Semiloka Kajian Budaya FIB Unand Angkat Peran Perempuan dalam Lanskap Intelektual Sumatera Barat

Gambar 1. Moderator dan narasumber kegiatan Semiloka S-2 Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Program Studi Magister (S-2) Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menyelenggarakan Semiloka Kajian Budaya bertajuk "Lanskap Intelektual dan Peran Perempuan Sumatera Barat dalam Dunia Penerbitan" pada Rabu 8 Juli 2026 di Ruang Sidang Dekanat FIB Universitas Andalas. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri untuk mendiskusikan perkembangan lanskap intelektual Sumatera Barat, sejarah gerakan perempuan Minangkabau, serta kontribusi perempuan dalam dunia penerbitan dan pembangunan bangsa.

Semiloka ini merupakan inisiatif Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Unand sebagai ruang dialektika akademik yang mempertemukan mahasiswa, dosen, peneliti, dan pemerhati kajian budaya dalam membahas dinamika media, sejarah intelektual, serta peran perempuan melalui perspektif budaya yang lebih inklusif. Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu melahirkan gagasan baru sekaligus memperkuat metodologi penelitian di bidang kajian budaya.

Ketua Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas, Sudarmoko, Ph.D., menyampaikan bahwa tema semiloka dipilih karena dunia penerbitan di Sumatera Barat memiliki posisi penting dalam perkembangan pemikiran, pendidikan, hingga pembentukan ruang publik intelektual sejak awal abad ke-20. "Sumatera Barat memiliki tradisi intelektual yang kuat. Melalui semiloka ini kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membaca sejarah melalui teks, tetapi juga memahami bagaimana perempuan berkontribusi dalam membangun tradisi intelektual, pendidikan, dan ruang publik di Minangkabau," ujarnya.

Semiloka menghadirkan tiga narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Prof. Pramono, Ph.D. dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas membuka diskusi melalui paparan bertajuk "Lanskap Intelektual Sumatera Barat: Penerbitan, Institusi Pendidikan, dan Penyebaran Pengetahuan." Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa perubahan besar di Minangkabau pada awal abad ke-20 tidak hanya ditandai oleh pembaruan pendidikan Islam, tetapi juga oleh berkembangnya budaya penerbitan yang melahirkan ruang publik baru bagi penyebaran ilmu pengetahuan dan gagasan.

Menurut Prof. Pramono, sosok Inyiak Rasul menjadi figur penting dalam transformasi tersebut. Ia tidak hanya membangun sistem pendidikan modern, tetapi juga memperluas penyebaran ilmu melalui penerbitan buku, risalah, surat kabar, dan majalah sehingga gagasan keagamaan dan intelektual dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Pergeseran dari tradisi surau menuju madrasah serta dari otoritas guru menuju otoritas teks menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah intelektual Sumatera Barat. "Transformasi intelektual bukan sekadar perubahan lembaga pendidikan, melainkan perubahan cara masyarakat memproduksi, menyebarkan, dan memperdebatkan pengetahuan. Budaya penerbitan telah melahirkan ruang publik yang memperkaya perkembangan pemikiran di Sumatera Barat," jelas Prof. Pramono.

Perspektif internasional disampaikan oleh Annechien Selimi-ten Brinke dari SOAS University of London melalui presentasinya mengenai agensi politik perempuan Minangkabau, perubahan sosial, dan pembangunan bangsa pada masa kolonial akhir hingga Revolusi Nasional. Penelitiannya menunjukkan bahwa pengalaman perempuan Minangkabau memberikan perspektif baru dalam memahami sejarah perjuangan anti-kolonial, perkembangan feminisme, serta lahirnya jaringan perempuan yang berperan dalam perubahan sosial di Indonesia.

Annechien menjelaskan bahwa organisasi perempuan, media cetak, dan jaringan intelektual yang dibangun perempuan Minangkabau telah menjadi bagian penting dalam proses pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Kajian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan aktor utama yang turut membentuk arah perubahan masyarakat.

