkenalkan salah satu bentuk warisan literasi dan tradisi tulis yang berkembang dalam perjalanan kebudayaan Minangkabau.

Sementara itu, Program Studi Sastra Jepang menghadirkan sejumlah kegiatan yang memungkinkan pengunjung berinteraksi langsung dengan budaya Jepang, antara lain praktik menulis kanji di totebag, praktik memakai yukata, dan praktik origami.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan bahasa dan budaya Jepang secara lebih dekat. Pengunjung tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga dapat mencoba secara langsung aktivitas yang berkaitan dengan bahasa dan budaya Jepang.

Program Studi Ilmu Sejarah membawa pengunjung menelusuri perjalanan sejarah Kota Padang melalui pameran foto dan arsip sejarah perjalanan Kota Padang, pameran foto kegiatan program studi dan mahasiswa, serta pemutaran video/film sejarah perjalanan Kota Padang.

Kehadiran materi sejarah tersebut memperlihatkan bagaimana arsip, foto, film, dan dokumentasi dapat menjadi medium untuk membaca perubahan sebuah kota sekaligus memahami perjalanan masyarakat dan kebudayaannya.

Sementara itu, Program Studi Arkeologi menghadirkan pengalaman literasi yang berkaitan dengan peninggalan dan material budaya melalui pameran koleksi mata uang, pecahan keramik, dan gerabah kuno, serta praktik menulis aksara Sumatera Kuno.

Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal arkeologi tidak hanya sebagai ilmu yang mempelajari masa lalu, tetapi juga sebagai bidang yang berhubungan dengan pengetahuan, pelestarian, dokumentasi, dan pemaknaan terhadap warisan budaya.

Program Studi Sastra Indonesia turut memperkenalkan kekayaan kesusastraan melalui pameran buku dan karya sastra, pameran foto kegiatan program studi dan himpunan mahasiswa, serta berbagai informasi mengenai program studi.

Adapun Program Studi Sastra Inggris menghadirkan English Proficiency Test berbasis tautan (link-based) sebagai bentuk aktivitas literasi kebahasaan yang memungkinkan pengunjung mengenal kemampuan bahasa Inggris melalui kegiatan yang sederhana dan interaktif.

Melalui beragam kegiatan tersebut, keenam program studi memperlihatkan karakter keilmuan masing-masing sekaligus menunjukkan luasnya cakupan ilmu yang dikembangkan di FIB Unand.

Gambar 2. Para pengunjung stand FIB Unand membuat lukisan dan nama pada totebag

FIB Unand Hadirkan Literasi yang Dekat dengan Masyarakat

Kehadiran stan FIB Unand juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan program studi kepada calon mahasiswa, mahasiswa, masyarakat, serta pengunjung Festival Literasi Sumbar. Informasi mengenai program studi disajikan berdampingan dengan karya, aktivitas, dan praktik yang menggambarkan proses pembelajaran di lingkungan FIB.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat dapat melihat bahwa pembelajaran di bidang humaniora tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan bahasa, sastra, sejarah, arkeologi, dan kebudayaan dapat diterjemahkan ke dalam karya, penelitian, dokumentasi, praktik, serta berbagai aktivitas yang dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., turut hadir bersama jajaran pimpinan fakultas dalam rangka mendukung partisipasi FIB Unand pada Festival Literasi Sumbar 2026. Jajaran pimpinan FIB Unand yang hadir antara lain Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., dan Manajer Bidang II Adrianis, S.S., M.A. Nama dan jabatan pimpinan tersebut juga tercantum dalam publikasi resmi FIB Unand.

Kehadiran pimpinan tersebut sekaligus memperlihatkan dukungan fakultas terhadap keterlibatan program studi dalam kegiatan literasi dan kebudayaan di tingkat daerah.

