Cegah Risiko Kebakaran, FIB Unand Tingkatkan Kesiapsiagaan melalui Sosialisasi APAR

Gambar 1. Sosialisasi APAR bersama Damkar Kota Padang di Fakultas Ilmu Budaya Unand

Upaya meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko kebakaran terus dilakukan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (FIB Unand) melalui sosialisasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang. Kegiatan yang dilaksanakan di lapangan parkir FIB Unand pada Rabu, 30 September 2026 tersebut menjadi agenda rutin tahunan sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanganan awal apabila terjadi kebakaran di lingkungan fakultas.

Sosialisasi dipimpin oleh Bapak Ilham dari Damkar Kota Padang dan berlangsung selama kurang lebih dua jam. Kegiatan diikuti langsung oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. bersama jajaran pimpinan, tenaga kependidikan, dosen, ketua program studi, dan mahasiswa di lingkungan FIB Unand.

Gambar 2. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. mempraktikkan langsung cara menggunakan APAR yang baik dan benar

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai fungsi APAR sebagai alat pemadam api ringan, jenis-jenis kebakaran, dan langkah yang tepat dalam menggunakan APAR ketika menghadapi api pada tahap awal. Sosialisasi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami tindakan yang perlu dilakukan secara cepat dan tepat sebelum kebakaran berkembang lebih luas.

Keterlibatan sivitas akademika dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya membangun kesiapsiagaan bersama di lingkungan fakultas. Pengetahuan mengenai penggunaan APAR diharapkan dapat dimiliki oleh berbagai unsur di FIB Unand sehingga setiap individu memiliki pemahaman dasar mengenai tindakan yang dapat dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat akibat kebakaran.

Pelaksanaan sosialisasi secara rutin setiap tahun juga menjadi salah satu langkah FIB Unand dalam menjaga aspek keselamatan dan keamanan lingkungan kerja serta ruang aktivitas akademik. Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat koordinasi antara FIB Unand dan Damkar Kota Padang dalam memberikan edukasi mengenai pencegahan kebakaran.

Melalui sosialisasi APAR ini, FIB Unand terus mendorong terciptanya lingkungan kampus yang lebih siap menghadapi kondisi darurat. Kesiapsiagaan tersebut dibangun melalui pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran bersama seluruh warga fakultas terhadap pentingnya pencegahan kebakaran.

Bunkasai XIX Sastra Jepang FIB Unand Hadirkan Festival Budaya Jepang Selama Tiga Hari

Gambar 1. Penampilan soran boushi dari Mahasiswa Sastra Jepang FIB Unand

Beragam budaya Jepang hadir dalam Bunkasai XIX yang diselenggarakan Program Studi Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, pada 29 September–1 Oktober 2026 di Auditorium Universitas Andalas. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut menghadirkan berbagai perlombaan, pertunjukan seni, cosplay, dance, talk show, live selling, kuliah umum, serta berbagai stan yang menarik perhatian pelajar dan masyarakat.

Pembukaan Bunkasai XIX dilaksanakan pada Selasa, 29 September 2026 dan dihadiri jajaran pimpinan FIB Unand, dosen, mahasiswa Program Studi Sastra Jepang, serta sejumlah tamu undangan dari Jepang dan berbagai institusi. Pembukaan tersebut secara resmi mewakili Rektor Universitas Andalas dan disampaikan oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP.

Kegiatan turut dihadiri Konjen Jepang Furusawa Ken, perwakilan PERSADA Makino Tomiharu Sensei, Vonny Indah Mutiara, S.P., MEM., Ph.D. dari Shizuoka International School, Kageyama Ikuo Sensei dari Nippon Dental University yang juga merupakan adjunct professor di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas, Ketua Program Studi Sastra Jepang FIB Unand Dr. Rima Devi, S.S., M.Si., para dosen, serta mahasiswa Sastra Jepang.