Sementara itu, narasumber ketiga, Devy Kurnia Alamsyah dari Universitas Negeri Padang dan ISI Padangpanjang mengangkat tema "Sjarifah Nawawi dan Gerakan Perempuan: Dari Historiografi ke Historiophoty." Melalui kajian tersebut, Devy mengajak peserta melihat kembali kontribusi tokoh perempuan Minangkabau yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam historiografi Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa Sjarifah Nawawi merupakan salah satu tokoh penting gerakan perempuan Sumatera Barat yang berperan dalam modernisasi organisasi perempuan, penguatan advokasi pendidikan, penyusunan gagasan organisasi perempuan, serta membangun jaringan gerakan perempuan antara Sumatera dan Jawa. Kajian ini juga memperkenalkan pendekatan historiophoty, yaitu penyajian sejarah melalui media visual seperti gambar dan film, sebagai pelengkap historiografi yang selama ini lebih banyak mengandalkan sumber tertulis. "Sejarah perempuan tidak boleh berhenti pada narasi yang ditulis. Melalui historiophoty, kita dapat menghadirkan kembali tokoh-tokoh perempuan seperti Sjarifah Nawawi agar lebih dekat dengan masyarakat dan generasi muda," ungkap Devy.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari mahasiswa, dosen, dan peserta yang hadir. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari dinamika penerbitan perempuan pada awal abad ke-20, hubungan antara adat dan modernitas, hingga peluang pemanfaatan media visual sebagai metode baru dalam penelitian sejarah dan kajian budaya.

Melalui penyelenggaraan Semiloka Kajian Budaya ini, Program Studi S-2 Kajian Budaya FIB Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang akademik yang kritis, inklusif, dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini juga diharapkan mampu memperkuat jejaring akademik, mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru, serta memperkaya khazanah kajian budaya, sejarah intelektual, dan studi perempuan, khususnya di Sumatera Barat.

 

FIB Unand Perkuat Kolaborasi Nasional pada Konsorsium P4H 2026, Bahas LAMHUM hingga Internasionalisasi Humaniora

Gambar 1. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama Wakil Dekan I, Zulprianto, S.S., M.A., Ph.D. menghadiri Konsorsium P4H di Semarang

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat mutu pendidikan tinggi humaniora melalui keikutsertaannya pada Pertemuan Tahunan Perkumpulan Penyelenggara Pendidikan dan Pengajaran Humaniora (P4H) Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 8–11 Juli 2026 di Hotel Aruss, Semarang. Pertemuan yang tahun ini dipanitiai oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) tersebut menjadi forum strategis yang mempertemukan 19 Fakultas Ilmu Budaya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yang diwakili oleh para dekan dan wakil dekan bidang akademik.

Sejumlah fakultas yang hadir dalam konsorsium ini di antaranya berasal dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Brawijaya, Universitas Halu Oleo, Universitas Andalas (Unand), Universitas Jambi (Unja), serta berbagai perguruan tinggi lainnya yang tergabung dalam P4H.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta mengikuti serangkaian agenda yang mencakup rapat organisasi P4H, pembahasan kebijakan strategis pendidikan humaniora, penguatan kerja sama antaranggota, hingga penyusunan berbagai program kolaboratif di tingkat nasional. Dalam pelaksanaannya, forum dibagi menjadi dua kelompok diskusi, yakni forum dekan dan forum wakil dekan bidang akademik, sehingga pembahasan dapat berlangsung lebih fokus sesuai bidang tugas masing-masing.

Salah satu isu yang menjadi perhatian utama dalam konsorsium tahun ini adalah perkembangan Lembaga Akreditasi Mandiri Humaniora (LAMHUM). Dalam forum tersebut dibahas berbagai perkembangan mengenai lembaga yang telah lama dibentuk tersebut, namun hingga kini belum mulai menjalankan proses akreditasi. Seluruh program studi pada Fakultas Ilmu Budaya di Indonesia direncanakan akan menjalani proses akreditasi melalui LAMHUM sebagai lembaga akreditasi mandiri yang secara khusus menangani bidang humaniora.