Gambar 3. Kehadiran Dekan, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. beserta jajaran pimpinan FIB Unand

Selain pimpinan fakultas, kegiatan juga melibatkan para ketua program studi, dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan dari enam program studi. Berdasarkan informasi resmi FIB Unand, Dr. Ronidin, S.S., M.A. merupakan Ketua Program Studi Sastra Indonesia; Novalinda, S.S., M.Hum. Ketua Program Studi Sastra Inggris; Yerri Satria Putra, S.S., M.A. Ketua Program Studi Sastra Minangkabau; Dr. Rima Devi, S.S., M.Si. Ketua Program Studi Sastra Jepang; Dr. Zulqaiyyim, M.Hum. Ketua Program Studi Ilmu Sejarah; dan untuk Program Studi Arkeologi, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum.

Kunjungan Gubernur Sumatera Barat

Pada hari pertama pelaksanaan Festival Literasi Sumbar, stan FIB Unand juga mendapat kunjungan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, S.P. bersama Hj. Harneli Mahyeldi dalam rangkaian pembukaan kegiatan.

Kunjungan tersebut menjadi momentum bagi FIB Unand untuk memperkenalkan secara langsung berbagai aktivitas akademik dan kebudayaan yang ditampilkan melalui stan fakultas.

Selain Gubernur Sumatera Barat dan jajaran pemerintah daerah, stan FIB Unand juga menerima kunjungan dari berbagai kalangan, termasuk unsur Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, mahasiswa Universitas Negeri Padang, serta masyarakat dan pengunjung Festival Literasi Sumbar.

Interaksi tersebut menjadi bagian penting dari kehadiran FIB Unand di tengah masyarakat. Stan tidak hanya menjadi tempat menampilkan karya, tetapi juga menjadi ruang percakapan antara sivitas akademika dengan masyarakat mengenai bahasa, sastra, sejarah, arkeologi, dan kebudayaan.

Lomba Konten Video Meramaikan Festival

Selain pameran dan praktik dari enam program studi, FIB Unand juga mengadakan lomba konten video melalui Instagram Story selama penyelenggaraan Festival Literasi.

Peserta diajak membuat konten video mengenai Festival Literasi, mengunggahnya melalui Instagram Story, serta menandai akun @fibunand. Kompetisi berlangsung selama tiga hari dengan dua pemenang setiap hari, sehingga terdapat enam pemenang selama rangkaian kegiatan.

Setiap pemenang memperoleh hadiah utama berupa pulsa atau saldo sebesar Rp50.000, sekaligus kesempatan mendapatkan berbagai hadiah menarik lainnya yang tersedia di stan FIB Unand.

Kehadiran lomba konten ini menjadi bagian dari upaya FIB Unand memanfaatkan media digital sebagai ruang baru untuk memperkenalkan literasi dan kebudayaan kepada generasi muda.

Gambar 4. Ketua Program Studi, dosen, dan tenaga kependidikan FIB Unand dalam rangkaian acara Festival Literasi Sumatera Barat tahun 2026

Tiga Hari, Enam Program Studi, Satu Ruang Kebudayaan

Selama tiga hari penyelenggaraan, stan FIB Unand mempertemukan berbagai bentuk pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan fakultas. Bahasa, sastra, sejarah, arkeologi, dan kebudayaan hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat melalui buku, foto, arsip, artefak, praktik menulis, praktik seni dan budaya, permainan kreatif, hingga media digital.

Partisipasi tersebut sekaligus memperkuat posisi FIB Unand sebagai bagian dari ekosistem literasi dan kebudayaan di Sumatera Barat. Keikutsertaan dalam Festival Literasi Sumbar bukan sekadar bentuk dukungan terhadap kegiatan daerah, tetapi juga menjadi ruang bagi FIB Unand untuk memperlihatkan bagaimana ilmu-ilmu humaniora dapat hadir dan memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat.

“Literasi tidak hanya dibangun melalui apa yang dibaca, tetapi juga melalui apa yang dipahami, dialami, dan diwariskan. Melalui Festival Literasi ini, FIB Unand ingin memperlihatkan bahwa bahasa, sastra, sejarah, arkeologi, dan kebudayaan memiliki ruang yang luas untuk terus dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat,” ujar Prof. Dr. Ike Revita.  