Gambar 2. Foto bersama pimpinan FIB Unand dengan seluruh tamu undangan yang hadir dalam acara pembukaan Bunkasai ke XIX Sastra Jepang FIB Unand

Rangkaian pembukaan diawali dengan pawai mahasiswa Sastra Jepang dari PKM menuju Auditorium Universitas Andalas. Setibanya di lokasi, acara dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur'an, Tari Pasambahan, penampilan Maika, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dari sejumlah pihak, serta pemotongan pita sebagai tanda dimulainya Bunkasai XIX.

Selama tiga hari penyelenggaraan, Bunkasai XIX menghadirkan berbagai kegiatan yang memperkenalkan bahasa dan budaya Jepang dalam suasana yang interaktif. Berbagai perlombaan digelar bagi peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa, serta sejumlah kegiatan kompetitif lainnya yang menjadi bagian dari festival.

Selain perlombaan, pengunjung dapat menikmati berbagai pertunjukan, seperti dance dan cosplay. Kegiatan juga diisi dengan talk show, live selling, singing, serta kuliah umum yang diselenggarakan secara bergantian sepanjang rangkaian acara.

Suasana festival semakin semarak dengan hadirnya berbagai stan. Pengunjung dapat menemukan photo booth, stan merchandise, makanan, pakaian, permainan, hingga obake atau rumah hantu. Sejumlah mitra juga turut membuka stan, termasuk Bank Indonesia. Kehadiran berbagai stan tersebut memberikan ruang bagi pengunjung untuk berinteraksi dan menikmati suasana festival budaya Jepang secara lebih dekat.

Bunkasai XIX juga mendapat antusiasme dari pelajar SMA se-Sumatera Barat. Selain itu, kegiatan turut dikunjungi mahasiswa dan masyarakat dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat, bahkan dari luar Sumatera Barat. Kehadiran para pengunjung menjadikan Auditorium Universitas Andalas sebagai ruang perjumpaan bagi pelajar, mahasiswa, komunitas, akademisi, dan masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap bahasa dan budaya Jepang.

Pada hari terakhir, Kamis 1 Oktober 2026, rangkaian kegiatan ditutup dengan pengumuman para pemenang perlombaan. Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam Bunkasai XIX adalah pemberian golden ticket kepada empat orang peserta yang berkesempatan untuk diterima di Program Studi Sastra Jepang FIB Unand dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Gambar 3. Empat orang siswa mendapatkan golden ticket untuk bergabung dengan Program Studi Sastra Jepang FIB Unand

Rangkaian Bunkasai XIX kemudian ditutup oleh Manajer Bidang I FIB Unand, Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. Penutupan tersebut sekaligus menandai berakhirnya tiga hari perayaan budaya Jepang yang dikemas melalui kegiatan akademik, kompetisi, seni, hiburan, serta interaksi antarpeserta dan pengunjung.

Melalui Bunkasai XIX, Program Studi Sastra Jepang FIB Unand menghadirkan ruang pembelajaran budaya yang berlangsung di luar kelas. Berbagai kegiatan yang diselenggarakan memberikan kesempatan kepada pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk mengenal bahasa dan budaya Jepang melalui pengalaman yang lebih dekat, interaktif, dan menyenangkan.

Mahasiswa The University of Osaka Jepang Ikuti Summer Course "Sijunjung as a Living Archive" di Sumatera Barat

Gambar 1. Mahasiswa The Osaka University Jepang menampilkan Tari Tradisional Minangkabau pada malam perpisahan di Sijunjung

Program Studi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, menggelar summer course bertema "Sijunjung as a Living Archive: Integrating Manuscripts, Memory, and Cultural Ecology" pada 17–26 September 2026. Kegiatan ini berlangsung di Kota Padang dan Kabupaten Sijunjung, yang diikuti oleh 20 mahasiswa dari The University of Osaka, Jepang.