Selain membahas akreditasi, konsorsium juga menyepakati berbagai langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi akademik antaranggota P4H. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pengembangan Credit Earning (CE), yaitu skema pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah di perguruan tinggi mitra dan memperoleh pengakuan kredit akademik.

Dalam pembahasan tersebut, FIB Universitas Andalas memperoleh apresiasi karena menjadi salah satu fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak yang mengikuti program Credit Earning ke berbagai perguruan tinggi mitra, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan Universitas Andalas melalui Bidang Akademik Rektorat yang memberikan pendanaan bagi mahasiswa untuk mengikuti program tersebut.

Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., mengatakan bahwa keikutsertaan FIB Unand dalam konsorsium ini merupakan bagian dari komitmen fakultas untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperluas jejaring kerja sama nasional. "Forum P4H menjadi ruang strategis bagi Fakultas Ilmu Budaya untuk menyatukan visi dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan tinggi humaniora. Melalui forum ini kami bersama-sama merumuskan langkah penguatan mutu akademik, mempersiapkan implementasi LAMHUM, serta memperluas berbagai program kolaboratif seperti Credit Earning dan Team Teaching. FIB Universitas Andalas akan terus mengambil peran aktif dalam setiap kebijakan yang mendorong kemajuan pendidikan humaniora di Indonesia," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Program lain yang turut menjadi pembahasan ialah Team Teaching, yakni skema pembelajaran yang memungkinkan dosen mengajar mata kuliah di Fakultas Ilmu Budaya perguruan tinggi lain sebagai dosen tamu. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas pertukaran keilmuan antarperguruan tinggi, sekaligus mempererat jejaring akademik di lingkungan P4H.

Tidak hanya itu, seluruh anggota konsorsium juga menyepakati penguatan kerja sama melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) secara bersama-sama. Kesepakatan tersebut menjadi landasan pelaksanaan berbagai program kolaboratif, mulai dari mobilitas mahasiswa, pertukaran dosen, penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, hingga pengembangan kurikulum dan kegiatan akademik lainnya.

Dalam sesi pembahasan policy brief, peserta juga merumuskan sejumlah agenda strategis P4H ke depan. Di antaranya adalah penguatan Pekan Eksibisi Mahasiswa Humaniora (PEMHUM) sebagai wadah prestasi mahasiswa bidang humaniora yang diharapkan memperoleh rekognisi nasional, pembentukan International Conference of Humanity Scholars (ICoHS) sebagai konferensi internasional tahunan P4H, serta penerbitan International Journal on Humanity Sciences (IJoHS) sebagai media publikasi ilmiah bereputasi internasional bagi civitas academica bidang humaniora.

Wakil Dekan Bidang Akademik FIB Universitas Andalas yang turut mengikuti forum tersebut menambahkan bahwa berbagai program yang dirancang dalam konsorsium akan memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun dosen. "Kolaborasi antar-Fakultas Ilmu Budaya tidak lagi sebatas penandatanganan kerja sama, tetapi sudah mengarah pada implementasi nyata melalui Credit Earning, Team Teaching, penelitian bersama, hingga internasionalisasi. Ini merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas lulusan dan daya saing institusi," ungkapnya.

Melalui partisipasi aktif dalam Konsorsium P4H Tahun 2026, FIB Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya untuk menjadi bagian dari penguatan pendidikan tinggi humaniora di Indonesia. Berbagai kesepakatan yang dihasilkan dalam forum ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan mutu akademik, memperluas jejaring kolaborasi nasional dan internasional, serta mempersiapkan Fakultas Ilmu Budaya menghadapi berbagai tantangan pengembangan pendidikan tinggi pada masa mendatang.