Kehadiran FIB Unand selama tiga hari di Festival Literasi Sumbar 2026 diharapkan dapat memperluas pengenalan masyarakat terhadap bidang-bidang keilmuan humaniora sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

Seminar Nasional Arkeologi FIB Unand Bahas Masa Depan dan Peluang Arkeologi di Indonesia

Gambar 1. Narasumber offline dan Moderator Seminar Nasional Arkeologi

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas melalui Program Studi Arkeologi menggelar Seminar Nasional bertajuk “Masa Depan Arkeologi dan Tantangan Kurikulum” pada Selasa, 8 September 2026. Kegiatan yang sekaligus menjadi seminar nasional perdana Program Studi Arkeologi FIB Unand ini membahas perkembangan arkeologi, tantangan kurikulum, serta peluang pengembangan bidang arkeologi di Indonesia.

Seminar nasional tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. Kegiatan turut menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Lutfi Yondri, M.Hum., Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang hadir melalui zoom; serta narasumber yang hadir secara langsung, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., Ketua Program Studi S1 Arkeologi Universitas Andalas; dan Drs. Nurmatias, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat.

Selain sivitas akademika FIB Unand, seminar juga dihadiri oleh penggiat arkeologi dan kebudayaan di Sumatera Barat, tokoh-tokoh yang memiliki perhatian terhadap bidang arkeologi dan kebudayaan, serta mahasiswa Program Studi Arkeologi dari berbagai angkatan. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah audiens yang mencapai lebih dari seratus orang dan mendekati dua ratus peserta, baik yang hadir secara langsung maupun mengikuti kegiatan secara daring.

Mengangkat tema “Masa Depan Arkeologi dan Tantangan Kurikulum”, seminar tidak hanya membicarakan perkembangan disiplin arkeologi dari sisi akademik, tetapi juga mengarahkan perhatian pada masa depan profesi, ruang kerja, serta peluang arkeologi untuk berkontribusi dalam pengembangan kebudayaan di Indonesia.

Pembahasan mengenai kurikulum menjadi bagian penting karena perkembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat menuntut pendidikan arkeologi untuk terus beradaptasi. Arkeologi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai bidang yang berkaitan dengan penggalian dan penelitian tinggalan masa lalu, tetapi juga memiliki ruang yang luas dalam pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, pariwisata berbasis budaya, edukasi publik, pengembangan industri kreatif, hingga pemanfaatan teknologi dalam dokumentasi dan kajian warisan budaya.

Sebagai program studi yang relatif baru dan dapat disebut sebagai salah satu “anak bungsu” dalam perkembangan pendidikan arkeologi di Indonesia, Prodi Arkeologi FIB Unand memandang seminar nasional ini sebagai momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat posisi bidang arkeologi di lingkungan akademik dan masyarakat.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Unand menekankan pentingnya membuka wawasan mahasiswa terhadap perkembangan arkeologi sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi berbagai kemungkinan dan kebutuhan di masa mendatang. “Arkeologi tidak hanya berbicara tentang masa lalu tetapi juga berbicara tentang bagaimana kita memahami warisan budaya, merawatnya, dan menghadirkannya sebagai bagian dari kehidupan masa kini dan masa depan. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki wawasan yang luas dan mampu melihat berbagai peluang yang dapat dikembangkan melalui ilmu arkeologi.”

Menurutnya, keberadaan Program Studi Arkeologi di FIB Unand merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam mengembangkan ilmu-ilmu humaniora yang memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan dan kehidupan masyarakat. “Sebagai program studi yang masih relatif muda, Arkeologi FIB Unand memiliki ruang yang besar untuk tumbuh. Seminar nasional ini menjadi salah satu langkah untuk memperluas jejaring, mempertemukan akademisi dan praktisi, sekaligus membuka wawasan mahasiswa mengenai masa depan arkeologi.” Ungkap Prof. Dr. Ike Revita.

Sementara itu, kehadiran narasumber dari BRIN dan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat memberikan perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara pendidikan arkeologi, penelitian, pelestarian, dan kebutuhan di lapangan. Diskusi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa lulusan arkeologi memiliki peluang untuk berkiprah pada berbagai sektor yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, kebudayaan, pelestarian warisan, dan pengelolaan sumber daya budaya.