Selama sepuluh hari, peserta mendapatkan pengalaman langsung mempelajari budaya Minangkabau, perempuan Minangkabau, seni pertunjukan, hingga makanan khas, dengan menghadirkan masyarakat Sijunjung dan mitra kegiatan sebagai narasumber dalam berbagai sesi interaksi dan diskusi.

Tiga hari pertama program difokuskan pada pemahaman mengenai kehidupan perempuan dan agama di tengah masyarakat Minangkabau. Para mahasiswa mengaku kagum dengan penggunaan hijab dan suntiang serta mulai memahami filosofi di balik gerakan kepala penari tradisional yang cenderung minim gerak.

Peserta juga mengaku mengalami beberapa tantangan, terutama dalam penyesuaian diri, seperti menggunakan hijab di tengah cuaca panas serta beradaptasi dengan tingkat kepedasan makanan Padang yang cukup tinggi bagi mereka.

Peserta juga menyoroti sejumlah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia. Salah satunya terkait perlakuan terhadap hewan peliharaan. Jika di Jepang anjing dan kucing lazim dipelihara di dalam rumah, di Sijunjung anjing lebih banyak dipelihara untuk keperluan berburu.

Dalam aspek kuliner, mahasiswa menemukan bahwa masakan Minangkabau kaya akan penggunaan santan serta beras ketan yang digunakan dalam berbagai acara tertentu, seperti pembuatan lemang yang turut mereka praktikkan secara langsung. Mereka juga mempelajari etika makan masyarakat setempat, di antaranya larangan mengambil makanan yang letaknya terlalu jauh, anjuran untuk tidak makan terlalu cepat, serta ketentuan hanya boleh menambah makanan satu kali dengan durasi makan sekitar 20 menit.

Ikan dan rendang disebut sebagai makanan yang paling sering dikonsumsi masyarakat setempat, dengan cita rasa yang didominasi manis, asam, dan pedas. Hal tersebut  berbeda dengan makanan Jepang yang menurut peserta cenderung menggunakan lebih sedikit garam dan rendah protein.

Pada dua hari terakhir, mahasiswa berkesempatan mencoba tarian tradisional Minangkabau secara langsung. Mereka dapat merasakan tradisi budaya melalui tari tradisional yang disebut sebagai pengalaman berharga. Mereka juga mengenal konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) serta memahami eratnya hubungan antara tradisi Minangkabau dan nilai-nilai keagamaan.

Dalam presentasi hasil kegiatan, para mahasiswa menyampaikan kesan mendalam atas sambutan hangat masyarakat setempat serta pengalaman lintas budaya yang mereka dapatkan. Sijunjung bahkan disebut sebagai kota yang sangat indah dan menjadi "kota impian" bagi sebagian peserta.

"Melihat pemandangan dan pengalaman yang tidak bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, berinteraksi dengan senyuman, serta menemukan cara berpikir yang berbeda dengan Jepang," demikian salah satu kesan yang disampaikan peserta.

Program summer course ini menjadi salah satu bentuk pertukaran budaya antara Indonesia dan Jepang sekaligus memperkenalkan naskah, memori kolektif, dan ekologi budaya Minangkabau kepada masyarakat internasional.

Gambar 2. Perpisahan mahasiswa The Osaka University Jepang dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

FIB Unand Gelar Perpisahan Bersama Mahasiswa UKM Usai Dua Bulan Magang di Sumatera Barat

Gambar 1. Foto bersama pimpinan FIB Unand dengan mahasiswa UKM

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas menggelar Penutupan dan Perpisahan Program Magang Mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada Jumat, 18 September 2026 di Ruang Sidang FIB Unand. Setelah menjalani program magang selama kurang lebih dua bulan di sejumlah mitra di Sumatera Barat, mahasiswa UKM menutup rangkaian kegiatan dengan berbagi pengalaman, penampilan, serta kesan dan pesan selama berada di Padang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kerja sama akademik yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia untuk memperoleh pengalaman langsung di lingkungan kerja dan kebudayaan Sumatera Barat. Dalam pelaksanaannya, FIB Unand berperan menghubungkan dan mendampingi program magang yang berlangsung di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sumatera Barat, Museum Adityawarman, dan Classy Media.