Gambar 2. Foto bersama dalam rangka Konsorsium P4H di Semarang.

FIB Unand Melepas Tiga Insan Civitas Terbaik ke Masa Purnabakti 

Gambar 1. Perpisahan dan purnabakti Drs. Rumbardi, M.Sc., Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dan Bapak Basyaruddin

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menggelar acara Purnabakti sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian tiga civitas academica yang telah menuntaskan masa tugasnya, yakni Drs. Rumbardi, M.Sc., dosen Program Studi Sastra Inggris, Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dosen Program Studi Sejarah, serta Basyaruddin, Tenaga Kependidikan Pengadministrasi Akademik. Kegiatan bertajuk "Merayakan Pengabdian, Menghormati Keteladanan" tersebut berlangsung di Ruang Sidang FIB Universitas Andalas pada Rabu, 15 Juli 2026.

Acara dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., didampingi Wakil Dekan I, Manajer Bidang II, para Ketua Departemen, Ketua Program Studi, Kepala Kantor, Dharma Wanita, Unit Sosial, dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh civitas academica FIB Universitas Andalas. Kehadiran berbagai unsur keluarga besar fakultas tersebut menjadi wujud penghormatan atas perjalanan panjang pengabdian ketiga insan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan FIB Unand.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Dekan FIB Unand, dilanjutkan sambutan dari Dharma Wanita, Unit Sosial, Ketua Program Studi Sastra Inggris, Ketua Program Studi Sejarah, serta Kepala Kantor FIB Universitas Andalas. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video perjalanan pengabdian masing-masing purnabakti yang menggambarkan kiprah, dedikasi, dan jejak pengabdian mereka selama bertahun-tahun di lingkungan FIB Unand. Momen tersebut diikuti dengan penyampaian pesan dan kesan dari Drs. Rumbardi, M.Sc., Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dan Basyaruddin yang berlangsung penuh haru. Sebagai bentuk apresiasi, fakultas menyerahkan cenderamata kepada ketiga purnabakti, sebelum seluruh peserta menutup kegiatan dengan foto bersama dan ramah tamah.

Dalam sambutannya, Dekan FIB Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan bahwa purnabakti bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan penanda lahirnya warisan keteladanan yang akan terus hidup di lingkungan fakultas. "Hari ini kita tidak hanya melepas masa tugas, tetapi juga memberikan penghormatan kepada keteladanan yang telah dibangun selama puluhan tahun. Dedikasi Bapak-Bapak akan selalu menjadi bagian dari sejarah dan inspirasi bagi generasi penerus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas."

Mewakili para purnabakti, Drs. Rumbardi, M.Sc. mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah dilaluinya bersama keluarga besar FIB Universitas Andalas. "FIB bukan sekadar tempat bekerja, melainkan telah menjadi rumah yang menghadirkan begitu banyak kenangan, persahabatan, dan pembelajaran hidup. Terima kasih atas kebersamaan yang selama ini terjalin. Semoga FIB terus berkembang dan melahirkan generasi terbaik."

Sementara itu, Kepala Kantor FIB Universitas Andalas, Dafruddin, S.Pt., M.M., menyampaikan bahwa dedikasi para purnabakti telah meninggalkan teladan yang akan terus dikenang oleh seluruh sivitas akademika. "Pengabdian yang tulus tidak pernah benar-benar berakhir. Nilai-nilai kerja keras, integritas, dan loyalitas yang telah diwariskan akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi kami semua dalam melanjutkan perjalanan FIB Universitas Andalas."

Acara purnabakti ini menjadi momentum refleksi bahwa kemajuan sebuah institusi tidak hanya dibangun melalui berbagai capaian akademik, tetapi juga melalui dedikasi, loyalitas, serta keteladanan para insan yang telah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk pendidikan. FIB Universitas Andalas berharap nilai-nilai tersebut terus diwariskan kepada generasi penerus sehingga semangat pengabdian akan selalu menjadi bagian dari budaya akademik fakultas.