Ketua Program Studi S1 Arkeologi FIB Unand, Prof. Dr. Herwandi, M.Hum., turut menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya memperkuat pembahasan mengenai arah pengembangan pendidikan arkeologi di tingkat program studi, khususnya dalam menghadapi perubahan kebutuhan keilmuan dan dunia kerja.

Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dengan para akademisi, peneliti, praktisi, dan pemerhati kebudayaan. Interaksi tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif mahasiswa sekaligus membangun jejaring yang mendukung perkembangan Program Studi Arkeologi FIB Unand.

Seminar nasional perdana ini menjadi langkah awal bagi Prodi Arkeologi FIB Unand untuk terus membangun tradisi akademik, memperluas kolaborasi, dan menghadirkan pembahasan arkeologi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Lebih dari sekadar membicarakan masa lalu, seminar ini menegaskan bahwa arkeologi memiliki masa depan yang terbuka luas, terutama ketika ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, pendidikan, dan kebutuhan masyarakat dapat dipertemukan dalam ruang kolaborasi yang lebih luas.

Gambar 2. Foto bersama Dekan FIB Unand, narasumber, dan seluruh peserta seminar

 

FIB Unand Rancang Cultural and Creative Hub sebagai Pengembangan Unit Bisnis Seni dan Budaya

Gambar 1. Wakil Rekotr II Unand, Dr. Hefrizal Handra, M.Soc.Sc. bersama Dekan FIB Unand, Direktur Unit Bisnis Unand dan Ketua Unit Bisnis FIB Unand memimpin jalannya diskusi

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pemetaan Potensi dan Perumusan Arah Pengembangan Unit Usaha Seni dan Budaya pada Sabtu, 5 September 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Unand. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam merumuskan pengembangan FIB Cultural and Creative Hub sebagai konsep unit bisnis yang berbasis pada potensi seni, budaya, dan keilmuan di lingkungan FIB Unand.

FGD dibuka oleh Wakil Rektor II Universitas Andalas, Dr. Hefrizal Handra, M.Soc.Sc., dan dihadiri oleh Dekan FIB Unand Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., Wakil Dekan I Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D., Wakil Dekan II Alex Darmawan, S.S., M.A., Manajer Bidang I Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum., Manajer Bidang II Adrianis, S.S., M.A., serta jajaran ketua departemen, ketua program studi, dan unsur terkait di lingkungan FIB Unand. Dari Universitas Andalas turut hadir unsur Direktorat Pengembangan Unit Usaha dan Bisnis (DPUB).

Berdasarkan undangan resmi, FGD dilaksanakan untuk memetakan potensi unggulan, produk dan layanan potensial, target pengguna, ekosistem pendukung, serta arah dan identitas unit usaha yang akan dikembangkan FIB Unand.

Dalam kegiatan tersebut, tim unit bisnis FIB memaparkan konsep awal FIB Cultural and Creative Hub, meliputi gambaran konsep, fasilitas, program, serta potensi bisnis yang dapat dikembangkan. Selanjutnya, peserta mengikuti diskusi terarah untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan FIB sekaligus merumuskan kebutuhan strategis pendirian unit tersebut.

Pembahasan kemudian diarahkan pada pengembangan fasilitas dan program prioritas. Dalam rundown FGD, sejumlah gagasan yang dipetakan antara lain Medan Nan Balinduang, auditorium, mini cinema, KATA, program bahasa dan pariwisata, penerbitan, museum, galeri, serta database.

Gagasan tersebut menjadi ruang diskusi bagi pimpinan, tim unit bisnis, ketua departemen, dan ketua program studi untuk melihat potensi FIB tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari kekayaan seni, budaya, kreativitas, serta fasilitas yang dapat dikembangkan menjadi layanan yang bernilai bagi masyarakat.

Ketua tim unit bisnis FIB, Donny Eros, S.S., M.A., turut memberikan gagasan mengenai pengembangan potensi seni dan budaya yang menjadi kekuatan FIB. Pembahasan diarahkan antara lain pada pengembangan ruang pertunjukan, museum, serta fasilitas kebudayaan yang dapat menjadi ruang interaksi antara civitas academica, pelaku seni, komunitas, dan masyarakat. “FIB memiliki kekuatan pada seni, budaya, dan pengetahuan yang kita miliki. Karena itu, pengembangan unit bisnis tidak harus selalu berbentuk produk, tetapi dapat diwujudkan melalui ruang dan layanan kebudayaan yang hidup, produktif, dan memberi manfaat bagi masyarakat.”