Acara yang mengusung semangat “Merajut Pengalaman, Mengukir Kenangan” tersebut dibuka oleh Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. dan dihadiri jajaran pimpinan FIB Unand, termasuk para wakil dekan dan manajer, serta mitra yang selama ini mendampingi para peserta magang.

Turut hadir Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat, Drs. Nurmatias, serta perwakilan dari Classy Media. Kegiatan magang ini menempatkan ketiga mitra sebagai bagian penting dalam perjalanan magang para mahasiswa.

Selama kurang lebih dua bulan, mahasiswa UKM tidak hanya mendapatkan pengalaman di lingkungan akademik, tetapi juga belajar secara langsung dari institusi dan mitra yang bergerak di bidang kebudayaan dan komunikasi.

Pengalaman di BPK Sumatera Barat memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal lebih dekat kerja pelestarian dan pemajuan kebudayaan. Sementara pengalaman di Museum Adityawarman membuka ruang pembelajaran mengenai sejarah, koleksi, dan warisan budaya. Di Classy Media, peserta mendapatkan pengalaman yang berkaitan dengan dunia komunikasi dan bagaimana sebuah informasi serta cerita dikemas agar dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

Hal tersebut juga tercermin dalam susunan acara perpisahan. Setelah sambutan Dekan, peserta mendengarkan pengalaman dan pesan dari BPK Sumatera Barat, kemudian pengalaman dari Museum Adityawarman, dan perspektif dari Classy Media.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. menyampaikan bahwa pengalaman magang merupakan bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa karena memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana pengetahuan yang diperoleh di kampus diterapkan dalam lingkungan profesional dan masyarakat.

“Selama berada di Sumatera Barat, anak-anak kita tidak hanya belajar tentang pekerjaan, tetapi juga belajar memahami masyarakat, budaya, cara berkomunikasi, dan bagaimana sebuah pengetahuan diterapkan dalam kehidupan nyata. Kami berharap pengalaman selama dua bulan ini menjadi bekal yang mereka bawa pulang dan terus mereka kembangkan,” ujar Prof. Dr. Ike Revita.

Menurutnya, perpisahan tersebut bukan semata-mata menandai berakhirnya program, melainkan menjadi momentum untuk menghargai proses yang telah dilalui bersama.

“Perpisahan ini bukan berarti berakhirnya hubungan. Kami berharap pengalaman dan silaturahmi yang sudah terbangun selama program ini justru menjadi awal bagi kerja sama dan kolaborasi berikutnya antara FIB Unand, UKM, dan para mitra,” tambah Prof. Dr. Ike Revita.

Dalam kesempatan tersebut, para mitra juga menyampaikan pengalaman selama mendampingi mahasiswa. BPK Sumatera Barat menjadi salah satu ruang pembelajaran yang memperkenalkan peserta pada kerja pelestarian kebudayaan. Kehadiran Drs. Nurmatias dalam acara tersebut menjadi bagian dari apresiasi terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung.

Sementara itu, pengalaman di Museum Adityawarman mempertemukan mahasiswa dengan berbagai jejak sejarah dan tradisi yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Sumatera Barat. Adapun pengalaman bersama Classy Media memperkenalkan sisi lain dari kerja kebudayaan, yakni bagaimana cerita, informasi, dan pengetahuan dikomunikasikan kepada publik.

Momen perpisahan semakin hangat ketika perwakilan mahasiswa UKM menyampaikan kesan dan pesan setelah menjalani program magang. Sesi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk menceritakan pengalaman yang mereka peroleh selama berada di Sumatera Barat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan lagu dari mahasiswa UKM, pembagian sertifikat, foto bersama, dan makan bersama.