Gambar 2. Foto bersama dalam rangka perpisahan dan purnabakti Drs. Rumbardi, M.Sc., Drs. Purwo Husodo, M.Hum., dan Bapak Basyaruddin

 

55 Wisudawan FIB Unand Resmi Dikukuhkan pada Wisuda III Universitas Andalas Tahun 2026


Gambar 1. FIB Unand lepas 55 wisudawan pada wisuda III Universitas Andalas tahun 2026

Sebanyak 55 wisudawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas resmi dikukuhkan pada Wisuda III Universitas Andalas Tahun 2026 yang diselenggarakan secara terpusat di Auditorium Universitas Andalas, Minggu, 12 Juli 2026. Wisuda kali ini merupakan bagian dari rangkaian Wisuda III Universitas Andalas yang berlangsung selama dua hari, 11–12 Juli 2026, dengan pelaksanaan wisuda seluruh fakultas dipusatkan di tingkat universitas dan dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt.

Penyelenggaraan wisuda secara terpusat menjadi bentuk penguatan identitas Universitas Andalas sekaligus menghadirkan momen kelulusan yang lebih khidmat. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi wisuda di tingkat fakultas tidak lagi dilaksanakan sehingga seluruh lulusan dikukuhkan langsung oleh Rektor Universitas Andalas.

Pada Wisuda Periode III Tahun 2026, Fakultas Ilmu Budaya meluluskan 55 wisudawan yang berasal dari enam program studi, yakni Magister Linguistik sebanyak 3 orang, Sastra Indonesia 13 orang, Sastra Inggris 15 orang, Sastra Jepang 4 orang, Sastra Minangkabau 12 orang, dan Sejarah 8 orang.

Prestasi akademik FIB Universitas Andalas pada periode ini juga membanggakan. Dua lulusan berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik Universitas, yaitu Reno Novita Sari, M.Li. dari Program Studi Magister Linguistik dengan IPK 3,99 dan masa studi 1 tahun 10 bulan, serta Aditya Prayoga, S.Hum. dari Program Studi Sastra Jepang dengan IPK 3,97 dan masa studi 3 tahun 11 bulan.

Selain prestasi akademik, Fakultas Ilmu Budaya juga memberikan apresiasi kepada sepuluh mahasiswa Bintang Aktivis Kampus (BAK) yang dinilai memiliki dedikasi tinggi dalam kegiatan organisasi dan pengembangan kemahasiswaan. Mereka adalah Rosidatul Arifah, S.Hum. (Ketua Umum LPK Tahun 2025 dan Juara I Lomba Penulisan Lakon Pekan Ilmiah Seni dan Budaya Nasional FIB Universitas Halu Oleo Tahun 2024), Annisa Aulia Amanda, S.Hum. (PJ Pengarsipan Karya Divisi PSDM LPK Tahun 2026), Nabila Haritsa Rahmadi, S.Hum. (Anggota Divisi Teater Komunitas Cermin 2024–2025 dan Anggota EDSA 2024), Tri Hartati Ramadhani, S.Hum. (Anggota Divisi Sosial Masyarakat LMJ Sastra Minangkabau 2024), Rana Aulia Citra, S.Hum. (Anggota Divisi Informasi dan Komunikasi LMJ Sastra Minangkabau 2024), Ulfatmi, S.Hum. (Bendahara Humas FIB), Anggrek Norman, S.Hum. (Anggota Divisi Pengembangan SDM LMJ Sastra Minangkabau 2024), Dwi Felingga Abdi, S.Hum. (Koordinator Randai), Penyka Harani Putri, S.Hum. (Manajer BSTM Periode 2025–2026), dan Asra Sovia, S.Hum. (Anggota Divisi Tari BSTM Tahun 2025).