Sementara itu, Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. menekankan pentingnya mengembangkan unit usaha yang tetap berpijak pada identitas dan kekuatan akademik FIB. “Kita ingin membangun unit usaha yang tumbuh dari kekuatan FIB sendiri. Seni, budaya, bahasa, sejarah, sastra, dan kreativitas tidak hanya bidang keilmuan, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.”

FGD kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai bentuk kelembagaan, tata kelola, dan skema kerja sama, termasuk hubungan antara FIB, DPUB, dan Universitas Andalas serta kemungkinan kerja sama dengan investor, pemerintah, sponsor, dan mitra.

Pada sesi berikutnya, peserta membahas income generating program dan pilot project 2026 untuk menentukan program bisnis yang paling memungkinkan dikembangkan pada tahap awal, termasuk paket layanan, sumber pendapatan, indikator keberhasilan, dan prioritas pelaksanaan.

Rangkaian diskusi ditutup dengan penyepakatan hasil FGD yang mencakup rumusan keputusan, prioritas tindak lanjut, dan penanggung jawab. Salah satu keluaran yang ditargetkan adalah persetujuan prinsip pendirian FIB Cultural and Creative Hub sebagai konsep Unit Bisnis FIB, disertai pemetaan SWOT, daftar fasilitas dan program prioritas, rekomendasi bentuk kelembagaan, skema kerja sama dan pembiayaan, hingga rancangan pilot proyek tahun 2026.

Gambar 2. Foto bersama dengan seluruh peserta diskusi

Melalui FGD ini, FIB Unand menegaskan upaya untuk mengembangkan potensi seni dan budaya secara lebih terarah. Pengembangan unit bisnis diharapkan tidak hanya memperkuat kemandirian institusi, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi karya, kreativitas, pengetahuan, dan kebudayaan untuk hadir di tengah masyarakat.

LPK FIB Unand dan PBHI Sumbar Gelar Diskusi Publik: Membaca Kerusakan Alam Melalui Perspektif Ekokritik Sastra

Gambar 1. Dekan FIb Unand dengan para narasumber Diskusi Publik

PADANG, HUMAS FIB UNAND — Kamis, 3 September 2026

Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas bekerja sama dengan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) wilayah Sumatera Barat dalam menyelenggarakan kegiatan Diskusi Publik bertajuk "Membaca Kerusakan Alam Melalui Sastra: Perspektif Ekokritik dalam Merespons Krisis Lingkungan". Acara yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB bertempat di Ruang Seminar FIB Universitas Andalas dan dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, jurnalis, serta aktivis lingkungan.

Diskusi publik ini digagas sebagai wujud keprihatinan bersama terhadap ancaman krisis ekologis yang kian masif, khususnya di wilayah Sumatera Barat. Pembukaan acara diawali secara formal oleh MC Putri Effendi dan Adeka Gusnanda, Dalam sambutannya  Ketua PBHI Sumatera Barat menyampaikan “jika saat ini hukum dan HAM tidak mampu menjawab pertanyaan tentang kerusakan alam, maka sastra yang akan berbicara, “ucapnya. Acara ini secara resmi dibuka oleh Dekan FIB Universitas Andalas Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. CRP.

Memasuki sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Maryatul Kuptiah, diskusi mempertemukan empat pemateri dengan latar belakang beragam untuk membedah bagaimana krisis lingkungan tidak hanya menjadi persoalan sains dan kebijakan semata, melainkan juga dapat dibaca, direkam, dan dikritik melalui medium karya sastra.