Gambar 2. Pembagian sertifikat penghargaan kepada mahasiswa UKM

Kehadiran penampilan tersebut memberi warna tersendiri dalam acara perpisahan. Setelah dua bulan menjalani rutinitas magang dan berinteraksi dengan berbagai lingkungan kerja, para peserta dapat menutup perjalanan mereka dalam suasana yang lebih akrab dan penuh kebersamaan.

“Kami berharap apa yang mereka peroleh selama berada di sini tidak hanya menjadi pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga menjadi pengetahuan dan keterampilan yang dapat mereka gunakan ketika kembali ke kampus dan melanjutkan perjalanan akademik maupun profesional,” Ujar Attirah, Perwakilan mahasiswa UKM.

Rangkaian acara ditutup oleh Dekan FIB Unand. Dalam penutupan tersebut, FIB Unand menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang telah mendampingi program serta kepada mahasiswa UKM yang telah menjadi bagian dari perjalanan akademik FIB Unand.

Sebagaimana pesan penutup acara, pengalaman yang telah diperoleh diharapkan menjadi bekal bagi para mahasiswa untuk melangkah lebih jauh, sementara perpisahan tidak menjadi akhir dari hubungan yang telah terjalin.

Dua bulan telah dilalui, pengalaman telah dibawa pulang, dan kenangan telah menjadi bagian dari perjalanan. Dari Padang, mahasiswa UKM kembali membawa cerita tentang budaya, kerja, persahabatan, dan pembelajaran yang mereka temukan di Sumatera Barat.

Wisuda Periode IV FIB Unand, 100 Lulusan Dikukuhkan dan Tujuh Mahasiswa Raih Bintang Aktivis Kampus

 

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas mengukuhkan 100 lulusan pada Wisuda Periode IV Tahun 2026 yang dilaksanakan secara terpusat oleh Universitas Andalas pada Sabtu, 19 September 2026. Selain menjadi momentum pengukuhan lulusan, wisuda ini juga menjadi ruang apresiasi bagi lulusan terbaik dan mahasiswa yang aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Wisuda Universitas Andalas tersebut dipimpin oleh Rektor Universitas Andalas dan dihadiri oleh para pimpinan universitas, para dekan, serta pimpinan fakultas di lingkungan Universitas Andalas. Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. turut mendampingi prosesi wisuda bersama jajaran pimpinan fakultas.

Pada Wisuda Periode IV ini, FIB Unand meluluskan 100 wisudawan yang berasal dari delapan program studi. Jumlah tersebut terdiri atas 13 lulusan Program Studi Sejarah, 36 Sastra Indonesia, 29 Sastra Inggris, 5 Sastra Minangkabau, 11 Sastra Jepang, 2 Linguistik, 1 Susastra, dan 3 Kajian Budaya.

Pada periode wisuda ini, FIB Unand memberikan apresiasi kepada dua lulusan terbaik yaitu Yusriman, M.Si. dari Program Studi Magister Kajian Budaya, tercatat sebagai Lulusan Terbaik Universitas dengan Indeks Prestasi 3,99 dan masa studi 1 tahun 11 bulan. Sementara itu, Lathiful Khabir, S.Hum. dari Program Studi Sastra Jepang, tercatat sebagai Lulusan Terbaik Universitas dengan Indeks Prestasi 3,96 dan masa studi 4 tahun.

Pencapaian tersebut menjadi bagian dari catatan penting Wisuda Periode IV FIB Unand, sekaligus menunjukkan capaian akademik yang diraih mahasiswa pada jenjang dan program studi yang berbeda. “Wisuda bukan hanya tentang berakhirnya masa perkuliahan, tetapi tentang membawa ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh selama berada di kampus ke dalam perjalanan berikutnya. Saya berharap apa yang telah dipelajari dapat terus memberi manfaat dan menjadi bekal untuk melangkah ke tahap selanjutnya,” ujar Lathif.

Selain lulusan terbaik, Wisuda Periode IV juga menjadi momentum pemberian apresiasi kepada mahasiswa yang memiliki rekam jejak dalam kegiatan kemahasiswaan melalui penghargaan Bintang Aktivis Kampus.