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., menyampaikan rasa bangga atas capaian seluruh lulusan FIB pada periode ini. Menurutnya, wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. "Hari ini kami melepas 55 lulusan dengan rasa bangga. Gelar akademik yang saudara sandang tidak sekadar pengakuan atas capaian intelektual, tetapi juga amanah untuk terus berkarya, menjaga integritas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan," ujar Prof. Ike Revita, S.S., M.Hum.

Salah seorang lulusan terbaik universitas, Reno Novita Sari, M.Li., mengungkapkan rasa syukur atas pencapaiannya dan berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat memberikan manfaat yang lebih luas. "Prestasi ini merupakan hasil dari doa, dukungan keluarga, dosen, serta lingkungan akademik yang luar biasa di FIB Universitas Andalas. Semoga menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus belajar dan berprestasi," ujarnya.

Sementara itu, Aditya Prayoga, S.Hum., juga menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari konsistensi dan semangat belajar selama menjalani pendidikan di FIB Universitas Andalas. "Menjadi lulusan terbaik bukan tujuan akhir, yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang kami peroleh dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia kerja," katanya.

Melalui Wisuda III Universitas Andalas Tahun 2026, Fakultas Ilmu Budaya kembali menegaskan komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga aktif berorganisasi, adaptif terhadap perubahan, serta siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Keberhasilan para lulusan, baik dalam prestasi akademik maupun aktivitas kemahasiswaan, menjadi cerminan kualitas pendidikan dan pembinaan karakter yang terus dikembangkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas 

Akhiri Program Magang, Mahasiswa Metamedia Perkenalkan Sistem Informasi MyFIB di FIB Unand

Gambar 1. Launching sistem informasi MyFIB oleh mahasiswa magang Universitas Metamedia

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas resmi menutup rangkaian program magang mahasiswa Universitas Metamedia melalui kegiatan Presentasi Hasil Magang yang diselenggarakan pada Senin, 22 Juni 2026 di Ruang Sidang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa magang memperkenalkan Sistem Informasi MyFIB, sebuah sistem berbasis web yang dikembangkan untuk mendukung layanan pemesanan (booking) dan pengelolaan penggunaan ruangan di lingkungan FIB Universitas Andalas.

Kegiatan dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., didampingi jajaran pimpinan fakultas, seluruh ketua departemen, ketua program studi, perwakilan organisasi mahasiswa, serta tenaga kependidikan di lingkungan FIB Universitas Andalas. Dari pihak Universitas Metamedia, hadir Dekan Fakultas Sistem Informasi dan Industri Kreatif, Ir. Muhammad Amrin Lubis, M.Sc.

Program magang ini merupakan implementasi dari kerja sama antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Universitas Metamedia yang telah ditandatangani pada Februari 2026. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Metamedia menjalani program magang selama satu semester di FIB Universitas Andalas dengan fokus mengembangkan sistem informasi yang mendukung transformasi digital layanan akademik dan administrasi fakultas.

Empat mahasiswa yang mengikuti program magang tersebut, yakni Ero Rizki Febridho, Muhammad Ega Dermawan, Nola Mardiansyah Putri, dan Ofika Parsyanda, mempresentasikan Sistem Informasi MyFIB sebagai luaran utama dari program magang mereka.

Sistem Informasi MyFIB merupakan sistem berbasis web yang dirancang untuk mempermudah proses peminjaman dan pemesanan ruangan di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Melalui sistem ini, mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, program studi, departemen, dosen, hingga tenaga kependidikan dapat mengajukan peminjaman ruang secara daring, sehingga seluruh proses menjadi lebih praktis, terintegrasi, dan terdokumentasi dengan baik.

Selain mempermudah proses booking ruangan, Sistem Informasi MyFIB juga memungkinkan pengelolaan jadwal penggunaan ruang menjadi lebih tertata, transparan, dan efisien. Kehadiran sistem ini diharapkan mampu meminimalkan benturan jadwal penggunaan ruangan sekaligus meningkatkan kualitas layanan administrasi di lingkungan FIB Universitas Andalas.