Sesi pemaparan diawali oleh narasumber dari LPK FIB Unand, Mayang Puti Ifanny (Mahasiswi Sastra Indonesia FIB Unand). Mayang menyoroti bagaimana karya sastra bertindak sebagai arsip ekologis dan ingatan kolektif masyarakat. Ia mencermati puisi-puisi Indonesia kontemporer, seperti karya Taufiq Ismail dan Zawawi Imron, yang merekam keindahan alam sekaligus meratapi kepunahannya. Menurutnya, “ketika ekologi terancam, sastrawan memiliki tanggung jawab moril untuk menyuarakan kerusakan alam melalui bahasa estetis yang menyentuh kesadaran pembaca,”tuturnya tegas.

Selanjutnya, Dr. Syafril, M.Si., dosen Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas, memperdalam kajian ekokritik dari kacamata akademis. Beliau menjelaskan bagaimana kerusakan ekologis yang terjadi merupakan hal yang normal dan wajar. Dalam proses terjadinya kerusakan tersebut ada turut campur tangan manusia didalamnya, yang mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Dalam hal ini, kerusakan ekologi dihadapkan dengan relasi dan praktik hegemoni.

Aidil Ichlas, S.S., memberikan perspektif lapangan mengenai bagaimana realitas kerusakan lingkungan. Kondisi saat ini terlihat jelas bahwa sikap pemerintah yang masif terhadap kerusakan lingkungan, berbanding terbalik dengan sikap sastrawan yang mulai melek dengan kerusakan ekologi yang terjadi melalui penciptaan karya sastranya, selaras sudut pandang saudara Iffany dan Aidil. Disambung dengan sudut pandang hukum dan hak asasi manusia, Ridho Alsyukri, S.Hum., “ketika data statistik menyebutkan 'ribuan hektar hutan rusak', ekokritiik lah yang mempertanyakan berapa banyak korban kerusakan alam tersebut, ucapnya. Di sinilah sastra dan jurnalistik naratif masuk untuk memberi 'roh' pada data menampilkan penderitaan manusia, hilangnya tempat tinggal, serta kehancuran ekosistem secara personal dan menyentuh jiwa.

Suasana diskusi berlangsung sangat dinamis saat memasuki sesi tanya jawab. Para peserta dari berbagai latar belakang mengajukan pertanyaan kritis mengenai batas-batas daya ubah sastra terhadap kebijakan publik. Diskusi menghangatkan kesadaran bahwa sastra tidak boleh berhenti pada romantisisme keindahan alam semata, melainkan harus berani menjadi instrumen gugatan sosial yang membongkar praktik-praktik eksploitasi lingkungan.

Kegiatan diskusi publik ini ditutup secara resmi pada pukul 11.50 WIB oleh moderator dan MC. Melalui terselenggaranya acara ini, LPK FIB Unand dan PBHI Sumbar berharap dapat terus memantik daya kritis mahasiswa dan masyarakat luas dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta menumbuhkan karya-karya sastra bernuansa ekologis yang berani bersuara di tengah krisis iklim global.

Gambar 2. Foto bersama pimpinan FIB Unand, narasumber dengan peserta Diskusi Publik

Prodi Sastra Indonesia FIB Unand Pertahankan Sertifikasi ISO 21001:2018

Gambar 1. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum.  bersama auditor ISO 21001: 2018, M.Hatta Adam dan Ketua LPM Unand, Dr. Elly Delfia, S.S, M.Hum.

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali memperkuat komitmennya terhadap penjaminan mutu pendidikan melalui pelaksanaan audit perpanjangan Sertifikasi SNI ISO 21001:2018 pada Program Studi Sastra Indonesia. Kegiatan audit berlangsung pada 2–3 September 2026 di lingkungan FIB Unand dengan melibatkan auditor dari Evodia Global Sertifikasi (EGS), M. Hatta Adam, Auditor ISO 21001:2018.

ISO 21001:2018 merupakan standar sistem manajemen organisasi pendidikan yang berorientasi pada penyelenggaraan layanan pendidikan secara sistematis, terukur, konsisten, dan berkelanjutan. Dalam penerapannya di FIB Unand, standar tersebut tidak hanya berkaitan dengan dokumen administratif, tetapi juga memastikan bahwa sistem manajemen, prosedur pelayanan, fasilitas, pengelolaan arsip, hingga layanan kepada mahasiswa berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan audit ini menyasar Program Studi Sastra Indonesia sebagai unit yang berada di bawah naungan FIB Unand. Oleh karena itu, proses audit turut melihat implementasi sistem manajemen pada tingkat fakultas sebagai bagian dari lingkungan organisasi pendidikan yang menaungi program studi.