Sebanyak tujuh mahasiswa FIB Unand tercatat sebagai penerima Bintang Aktivis Kampus pada periode ini.

Pertama, Sindi Rahmawati Putri, S.Hum. dari Program Studi Sastra Indonesia, yang pernah menjabat sebagai Ketua Keputrian FSI FIB Periode 2023/2024.

Kedua, Aidah Salsabil Azizah, S.Hum. dari Program Studi Sastra Indonesia, yang tercatat sebagai Juara II Lomba Penulisan Lakon PISBN 2024 sekaligus Ketua Teater Langkah Periode 2025/2026.

Ketiga, Sarah Salsabila Ismael, S.Hum. dari Program Studi Sastra Inggris, yang merupakan Bendahara Komunitas Cermin FIB Periode 2024/2025.

Keempat, Pandu Aryo, S.Hum. dari Program Studi Sastra Inggris, yang menjabat sebagai Koordinator Divisi PSDM Labor Penulisan Kreatif (LPK) FIB Tahun 2025.

Kelima, Clarisa Resty Aufiani, S.Hum. dari Program Studi Sastra Jepang, yang tercatat sebagai Uni Duta Wisata Kota Padang Tahun 2023 sekaligus Anggota Kewirausahaan NIGAKKAI FIB.

Keenam, Muhammad Sadiq Al Fath, S.Hum. dari Program Studi Sejarah, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum FSI FIB Periode 2023/2024.

Ketujuh, Siti Rubaiah Al Adawiyah, S.Hum. dari Program Studi Sastra Indonesia, yang meraih Bronze Medal National Business Plan Ignite Future Fest 2026 serta pernah menjabat sebagai Sekretaris LPK FIB Periode 2023/2024.

Keberadaan para penerima Bintang Aktivis Kampus tersebut memperlihatkan bahwa proses pendidikan di FIB Unand tidak hanya berlangsung melalui kegiatan akademik, tetapi juga melalui pengalaman organisasi, kreativitas, kepemimpinan, kompetisi, dan pengabdian dalam berbagai ruang kemahasiswaan.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum. menyampaikan apresiasi kepada seluruh lulusan yang telah menyelesaikan proses pendidikan di FIB Unand. Menurutnya, kelulusan bukan sekadar penanda selesainya masa studi, melainkan awal bagi lulusan untuk membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama berada di kampus ke tengah masyarakat. “Hari ini bukan sekadar tentang melepas anak-anak kita setelah menyelesaikan pendidikan. Ada ilmu, pengalaman, dan proses panjang yang mereka bawa dari FIB. Kami berharap semua itu menjadi bekal untuk melangkah ke kehidupan berikutnya dan tetap memberi manfaat di mana pun mereka berada.”

Wisuda Periode IV Tahun 2026 dengan demikian tidak hanya mencatat 100 lulusan FIB Unand yang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga merekam beragam capaian mahasiswa, mulai dari prestasi akademik, aktivitas organisasi, kepemimpinan, kreativitas, hingga keterlibatan dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

Bagi FIB Unand, setiap lulusan membawa cerita dan prosesnya masing-masing. Ada yang menyelesaikan studi dengan capaian akademik tinggi, ada yang tumbuh melalui organisasi dan aktivitas kemahasiswaan, dan ada pula yang mengembangkan diri melalui berbagai kompetisi dan ruang kreativitas.

Selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati FIB Unand. Semoga ilmu yang diperoleh menjadi bekal untuk melangkah lebih jauh, berkarya lebih luas, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Oktavia Ramadhani dan Zaki Latif Raih Juara I dan II Jurnalis Pers Mahasiswa Unand

Gambar 1. Oktavia Ramadhani dan Zaki Latif Raih Juara I dan II Jurnalis Pers Mahasiswa Unand

Dua mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas kembali menorehkan prestasi melalui dunia pers mahasiswa. Oktavia Ramadhani dari Program Studi Sastra Minangkabau dan Zaki Latif Bagia Rahman dari Program Studi Sejarah berhasil meraih Juara I dan Juara II Kategori Jurnalis Pers Mahasiswa di Lingkungan Universitas Andalas.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam Malam Anugerah Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas yang berlangsung pada Senin, 14 September 2026 di Pangeran Beach Hotel, Padang.