Dalam presentasinya, tim mahasiswa menjelaskan alur penggunaan Sistem Informasi MyFIB mulai dari proses pengajuan peminjaman ruangan, verifikasi oleh administrator, hingga pemantauan jadwal penggunaan ruangan secara real time. Demonstrasi penggunaan sistem juga dilakukan di hadapan peserta sehingga berbagai masukan dari pimpinan fakultas, ketua program studi, organisasi mahasiswa, dan tenaga kependidikan dapat menjadi bahan penyempurnaan sebelum sistem diimplementasikan secara lebih luas.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP., mengapresiasi hasil kerja mahasiswa Universitas Metamedia yang telah memberikan kontribusi nyata selama menjalani program magang di FIB Universitas Andalas. "Program magang tidak hanya menjadi ruang belajar bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang untuk melahirkan solusi nyata bagi institusi. Kehadiran Sistem Informasi MyFIB menunjukkan bahwa kolaborasi antara humaniora dan teknologi mampu menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi sivitas akademika," ujar Prof. Ike Revita.

Menurutnya, Sistem Informasi MyFIB merupakan salah satu langkah penting dalam mendukung transformasi digital di lingkungan fakultas. "Kami berharap Sistem Informasi MyFIB terus dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna sehingga mampu menjadi bagian dari sistem layanan digital yang mendukung efektivitas tata kelola dan pelayanan akademik di Fakultas Ilmu Budaya," tambahnya.

Mewakili tim mahasiswa magang, Muhammad Ega Dermawan mengungkapkan bahwa pengalaman menjalani magang selama satu semester di FIB Universitas Andalas memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan solusi yang benar-benar dibutuhkan oleh pengguna. "Kami sangat bersyukur dapat belajar sekaligus berkarya di FIB Universitas Andalas. Sistem Informasi MyFIB merupakan hasil pembelajaran, kolaborasi, dan pengalaman kami selama magang. Semoga sistem ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh sivitas akademika dan terus dikembangkan pada masa mendatang," ujarnya.

Kegiatan berlangsung dalam suasana interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Berbagai saran yang disampaikan oleh pimpinan fakultas, ketua departemen, ketua program studi, organisasi mahasiswa, dan tenaga kependidikan menjadi masukan berharga untuk penyempurnaan Sistem Informasi MyFIB sebelum diterapkan secara optimal.

Melalui kegiatan ini, FIB Universitas Andalas kembali menegaskan komitmennya dalam membangun layanan akademik yang modern melalui kolaborasi dengan berbagai mitra. Kehadiran Sistem Informasi MyFIB menjadi bukti bahwa program magang tidak hanya memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang berdampak nyata bagi pengembangan layanan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.

Gambar 2. Foto bersama mahasiswa magang Universitas Metamedia dengan pimpinan FIB Universitas Andalas serta pimpinan Fakultas Sistem Informasi dan Industri Kreatif Universitas Metamedia

Dua Dosen FIB Unand Resmi Dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Andalas

Gambar 1. Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. dan Prof. Dr. Silvia Rosa, M.Hum. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali menorehkan capaian akademik yang membanggakan. Dua dosen terbaiknya, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pragmatik dan Prof. Dr. Silvia Rosa, M.Hum. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Susastra, resmi dikukuhkan dalam Rapat Terbuka Senat Akademik Universitas Andalas yang berlangsung di Convention Hall Universitas Andalas, Kampus Limau Manis, Padang, pada Sabtu, 27 Juni 2026. Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt., serta dihadiri Ketua Senat Akademik, Ketua Majelis Wali Amanat, jajaran pimpinan universitas, dekan, guru besar, civias ademica, keluarga, dan tamu undangan.  