Audit dilakukan untuk memastikan keberlanjutan penerapan sistem manajemen mutu sekaligus melihat kesesuaian antara prosedur yang telah ditetapkan dengan pelaksanaannya di lapangan. Berbagai aspek menjadi perhatian, antara lain pengelolaan layanan mahasiswa, prosedur akademik, dokumentasi dan kearsipan, pengelolaan fasilitas, pembaruan data, penerapan SOP, serta pengelolaan risiko.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menegaskan bahwa sertifikasi ISO merupakan bagian dari upaya fakultas membangun budaya mutu yang tidak berhenti pada pemenuhan dokumen, tetapi diwujudkan dalam praktik pelayanan pendidikan sehari-hari. “ISO tidak hanya sekadar sertifikat, tetapi komitmen untuk memastikan bahwa sistem yang kita bangun benar-benar berjalan. Mulai dari pelayanan kepada mahasiswa, pengelolaan administrasi, fasilitas, hingga prosedur akademik harus dilaksanakan secara konsisten dan terus diperbaiki.”

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan sertifikasi menjadi pengingat bagi seluruh civitas academica FIB Unand untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem yang telah berjalan. “Yang paling penting dari proses ini adalah budaya perbaikan berkelanjutan. Kita tidak hanya ingin memenuhi standar pada saat diaudit, tetapi memastikan standar tersebut menjadi bagian dari tata kelola FIB Unand sehari-hari.”

Sementara itu, M. Hatta Adam, selaku Auditor ISO 21001:2018 dari Evodia Global Sertifikasi, menekankan pentingnya konsistensi lembaga dalam menerapkan sistem manajemen pendidikan yang telah dibangun. “Audit ini pada dasarnya melihat konsistensi antara sistem yang telah ditetapkan dengan implementasinya. Ketika sebuah organisasi pendidikan mampu menjaga sistem tersebut berjalan dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan, maka mutu tidak hanya menjadi dokumen, tetapi menjadi bagian dari budaya organisasi.”

Berdasarkan hasil audit, sertifikasi ISO 21001:2018 Program Studi Sastra Indonesia FIB Unand dapat dipertahankan, dengan sejumlah catatan perbaikan yang perlu ditindaklanjuti. Catatan tersebut antara lain berkaitan dengan aspek manajemen risiko dan beberapa bidang dalam pengelolaan sistem manajemen mutu.

Catatan perbaikan tersebut menjadi bagian penting dari mekanisme peningkatan mutu berkelanjutan. FIB Unand akan menindaklanjutinya melalui evaluasi dan penyempurnaan sistem, termasuk pembaruan data, penyesuaian SOP, serta penguatan implementasi prosedur pada berbagai bidang layanan.

Sertifikasi ISO 21001:2018 sendiri bukan hal baru bagi Program Studi Sastra Indonesia FIB Unand. Program Studi Sastra Indonesia sebelumnya telah memperoleh sertifikasi SNI ISO 21001:2018 pada periode sebelumnya.  

Dengan dipertahankannya sertifikasi melalui proses audit ini, FIB Unand menegaskan komitmennya untuk menjadikan mutu, konsistensi, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan sebagai bagian integral dari tata kelola pendidikan. Hal tersebut sekaligus memperkuat upaya FIB Unand dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan mahasiswa dan seluruh pemangku kepentingan.

Penerapan ISO 21001:2018 juga melengkapi berbagai instrumen penjaminan mutu yang diterapkan FIB Unand. Bagi Program Studi Sastra Indonesia, keberlanjutan sertifikasi ini menjadi salah satu bentuk pengakuan atas upaya menjaga sistem tata kelola pendidikan sekaligus momentum untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik dan nonakademik.

Gambar 2. Foto bersama pimpinan FIB Unand dengan auditor ISO 21001:2018