Keduanya mengikuti kategori lomba yang sama melalui tulisan dengan isu yang berbeda. Oktavia meraih Juara I melalui artikel berjudul “Reorientasi Riset 70 Tahun Universitas Andalas, Menjaga Akar di Tanah Sendiri”, sedangkan Zaki meraih Juara II melalui artikel “5 Tahun Unand sebagai PTN-BH: Otonomi Besar, Mahasiswa Masih Disuruh Maklum.”

Menggugat Arah Riset di Usia 70 Tahun

Gambar 2. Oktavia Ramadhani menerima piagam penghargaan dari Sekretaris Universitas Andalas

Tulisan Oktavia berangkat dari momentum 70 tahun Universitas Andalas. Ia tidak hanya melihat perjalanan Unand dari sisi pencapaian yang telah diraih, tetapi mengarahkan perhatian pada bagaimana riset Unand seharusnya dikembangkan ke depan.

Dalam tulisannya, Oktavia menyoroti pentingnya riset yang tetap memiliki keterkaitan dengan persoalan masyarakat dan lingkungan di sekitar Universitas Andalas. Menurutnya, perkembangan perguruan tinggi tidak cukup hanya ditandai oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian dapat memberi manfaat dan menjawab kebutuhan nyata di lingkungan tempat perguruan tinggi tersebut berada.

Perspektif tersebut menjadi alasan Oktavia memilih isu riset sebagai pokok tulisannya. “Perjalanan 70 tahun Unand tidak hanya penting dilihat dari pencapaiannya, tetapi juga dari bagaimana arah riset Unand ke depannya dan sejauh mana riset tersebut bisa tetap dekat dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” ungkap Oktavia.

Ketertarikannya terhadap isu-isu di lingkungan kampus juga tidak terlepas dari pengalaman Oktavia sebagai bagian dari UKM Genta Andalas. Selama bergabung dalam pers mahasiswa, ia terlibat dalam penulisan, peliputan, penyuntingan, diskusi redaksi, hingga pengelolaan majalah Genta Andalas.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya dalam melihat isu. Baginya, pers mahasiswa bukan semata-mata aktivitas menulis, melainkan juga proses untuk memahami persoalan secara lebih kritis dan menyampaikan informasi yang relevan bagi mahasiswa.

Gambar 3. Zaki Latif menerima piagam penghargaan dari Sekretaris Universitas Andalas

Sementara itu, Zaki Latif Bagia Rahman mengangkat isu yang lebih kritis mengenai perjalanan Universitas Andalas setelah lima tahun berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).

Melalui artikel “5 Tahun Unand sebagai PTN-BH: Otonomi Besar, Mahasiswa Masih Disuruh Maklum”, Zaki mempertanyakan bagaimana perubahan status tersebut seharusnya berhubungan dengan pengalaman mahasiswa dan penyelenggaraan kehidupan kampus.

Tulisan tersebut berangkat dari kegelisahan Zaki terhadap sejumlah persoalan yang menurut pandangannya masih ditemui di lingkungan kampus. Ia melihat bahwa perubahan status kelembagaan semestinya juga diikuti dengan perhatian terhadap persoalan-persoalan mendasar yang dirasakan oleh mahasiswa.

Bagi Zaki, kritik tersebut bukan dimaksudkan semata-mata untuk menyampaikan ketidakpuasan, melainkan bagian dari fungsi pers mahasiswa untuk mengangkat persoalan, membuka ruang diskusi, dan mendorong evaluasi.