Dalam upacara tersebut, Universitas Andalas mengukuhkan sejumlah guru besar dari berbagai fakultas. Di antara para akademisi yang dikukuhkan, perhatian civias ademica Fakultas Ilmu Budaya tertuju pada pengukuhan Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. dan Prof. Dr. Silvia Rosa, M.Hum. Kehadiran dua guru besar baru ini menjadi pencapaian penting yang semakin memperkuat posisi FIB Universitas Andalas sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu humaniora di Indonesia.

Guru Besar merupakan jabatan akademik tertinggi bagi seorang dosen yang diberikan kepada akademisi dengan rekam jejak keilmuan, penelitian, publikasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kontribusi akademik yang diakui secara nasional maupun internasional. Lebih dari sekadar jabatan fungsional, Guru Besar memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, membimbing generasi penerus, serta memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat melalui keilmuannya.

Prosesi pengukuhan diawali dengan pembukaan Rapat Terbuka Senat Akademik Universitas Andalas, dilanjutkan pembacaan surat keputusan, dan riwayat hidup para guru besar. Sebelum prosesi pengukuhan, seluruh guru besar menyampaikan orasi ilmiah sesuai bidang kepakarannya. Setelah itu, Rektor Universitas Andalas mengukuhkan para guru besar yang kemudian dilanjutkan dengan pemasangan kalung guru besar, sambutan rektor, foto bersama, dan ramah tamah.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Dari Tradisi Lisan ke Era Digital: Transformasi Kesantunan Berbahasa dalam Perspektif Pragmatik", Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. mengangkat perubahan praktik kesantunan berbahasa di tengah perkembangan teknologi digital. Melalui perspektif pragmatik, beliau menjelaskan bahwa kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi nilai-nilai kesantunan sebagai identitas budaya tidak boleh ditinggalkan. Kesantunan berbahasa tetap menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi yang beretika, baik di ruang nyata maupun ruang digital.

Sementara itu, Prof. Dr. Silvia Rosa, M.Hum. menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Susastra sebagai Penjaga Ingatan Peradaban: Memahami Manusia, Menjaga Kemanusiaan, dan Menatap Masa Depan." Dalam orasinya, beliau menegaskan bahwa karya sastra tidak hanya produk budaya, tetapi juga ruang penyimpanan nilai-nilai kemanusiaan, sejarah, dan identitas suatu bangsa. Melalui susastra, masyarakat dapat memahami perjalanan peradaban sekaligus membangun masa depan yang lebih berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., menyampaikan rasa syukur atas bertambahnya guru besar di lingkungan FIB Universitas Andalas. "Guru Besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk terus menghasilkan ilmu yang bermanfaat, menginspirasi generasi muda, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Saya berharap capaian ini menjadi motivasi bagi seluruh dosen FIB untuk terus berkarya dan mengembangkan ilmu pengetahuan."

Sementara itu, Prof. Dr. Silvia Rosa, M.Hum. menyampaikan bahwa pengukuhan sebagai Guru Besar merupakan amanah yang harus diwujudkan melalui karya dan dedikasi. "Susastra mengajarkan kita memahami manusia melalui cerita, pengalaman, dan nilai-nilai kehidupan. Sebagai Guru Besar, saya ingin terus menghadirkan ilmu yang tidak hanya berkembang di ruang akademik, tetapi juga memberi makna dan manfaat bagi masyarakat."

Rektor Universitas Andalas, Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM., Akt., dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran para guru besar baru diharapkan semakin memperkuat kapasitas Universitas Andalas sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional yang menghasilkan inovasi, pemikiran, dan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Bagi Fakultas Ilmu Budaya, bertambahnya dua Guru Besar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat budaya akademik, meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mempertegas kontribusi ilmu-ilmu humaniora dalam menjawab tantangan zaman. Kehadiran Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. dan Prof. Dr. Silvia Rosa, M.Hum. sebagai Guru Besar diharapkan semakin memperkaya khazanah keilmuan FIB Universitas Andalas serta menginspirasi lahirnya generasi akademisi yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing global.

Gambar 2. Suasana Pengukuhan Guru Besar Universitas Andalas tahun 2026