“Menulis bukan sekadar menyampaikan apa yang kita pikirkan, melainkan juga mencatat apa yang perlu diperhatikan. Saya berharap tulisan ini tidak berhenti sebagai sebuah kritik, tetapi dapat menjadi bagian dari percakapan yang mendorong perbaikan,” ungkap Zaki.

Melalui tulisan tersebut, Zaki juga menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan terhadap institusinya melalui karya jurnalistik yang argumentatif.

Prestasi kedua mahasiswa tersebut tidak terlepas dari aktivitas mereka di Genta Andalas. Bagi Oktavia, keterlibatan dalam pers mahasiswa memberikan pengalaman langsung untuk memahami proses jurnalistik sekaligus melatih kepekaan terhadap berbagai isu.

Ia berharap pers mahasiswa di Universitas Andalas dapat terus berkembang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk belajar, menyampaikan gagasan, dan mengawal persoalan yang ada di lingkungan kampus.

“Pers mahasiswa tidak hanya tentang menulis, tetapi juga bagaimana kita bisa melihat suatu isu dengan lebih kritis, melakukan proses jurnalistik dengan baik, dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan mahasiswa,” tambah Oktavia.

Hal serupa menjadi perhatian Zaki. Ia berharap Genta Andalas dapat terus berkembang dan melahirkan lebih banyak mahasiswa yang memiliki minat serta keberanian untuk terlibat dalam dunia jurnalistik. “Saya berharap Genta Andalas semakin maju dan bisa melahirkan lebih banyak jurnalis muda. Semoga semakin banyak mahasiswa yang berani menulis dan menyampaikan gagasan dengan baik,” tambah Zaki.

Dari dua karya tersebut terlihat dua perhatian yang berbeda terhadap kehidupan Universitas Andalas. Oktavia melihat momentum 70 tahun Unand melalui persoalan arah riset dan keterhubungannya dengan masyarakat, sementara Zaki melihat perjalanan Unand sebagai PTN-BH melalui ruang kritik terhadap persoalan kampus.

Keduanya memperlihatkan bahwa pers mahasiswa dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membaca lingkungan akademiknya, mengajukan pertanyaan, dan menghadirkan gagasan melalui tulisan.

Dekan FIB Unand, Prof. Dr. Ike Revita, S.S., M.Hum., CRP, mengapresiasi capaian tersebut. Prestasi Oktavia dan Zaki dinilai menjadi bagian dari proses pengembangan mahasiswa yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berkarya dan berorganisasi. “Kami tentu bangga atas capaian ini. Yang penting bukan hanya penghargaan yang diperoleh, melainkan proses yang mereka jalani. Menulis mengajarkan mahasiswa untuk peka, berpikir kritis, mengolah informasi, dan bertanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan,” ungkap Prof. Dr. Ike Revita.

Ia berharap capaian tersebut dapat mendorong lebih banyak mahasiswa FIB Unand untuk berani berkarya dan memanfaatkan bidang keilmuan yang mereka pelajari untuk membaca berbagai persoalan di sekitarnya. “Apa yang mereka tulis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki cara masing-masing dalam melihat persoalan. Kampus perlu menjadi ruang yang memberi kesempatan bagi gagasan-gagasan tersebut untuk tumbuh,” tambah Prof. Dr. Ike Revita.

Bagi Oktavia, ia berharap Universitas Andalas dapat terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga dekat dengan persoalan masyarakat. Ia berharap riset-riset yang dihasilkan semakin berdampak dan tetap memiliki keterkaitan dengan lingkungan serta daerah di sekitarnya.

Sementara itu, Zaki berharap tulisan yang telah dihasilkan dapat menjadi bahan evaluasi dan bagian dari percakapan yang konstruktif mengenai kehidupan kampus.

Dua mahasiswa FIB Unand, dua tulisan, dan dua sudut pandang. Dari pers mahasiswa, keduanya menunjukkan bahwa menulis dapat menjadi cara untuk membaca kampus secara lebih dekat sekaligus menghadirkan gagasan bagi perubahan.